#JusticeForAudrey Mustahil dalam Sistem Sekuler, Sistem Islam Memberi Keadilan

“Menuntut negara hadir pada kasus kekerasan terhadap Audrey ini tidak akan berbuah keadilan selama negara masih berbasis sekuler. Keadilan bagi semua akan terwujud bila negara menerapkan Islam, memberlakukan siatem pendidikan-sosial dan sanksi berdasar Islam”


MuslimahNews.com — Tagar #JusticeForAudrey menjadi trending topic dan pusat perhatian semua kalangan. Dibarengi jutaan orang yang ikut menandatangani petisi atas reaksi kekerasan sampai batas tak manusiawi yang kembali terjadi, kali ini menimpa ABZ, seorang siswi di Pontianak.

Kekejian itu bahkan dilakukan oleh belasan remaja perempuan yang masih berstatus pelajar. Pemicunya sungguh masalah sepele, komentar di media sosial. Yang lebih miris, para pelakunya nampak tak menyesal atas perbuatannya. Itu terlihat dari sikapnya saat diperiksa oleh kepolisian setempat.

Berbagai reaksi muncul sebagai wujud empati menuntut keadilan, pun Iffah Ainur Rochmah kepada MNews mengatakan bahwa semua pihak sadar ini perilaku tidak pantas bahkan kejahatan yang keji. Tapi publik kini juga mempertanyakan, bisakah ditegakkan keadilan atas para pelaku dan korban?

“Bila keadilan dimaknai sebagai hukuman setimpal bagi pelaku kejahatan, semua pesimis akan terwujudnya keadilan bagi korban, karena konvensi global mendiktekan agar pelaku kejahatan di bawah usia 18 tahun mendapat perlakuan khusus berupa keringanan bahkan bebas dari hukuman karena statusnya yang masih dianggap anak-anak,” ungkap Direktur Muslimah Media Center ini.

Namun, kata Iffah, bila keadilan kita maknai sebagai perlakuan yang sepatutnya diberikan sebagai hak masing-masing pihak, maka baik pelaku maupun korban semestinya mendapatkan keadilan.

“Pelaku memiliki persepsi bahwa kekerasan adalah cara menyelesaikan masalah, karena mereka tak mendapatkan hak nya tentang pemahaman bagaimana cara shahih menyelesaikan masalah. Mereka krisis identitas, sehingga menempatkan masalah percintaan sebagai masalah terpenting, juga karena tak ada penanaman identitas Islam yang utuh pada mereka,” tuturnya.

Iffah melanjutkan bahwa peristiwa ini adalah bukti kegagalan sistem pendidikan sekuler, bukti lemahnya pendidikan keluarga dalam menanamkan identitas Muslim pada generasi. Juga bukti lemahnya negara dalam menyiapkan keluarga dan sekolah untuk melahirkan generasi berkepribadian mulia.

“Belum lagi lemahnya sanksi terhadap pelaku kekerasan juga turut berperan kuat akan makin maraknya kasus kekerasan. Semua karena negara berbasis sekuler dan didominasi orientasi materialistik,” kata Iffah.

Iffah juga menjelaskan bahwa negara tak punya kuasa atas dikte asing dalam membuat ukuran sukses pembinaan generasi, bahkan negara membebek cara memperlakukan generasi sesuai standar sekularisme.

“Berkebalikan dengan sistem Islam yang memiliki prinsip jelas bagaimana identitas seorang Muslim, bagaimana negara menyiapkan keluarga sekolah dan masyarakat untuk mewujudkannya dan bagaimana sanksi tegas diberlakukan kepada pelaku pelanggaran dengan batasan yang jelas yakni ukuran dewasa atau baligh,” tukasnya lagi.

“Karena itu menuntut negara hadir pada kasus kekerasan terhadap Audrey ini tidak akan berbuah keadilan selama negara masih berbasis sekuler. Keadilan bagi semua akan terwujud bila negara menerapkan Islam, memberlakukan siatem pendidikan-sosial dan sanksi berdasar Islam,” tutupnya.[]

%d blogger menyukai ini: