Tragedi Audrey: Matinya Naluri Keibuan

Perempuan, seharusnya adalah sosok yang lembut, penuh kasih sayang, Mereka adalah ibu dan calon ibu, yang Allah anugerahkan kepada mereka naluri keibuan untuk menjaga kelangsungan generasi. Perempuan, seharusnya bukan sosok pelaku kekerasan yang menghajar lawannya laksana menghajar binatang. Lantas mengapa mereka menjadi sosok-sosok yang beringas? Ke manakah perginya naluri keibuan mereka?


Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews, ANALISIS — Kasus dugaan pengeroyokan oleh sejumlah remaja putri berstatus siswi SMA terhadap korban bernama Audrey, remaja putri status siswi SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), menyita perhatian dunia dalam beberapa hari terakhir ini. Korban dipukul, dijambak, dipiting dan dilempar sandal. Akibatnya Audrey mengalami trauma baik fisik maupun psikis (tribunnews, 12/04/2019).

Kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja putri ini bukanlah kasus pertama. Tahun 2015 lalu,gara-gara tato gambar Hello Kitty yang sama dengan temannya, LA (18), siswi salah satu SMA di Kabupaten Bantul, disekap dan dianiaya oleh 9 temannya, 6 di antaranya perempuan, dengan cara dipukuli serta disundut rokok. Bahkan, kemaluan korban dirusak menggunakan botol bir (Kompas.com, 26/02/2015).

Kasus ini mengingatkan kita pada beberapa kasus kekerasan yang dilakukan geng perempuan, seperti yang terjadi di Tangerang Maret 2017 lalu dengan korban seorang remaja SMA. Di Pekanbaru tahun 2012 lalu, muncul tindak kekerasan dan perampokan yang dilakukan geng Sinchan, geng motor khusus perempuan. Begitu pula di tahun 2012 di Bali ditangkap 5 remaja perempuan geng motor yang menganiaya seorang remaja putri usia 16 tahun dan mengunggahnya ke Youtube (kompas.com, 08/02/2019).

Perempuan, seharusnya adalah sosok yang lembut, penuh kasih sayang, Mereka adalah ibu dan calon ibu, yang Allah anugerahkan kepada mereka naluri keibuan untuk menjaga kelangsungan generasi. Perempuan, seharusnya bukan sosok pelaku kekerasan yang menghajar lawannya laksana menghajar binatang. Lantas mengapa mereka menjadi sosok-sosok yang beringas? Ke manakah perginya naluri keibuan mereka?

Naluri keibuan adalah salah satu bentuk naluri yang Allah berikan kepada setiap perempuan, melekat sebagai sebuah fitrah. Sering kita melihat anak-anak perempuan kecil, menggendong boneka mereka, membuai, membelai dan menciuminya. Namun sebagaimana naluri yang lain, naluri keibuan juga butuh ada rangsangan untuk muncul dan berkembang.

Rangsangan bisa berupa rangsangan internal seperti pemikiran, atau eksternal dari fakta yang terindera (An Nabhani, Nizhamul Ijtima’iyyah fil Islam). Contoh rangsangan internal adalah keinginan menjadi ibu karena besarnya pahala yang akan didapat. Sedangkan contoh rangsangan eksternal adalah fakta kasih sayang yang didapatkan anak dari ibu. Rangsangan semacam ini akan menumbuhkan naluri keibuan seorang perempuan. Dengan demikian, anak perempuan yang disayang oleh ibunya, diperlakukan dengan lembut, penuh kasih, mendapatkan empati dan pengertian, akan mengembangkan dalam dirinya naluri keibuan yang sama.

Sebaliknya jika rangsangan yang muncul adalah kekerasan, ketidakpedulian atau malah tidak ada rangsangan naluri keibuan, naluri tersebut tidak akan berkembang dan akan mati dari diri seorang perempuan.

Dari sisi ini kita bisa melihat bagaimana pentingnya interaksi intensif antara ibu dan anak perempuannya. Namun bagaimana sang ibu akan mampu membentuk naluri tersebut ketika ia sibuk bekerja mengejar karier atau materi? Ia tak sempat memberikan contoh teladan, tak sempat menghidupkan bibit kasih sayang dalam nurani anak. Lahirlah kemudian generasi perempuan tanpa naluri keibuan.

Feminisme, telah menggiring perempuan untuk meninggalkan rumah dan melalaikan fungsi utamanya sebagai seorang ibu. Sama artinya, feminisme telah melakukan pembunuhan massal atas naluri keibuan anak-anak perempuan. Tak heran, jika kemudian muncul perempuan-perempuan yang beringas, tak punya belas kasihan. Terbayangkah bagaimana generasi yang akan mereka lahirkan?[]

%d blogger menyukai ini: