Hati-hati dalam Merespons Seruan Penerapan Syariah dan Khilafah

Jangan main-main saat ada seruan untuk berhukum dengan hukum Allah atau seruan untuk menerapkan Syari’ah dan Khilafah, yang dilakukan oleh siapapun orangnya dan apapun organisasinya. Sikap kita hanya satu: menerimanya dengan segala rasa hormat, tunduk dan patuh. Tidak berkelit menolak dengan berbagai macam alasan.


Oleh: Azizi Fathoni

MuslimahNews, ANALISIS — Hati-hati, jangan anggap remeh ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah. Dalam kitab al-Adzkaar min Kalam Sayyidil Abraar, al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i (w. 676 H) menulis sebuah bab khusus:

باب ما يقوله من دعي إلى حكم الله تعالى

Bab apa yang selayaknya diucapkan oleh orang yang diajak berhukum dengan hukum Allah ta’ala

Di situ dia menjelaskan kalimat apa yang harusnya diucapkan oleh orang yang diseru atau diajak untuk berhukum dengan hukum syari’at:

… أن يقول سمعنا وأطعنا ، أو سمعا وطاعة ، أو نعم وكرامة ، أو شبه ذلك

“…memanggil orang itu menjawab dengan ucapan:” kami dengar dan taati “, atau” kami patuh dan taat “, atau” ya, dengan segala hormat “, atau yang semacamnya.”

Ia sekaligus mencantumkan ayat berkenaan dengan itu:

إنما كان قول ٱلمؤمنين إذا دعوا إلى ٱلله ورسوله ليحكم بينهم أن يقولوا سمعنا وأطعنا وأولئك هم ٱلمفلحون

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, jika mereka diminta untuk Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka adalah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka yang menerima orang-orang yang beruntung. “(An Nuur: 51)

Jadi mukmin yang sejati itu dilarang menolak seruan kepada hukum Allah. responnya harus positif meng-iya-kan, menyetujui, menerima seruan, dan yang semacamnya dengan penuh rasa tunduk dan patuh.

Al-Imam an-Nawawi lebih lanjut mengingatkan:

وليحذر كل الحذر من تساهله عند ذلك في عبارته ، فإن كثيرا نثيرا من الناس يتكلمون عند ذلك بما لا لامات

Hendaknya ia sangat berhati-hati dari memandang remeh perkataannya pada saat itu (saat merespon ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah), karena banyak di antara manusia mengucapkan ucapan tak layak saat ada pada kondisi tersebut. Bahkan boleh jadi di antara mereka mengucapkan perkataan yang menyebabkan kekafiran.

Bagaimana contohnya tidak layak dan bahkan sebagian besar dapat menyebabkan kekafiran itu? “Emang negara mana yang sudah berhasil diterapkan? (dengan nada sinis ditolak)”,“Penerapan hukum Allah dapat menyelamatkan umat Islam”,“Seruan itu benar benar untuk tujuan batil”,“Penerapan syari’ah dan Khilafah terkait kesepakatan para pendiri negara ini”,“Penerapan syari’at sudah tidak relevan“,”Penerapan syari’ah dan Khilafah di negeri ini hukumnya haram!“,”Tidak mau meminta yang menyeret dari kelompokmu“, yang terakhir ini tak ubahnya kaum perempuan yang tidak menerima risalah Islam lantaran dibawakan oleh Nabi dan Rasul yang bukan dari golongan mereka. ‘Ashabiyah telah membuat mereka sangat kecil dari melihat kebenaran.

Jika kita menanggapi bersama ayat sebelumnya (an-Nur 48-51), kita akan mendapati ayat-ayat yang menjelaskan macam-macam karakter manusia saat merespons seruan tersebut.

Ada yang mau menerima ajakan tersebut hanya apabila itu mendatangkan keuntungan atau kemaslahatan bagi mereka. Ada yang menolak, dan itu tidak lepas dari: adanya penyakit hati, ragu-ragu terhadap risalah Islam, dan takut kalau-kalau ketetapan Allah dan Rasul-Nya itu tidak adil. sedangkan kaum mukmin sejati akan menerimanya dengan sepenuh hati.

وإذا دعوا إلى ٱلله ورسوله ليحكم بينهم إذا فريق منهم معرضون (48) وإن يكن لهم ٱلحق يأتوا إليه مذعنين (49) أفي قلوبهم مرض أم ٱرتابوا أم يخافون أن يحيف ٱلله عليهم ورسوله بل أولئك هم ٱلظلمون (50) إنما كان قول ٱلمؤمنين إذا دعوا إلى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئَِٰٓئُُُُُِ

48. Dan mereka memutuskan untuk datang kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.
49. Namun, jika kemaslahatan mereka, mereka datang ke rasul dengan patuh.
50. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang zalim.
51. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, jika mereka diminta kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka adalah ucapan terima kasih. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka yang menerima orang-orang yang beruntung.

Jadi, jangan main-main saat ada seruan untuk berhukum dengan hukum Allah atau seruan untuk menerapkan Syari’ah dan Khilafah, yang dilakukan oleh siapapun orangnya dan apapun organisasinya. Sikap kita hanya satu: menerimanya dengan segala rasa hormat, tunduk dan patuh. Tidak berkelit menolak dengan berbagai macam alasan.[] Malang, 11 Rajab 1440 H

%d blogger menyukai ini: