Mengembalikan Khilafah ke Pangkuan Umat Islam

Barat menyadari sepenuhnya, bahwa munculnya kesadaran global tentang Khilafah ini, terutama direpresentasi oleh negeri Muslim terbesar di dunia semacam Indonesia, pasti akan berdampak buruk bagi hegemoni kapitalisme dan penjajahan mereka yang sudah berlangsung lama. Karena mereka juga tahu betul, Khilafah adalah institusi politik pemersatu umat Islam dunia, yang jika benar-benar tegak tentu akan menjadi versus bagi negara adidaya pengemban kapitalisme yang menghegemoni dunia, bahkan akan menghancurkannya.


MuslimahNews, EDITORIAL — Pemilu kali ini memang istimewa. Bukan hanya karena pola-pola persaingan yang terasa makin ketat bahkan cenderung kasar, namun juga karena pemilu kali ini melibatkan isu politik yang dianggap sangat sensitif, yakni isu penegakkan Khilafah yang mulai diversuskan dengan NKRI atau negara pancasila.

Sebetulnya, terminologi Khilafah sendiri sudah lama berkembang di Indonesia, terutama setelah gerakan Hizbut Tahrir (HT) mulai berkiprah di Indonesia pada tahun 80-an dan gencar mendakwahkan ajaran Islam yang terlupa ini ke tengah-tengah umat.

Lalu sebagai sebuah gagasan, term ini berhasil naik level menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai kalangan, mulai dari level grassroot, intelektual, hingga pejabat. Ini terjadi terutama setelah di tahap kedua dakwahnya, HT, tak hanya di Indonesia, bahkan di berbagai negara di dunia, kerap menggelar diskusi-diskusi terbuka dan acara-acara kolosal soal Khilafah yang cukup mendapat sambutan hangat dari umat, sekalipun banyak pula yang merespon secara negatif dikarenakan kekurangpahaman.

Saat itu topik perbincangan bukan lagi hanya terkait soal gagasan-gagasan dasar tentang apa itu Khilafah, dalil-dalil kewajiban penegakkannya dan bahwa Khilafah adalah janji Allah, tapi sudah masuk pada diskusi tentang bagaimana konstruksi Khilafah dalam menyelesaikan berbagai problem kekinian dan bagaimana cara mewujudkannya. Terlebih, bukan kebetulan jika sistem sekuler yang diterapkan saat ini memang terbukti gagal menyelesaikan berbagai problem hidup yang terus bermunculan, bahkan dianggap menjadi biang kerok munculnya krisis yang terjadi di berbagai lini kehidupan.

Khilafah senyatanya menjadi isu yang sensitif tatkala pihak Barat melihat betapa keberhasilan dakwah ini mulai mengancam eksistensi dan hegemoni mereka. Lalu berdasar rekomendasi berbagai lembaga think tank-nya, dibuatlah berbagai skenario untuk memberangus gagasan Khilafah dan gerakan pengusungnya hingga ke akar.

Mereka menyadari sepenuhnya, bahwa munculnya kesadaran global tentang Khilafah ini, terutama direpresentasi oleh negeri Muslim terbesar di dunia semacam Indonesia, pasti akan berdampak buruk bagi hegemoni kapitalisme dan penjajahan mereka yang sudah berlangsung lama. Karena mereka juga tahu betul, Khilafah adalah institusi politik pemersatu umat Islam dunia, yang jika benar-benar tegak tentu akan menjadi versus bagi negara adidaya pengemban kapitalisme yang menghegemoni dunia, bahkan akan menghancurkannya.

Salah satu skenario yang dilancarkan dalam rangka memberangus dakwah Khilafah ini adalah melekatkan stigma negatif pada ide Khilafah dan ideologi yang mendasarinya, yakni Islam. Mereka mempropagandakan bahwa Khilafah dan Islam adalah monster jahat bahkan ideologi setan yang akan membahayakan umat. Mereka bahkan rela mengucurkan dana besar demi membiayai serangkaian proyek global yang mereka sebut sebagai perang melawan terorisme dan perang melawan radikalisme, berikut proyek-proyek deradikalisasi dan moderasi Islam, yang dimulai dengan cara memunculkan negara khilafah jadi-jadian semacam ISIS sebagai ikon musuh bersama dan ditampilkan sebagai negara berbahaya.

Dan stigmatisasi ini nampak cukup berhasil memecah dukungan umat. Terutama ketika mereka berhasil merekrut para agen, baik dari kalangan ‘ulama’, ‘intelektual’ Muslim serta beberapa organisasi civil society dan media mainstream untuk turut serta menyukseskan agenda mereka melawan gerakan Khilafah, dengan melontarkan berbagai diksi dan narasi yang menegasikan Khilafah sebagai ajaran Islam dan justru dipandang membahayakan.

Agen-agen inilah yang hari ini ada di front depan melawan penegakan Khilafah dan terus berusaha memengaruhi akal dan nurani umat yang lurus agar kembali mencampakkan Khilafah sebagai bagian keyakinan dan harapan, serta tetap berpegang teguh pada standar hidup sekuler sebagaimana yang Barat inginkan. Maka proyek-proyek deradikalisasi dan moderasi Islam pun terus mereka aruskan ke tengah umat, dengan harapan umat akan meninggalkan ideologinya dan mencampakkan keyakinan dan harapan penegakkannya di masa depan.

Namun lepas dari kondisi existing umat hari ini yang sedemikian, sesungguhnya ada hal positif yang bisa kita tangkap terkait masa depan dakwah penegakkan syariah kaffah dalam naungan Khilafah. Bagaimanapun, narasi tentang Khilafah kini sudah pada tahap pengkristalan di tengah umat. Umat saat ini, baik yang pro maupun yang anti, sudah mulai mampu menangkap esensi Khilafah sebagai representasi ajaran Islam yang bersifat politis dan strategis, bukan lagi sekadar gagasan ideal yang bersifat konseptual.

Tak dipungkiri bahwa sejak institusi Khilafah tegak menaungi kehidupan umat Islam di dunia dan tampil sebagai negara adidaya, negara-negara Barat memang terus berusaha mencari berbagai cara untuk melemahkan bahkan menghancurkannya. Karena sepanjang sejarah pula, Khilafah telah menjadi penghalang terbesar bagi agenda penjajahan mereka atas dunia.

Dan dengan kajian panjang, mereka akhirnya menemukan rahasia kekuatan umat Islam, yang tidak lain ada pada ajaran Islam sebagai ideologi beserta institusi politik penerapnya, yakni al-Khilafah. Itulah mengapa mereka tak lagi mengambil cara fisik untuk memerangi umat Islam. Tapi mereka kemudian berusaha meracuni umat dengan gagasan-gagasan yang bisa mengebiri pemahaman Islam ideologis ini dan mengebiri ukhuwah hakiki seluruh umat Islam di bawah institusi politik Khilafah yang mendunia, seperti dengan menebar ide sekularisasi dan nasionalisme di tengah-tengah kaum Muslimin, dan ide-ide turunannya yang lain seperti liberalisme, demokrasi, pluralisme, permisivisme, dan lain-lain.

Mereka terus berusaha menjauhkan Islam dari politik dan mengerat-ngerat tubuh umat dengan aktivitas penjajahan, sambil masif menebar racun sekularisme dan ashabiyah tadi di negeri-negeri jajahan dengan memanfaatkan agen-agen mereka di kalangan umat Islam. Dan perjuangan panjang mereka akhirnya menuai hasil tatkala Mustafa Kemal, agen Inggris di pusat Khilafah Turki Utsmani berhasil menghasut sebagian umat dan merebut kekuasaan Khilafah serta menggantikan sistem Khilafah ini menjadi negara sekuler di tahun 1924.

Inilah momen paling menyedihkan dalam sejarah peradaban umat Islam yang sudah tegak selama belasan abad. Mustafa Kemal atas arahan Inggris, berhasil merealisasikan cita-cita terbesar bangsa Barat untuk merenggut kemuliaan umat Islam, merobek persatuan mereka, dan mencampakkannya ke lubang lumpur kehinaan.

Dan hal ini, secara jelas tersurat dalam perkataan Lord Curzon, Menlu Inggris kala itu, beberapa saat setelah Khilafah runtuh, “Kita telah menghancurkan Turki dan Turki tidak mungkin akan kembali bangkit. Sebab kita telah menghancurkan dua kekuatannya; yakni Islam dan Khilafah”. Dan senyatanyalah, sejak momen itu umat Islam hidup dalam keadaan tercerai berai, terhina, terjajah dan terjauhkan dari predikat aslinya sebagai Khairu Ummah (umat terbaik).

Namun saat ini, setelah nyaris satu abad yang memilukan berlalu, kesadaran atas realitas ini mulai bangkit. Melalui aktivitas dakwah kelompok-kelompok Islam ideologis yang muncul di pertengahan abad 20-an, sedikit demi sedikit umat mulai sadar bahwa kondisi buruk yang mereka alami tidak lain adalah akibat mereka jauh dari syariat Islam dan institusi penegaknya, yakni Khilafah.

Dalam hal ini, umat mulai mampu merasakan, bahwa tanpa institusi Khilafah, hukum syari’ah benar-benar hilang penerapannya satu persatu. Dan sebagai gantinya berkembanglah berbagai kemaksiatan dan kesempitan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah masalah hukum (pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad dari Abu Ya’la, dengan sanad shahih)

Hanya saja, saat ini kesadaran tersebut memang belum begitu mengental dalam bentuk yang mampu menggerakan mereka untuk bersegera mewujudkannya dalam realitas kehidupan. Dan ini adalah PR besar bagi aktivis kelompok-kelompok dakwah yang berkehendak mengembalikan kemuliaan umat dengan Islam. Yakni, bagaimana menggambarkan konstruksi penerapan Islam dan Khilafah dalam detil-detil persoalan hidup mereka. Hingga tergambar jelas betapa Islam dan Khilafah adalah solusi praktis atas persoalan hidup mereka, satu-satunya pilihan jalan bagi mereka, sekaligus kewajiban yang tak bisa mereka elakkan.

Tentu saja, mengembalikan Khilafah ke pangkuan umat memang bukan hal mudah. Rintangannya begitu besar karena praktik kekufuran dan penjajahan atas umat Islam di-back up oleh negara-negara adidaya, dengan berbagai strategi jitu dan didukung oleh berbagai sarana dan prasarana yang mereka miliki. Dan di saat sama, mereka pun dibantu oleh anak-anak kaum Muslimin yang rela menjadi umala alias agen penjajah, yang siap mempertahankan sistem sekuler dengan segenap kemampuan mereka demi keuntungan yang mereka dapatkan dari penjajah.

Sementara itu, perjuangan umat mengembalikan Khilafah hari ini hanya bertumpu pada kelompok-kelompok dakwah saja. Namun kelompok ini diisi oleh individu-individu ikhlas yang memiliki semangat juang tinggi dan kekuatan keyakinan serta harapan besar akan pertolongan Allah SWT.

Modal inilah yang justru akan menghantarkan mereka pada keberhasilan meraih dukungan umat. Hingga suatu saat mereka akan mampu memimpin umat melakukan perubahan ke arah yang hakiki yakni dengan tegaknya hukum Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah sebagaimana yang dijanjikan. Dan saat itulah umat akan kembali meraih kemuliaan hakiki, dan menjadi umat terbaik yang akan menebar rahmat bagi semesta alam.

Firman Allah SWT :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada al khair (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung“. (QS. Ali Imran : 104)

Dan khabar dalam salah satu hadits :

حدثنا سليمان بن دوود الطيالسي حدّثني داود بن إبراهيم الواسطي حدثني حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير قال : كنا قعدوا في المسجد مع رسول الله ﷺ وكان بشير رجلا يكف حديثه فجاء أبوثعلبة الخشني فقال : يا بشير بن سعد أتحفظ حديث رسول الله ﷺ في الأمراء، فقال حذيفة : أنا أحفظ خطبته فجلس أبو ثعلبة فقال حذيفة : قال رسول الله ﷺ : ” تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة. ثم سكت

Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhan), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”(Dikeluarkan oleh: Imam Ahmad; Musnad Imam Ahmad no.18319 hal.162 Jilid 14 cet.Darul Hadits)

Wallaahu a’lam bi ashshawab.[] SNA

Apa komentar Anda?