Bagaimana Islam dan Khilafah Menghargai dan Melindungi Peran Ibu

Islam menanamkan dalam diri perempuan suatu rasa yang sangat besar tentang tugas penting mereka sebagai penjaga rumah dan pengasuh anak-anak mereka, yang mereka lakukan dengan kesungguhan dan kepedulian yang paling serius. Hukum Syariah juga menciptakan unit keluarga yang kuat dan terpadu.


Oleh: Dr Nazreen Nawaz*

MuslimahNews, FOKUS — Islam mengangkat status ibu, memberikan posisi tinggi penghormatan dalam masyarakat, dan menganggap sebagai nilai besar atas peran perempuan sebagai penjaga rumah tangga, serta sebagai perawat dan pengasuh anak. Banyak nash-nash Islam yang memberikan penghargaan besar untuk pernikahan dan melahirkan banyak anak, dan menggambarkan perlakuan istimewa yang layak diterima ibu dari anak-anak mereka.

﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [QS Luqman: 14]

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ r، فَقَالَ: مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ»، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ»، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ»، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ» (رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Hurairah ra., beliau berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi Saw, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

«تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ» (رواه أبو داود)
Nabi Saw bersabda, “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah umatku di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud).

• Pandangan Islam tentang tingginya status dan pentingnya peran ibu ditegakkan kembali oleh aturan spesifik terkait peran, tugas dan hak yang spesifik untuk laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga. Ini mendefinisikan peran utama perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh anak-anak, dan peran laki-laki sebagai penjaga dan pencari nafkah bagi keluarga. Peran utama perempuan ini tidak menghilangkan hak mereka untuk bekerja jika mereka menginginkannya. Melainkan memberikan perempuan hak istimewa atas nafkah – yang selalu disediakan oleh suami atau kerabat laki-laki mereka yang berkewajiban untuk secara finansial memelihara anggota perempuan dari keluarga mereka, mengangkat beban mencari nafkah dari perempuan.

﴿الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ﴾
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [QS An-Nisa: 34]

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْأَمِيرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ…» (رواه البخاري ومسلم)
Nabi SAW berkata, “Masing-masing dari kalian adalah seorang pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas mereka yang berada di bawah kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah seorang pemimpin; seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya; seorang perempuan adalah pemimpin rumah dan anak suaminya ... ”(HR Bukhari dan Muslim)

﴿وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ﴾
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu.” [QS Al-Baqarah: 233]

• Khilafah berdasarkan metode Kenabian akan menjaga peran laki-laki dan perempuan yang telah didefinisikan Islam dalam kehidupan keluarga, dan mengangkat status penting perempuan sebagai istri dan ibu. Hal ini akan mencakup jaminan penyediaan nafkah bagi perempuan sehingga mereka tidak ditekan untuk mencari nafkah dan mengganggu tugas-tugas penting mereka terhadap anak-anak dan keluarga mereka. Sebagai contoh, jika seorang perempuan tidak memiliki kerabat laki-laki yang mendukungnya, maka di bawah Islam, negara berkewajiban menyediakannya. Oleh karena itu hukum Islam yang dilaksanakan di bawah Khilafah mendukung para ibu dalam memenuhi kewajiban vital mereka yaitu merawat dan membesarkan anak-anak mereka serta menjaga rumah mereka. Mereka juga menjamin keamanan finansial bagi perempuan dan memastikan bahwa mereka tidak pernah ditinggalkan untuk mengurus diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, atau dibiarkan menderita kesulitan keuangan.

«مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأِهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ» (رواه مسلم)
Nabi Saw bersabda, “Jika seseorang meninggal (di antara kaum Muslim) meninggalkan beberapa harta, harta tersebut akan diserahkan kepada ahli warisnya; dan jika dia meninggalkan hutang atau tanggungan, kami akan mengurusnya.” (HR Muslim)

Peran utama seorang perempuan adalah menjadi ibu dan pengurus rumah tangga.” Pasal 112, Rancangan Undang-Undang Khilafah oleh Hizbut Tahrir.

Tanggung jawab suami atas istrinya (qiwaamah) adalah menjaga, dan tidak berkuasa. Istri berkewajiban untuk mematuhi suaminya dan suami berkewajiban untuk memenuhi biaya kehidupannya sesuai dengan standar hidup yang adil (makruf).” Pasal 120, Rancangan Undang-Undang Khilafah oleh Hizbut Tahrir.

Negara bertugas untuk menjamin biaya hidup dari orang yang tidak memiliki uang, tidak ada pekerjaan dan tidak ada keluarga yang bertanggung jawab atas pemeliharaan keuangannya. Negara bertanggung jawab untuk memberikan tempat tinggal dan memelihara orang-orang tidak mampu dan cacat.” Pasal 156, Rancangan Undang-Undang Khilafah oleh Hizbut Tahrir.

Umar bin Al-Khattab, Khalifah Islam kedua, memperkenalkan sistem tunjangan anak pertama di dunia, memberikan tunjangan kepada orang tua untuk membantu mereka dalam pemeliharaan keuangan anak-anak mereka.

• Hak istimewa Nafkah bagi perempuan diatur secara tegas di bawah kekuasaan Islam.

جَاءَتْ هِنْدُ بِنْتُ عُتْبَةَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ مِسِّيكٌ، فَهَلْ عَلَىَّ حَرَجٌ أَنْ أُطْعِمَ مِنَ الَّذِي لَهُ عِيَالَنَا قَالَ: «لاَ إِلاَّ بِالْمَعْرُوفِ»
Sebagai pemimpin Madinah, Nabi Saw pernah didekati oleh Hindun binti Utbah, istri salah satu tokoh Quraisy sebelumnya, Abu Sufyan. Dia berkata kepada Rasul Saw, “Wahai Rasul Allah! (Suamiku) Abu Sufyan adalah seorang kikir. Apakah aku berdosa untuk memberi makan anak-anakku dari hartanya?” Nabi Saw berkata, “Tidak. Ambil untuk kebutuhan kamu apa yang adil dan masuk akal.”

Tulisan-tulisan dari buku-buku hukum dari para Ulama selama Khilafah Abbasiyah, misalnya bahwa dari abad ke-9 Hanafi ahli hukum Irak al-Khassaf, menggambarkan bagaimana perempuan akan mengajukan keluhan kepada hakim terhadap suami yang tidak memberi mereka cukup uang, atau yang telah pergi dalam perjalanan selama beberapa bulan dan tidak meninggalkan mereka dengan pemeliharaan yang cukup. Mereka akan meminta hakim untuk menunjuk seorang penjamin (seorang kafil) yang akan bertanggung jawab untuk memberikan mereka nafkah. Jika suami mereka menghilang, mereka bisa pergi ke qadi dan memintanya untuk menunjuk perwakilan untuk mengelola harta suami mereka dan memenuhi biaya kehidupan.

Catatan peradilan dari Khilafah Utsmaniyah juga menunjukkan bahwa laki-laki terikat secara hukum untuk secara finansial memelihara istri dan anak-anak mereka. Jika mereka menolak, maka sang istri bisa mengajukan keluhan ke pengadilan dan hakim akan memaksakan pemberian nafkah. Ini termasuk menyediakan bagi suami mereka harta untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang biasa mereka pakai. Istri yang ditinggalkan dapat mengklaim tunjangan hidup bagi dirinya dan anak-anaknya dari setiap bagian kekayaan atau peninggalan suami mereka. Mereka juga dapat meminta pengadilan untuk meminta pinjaman atas nama suami mereka, dimana istri akan didukung dan bahwa suami bertanggung jawab atas hal itu. Ini adalah contoh dari satu kasus seperti itu dari catatan pengadilan kota Kayseri pada masa Khilafah Utsmaniyah:

Cennet Ana binti Sheik Mehmet Effendi mengajukan klaim: Saya adalah istri Abdul-Fettah bin Abdul-Kadir dari Gulluk Mahalle (berdekatan), yang telah pergi untuk waktu yang lama. Saya ingin tunjangan pemeliharaan. Cennet Ana diminta untuk mengambil sumpah yang tidak diberikan suaminya untuknya. Kemudian dia diberikan lima belas akce per hari dan izin untuk mencari pinjaman.”(Kayseri mencatat pada 1034 AH)

• Pandangan Islam tentang rasa hormat yang besar pantas diberikan terhadap peran keibuan dan posisi pentingnya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat dijaga di bawah kekuasaan Islam, hal ini membentuk pola pikir warga negara terhadap peran vital perempuan ini. Status ibu yang tak tertandingi ini dinikmati di bawah Islam terus sepanjang sejarah Khilafah. Dalam Khilafah Utsmani misalnya, peran strategis ibu meningkatkan posisi perempuan dalam masyarakat dan para ibu dihormati dan diperlakukan dengan sangat hati-hati oleh anak-anak mereka. Sebagai balasannya, para ibu menghujani anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang yang sangat besar.

Abdullah Ibn Abbas ra., seorang sahabat Nabi SAW dan ilmuwan Islam yang hebat, pernah berkata, “Aku tahu tidak ada perbuatan lain yang membawa orang lebih dekat kepada Allah daripada perlakuan baik dan hormat terhadap ibu seseorang.”

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar ra., seorang sahabat Nabi Saw dan ulama besar Islam, pernah melihat seorang laki-laki Yaman melakukan Tawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Laki-laki itu berkata kepada Abdullah bin ‘Umar ra., “Wahai Abdullah ibn Umar, aku menggendong ibuku di punggungku lebih lama daripada dia membawaku di rahimnya. Wahai Abdullah, sesungguhnya aku berjalan dari Yaman, aku telah menyelesaikan setiap haji dengan menggendong ibuku. Apakah aku sudah memenuhi khidmah dan kewajibanku dalam melayani orangtuaku?

Abdullah ibn Umar R.A. berkata “Tidak wahai saudaraku. Kau bahkan belum memenuhi satu napas yang ibumu keluarkan pada saat melahirkanmu!

Zayn al-Abidin, ulama terkenal lainnya, pernah ditanya, “Kamu adalah orang yang paling baik kepada ibunya, namun kami belum pernah melihat kamu makan bersamanya dari satu hidangan.” Dia menjawab, “Saya takut tangan saya akan mengambil makanan yang matanya sudah melihat itu di piring, dan kemudian aku akan tidak mematuhinya.

Ciri yang begitu indah dalam karakter orang Turki adalah rasa takzim dan hormat mereka terhadap ibu, dewi mereka; diperhatikan, diakui, didengarkan dengan rasa hormat dan keseganan, dimuliakan untuk waktu yang telah dilalui dan dikenang dengan kasih sayang dan penyesalan di balik makam.” Dari ‘Kota Sultan dan Tata Krama Orang Turki pada tahun 1836’ oleh Julia Pardoe, Penyair Inggris, Sejarawan, dan Traveller.

• Sistem pendidikan dan media Khilafah serta lingkungan Islam umum masyarakatnya akan membantu para ibu Muslimah dalam tanggung jawab besar mereka untuk membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi pribadi Islam yang kuat, para hamba Allah yang taat, dan karenanya warga negara yang jujur merupakan sumber kebaikan bagi komunitas mereka.

Karena itu, Islam memiliki pandangan yang tak tertandingi tentang pentingnya peran keibuan, disertai dengan sejumlah hukum dan tugas yang ditentukan pada laki-laki dan perempuan untuk memastikan bahwa semua hal itu dilindungi dan didukung.

Di bawah kekuasaan Islam, hal ini menanamkan dalam diri perempuan suatu rasa yang sangat besar tentang tugas penting mereka sebagai penjaga rumah dan pengasuh anak-anak mereka, yang mereka lakukan dengan kesungguhan dan kepedulian yang paling serius. Hukum Syariah juga menciptakan unit keluarga yang kuat dan terpadu. Oleh karena itu, hanya Khilafah, yang menerapkan Islam secara komprehensif, yang akan mengembalikan status besar yang layak dimiliki ibu dalam suatu masyarakat, akan memastikan hak dan pengasuhan efektif anak-anak terjamin, dan akan melindungi kesucian dan keharmonisan kehidupan keluarga.[] Sumber

*Direktur Divisi Muslimah – Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

#Khilafah_Pelindungku_Perisaiku
#Khilafah_MyGuardian_MyShield
#الخلافة_رعاية_وحماية

*

%d blogger menyukai ini: