Ruang Aman Perempuan dalam Bangunan Islam

Di bawah ‘bangunan’ Islam maka perempuan akan aman dan merasakan ketenangan. Kehormatan perempuan betul-betul terjaga secara sistemik. Namun sayang, hingga saat ini syariat Islam hanya dijadikan bahan bacaan di atas kertas, tak diimplementasikan secara riil menyelesaikan problematika umat yang semakin kompleks.


Oleh: Emma LF (Aktivis Forum Muslimah Indonesia-ForMind)

MuslimahNews, ANALISIS — Di dalam Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan tahun 2019, terdapat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2018 (naik dari tahun sebelumnya sebanyak 348.466). Kasus kekerasan terhadap perempuan ini terdiri dari 13.568 kasus yang ditangani oleh 209 lembaga mitra pengada layanan yang tersebar di 34 Provinsi, serta sebanyak 392.610 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama.

Data pengaduan langsung ke Komnas Perempuan juga menunjukkan tren yang sama, ranah privat/personal menempati posisi kasus yang paling banyak diadukan yaitu sebanyak 768 kasus (77%) dari total 993 kasus yang masuk. Ranah personal/ privat: artinya pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (ayah, kakak, adik, paman, kakek), kekerabatan, perkawinan (suami) maupun relasi intim (pacaran) dengan korban.

Pemicu Kejahatan Seksual

Salah satu penyebab banyaknya angka kejahatan seksual di negeri ini adalah karena konten pornografi masih membanjiri tanah air. UU ITE kembali dipertanyakan keseriusan dan keefektifannya. Selain konten pornografi, minuman keras dan narkoba juga menjadi faktor pemicu maraknya kejahatan seksual. Banyak korban yang mengalami kejahatan seksual setelah dicekoki miras dan narkoba. Sungguh kejam!

Selain ketiga hal tersebut, yang juga menjadi pemicu kejahatan seksual adalah pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Perselingkuhan dan seks bebas sudah menjadi menu yang biasa saja. Keimanan individu sudah hilang dan tidak lagi menjadi hal prinsip untuk dimiliki.

Kontrol sosial di tengah masyarakat terhadap perbuatan menyimpang seperti perselingkuhan atau kehamilan di luar nikah juga sudah melemah. Yang ada adalah “urusanmu bukan urusanku”. Masyarakat semakin apatis terhadap segala perubahan sosial. Yang ada adalah memikirkan kepentingan pribadi masing-masing, semakin acuh dan tak peduli.

Cara Islam Mengatasi Kejahatan Seksual

Memberantas kejahatan atau kriminalitas dari sisi hilir (kuratif) saja memang tak cukup. Harus ada upaya pencegahan di hulu permasalahan (preventif). Sanksi hukuman yang berat saja tidak akan pernah efektif. Syariat Islam sejatinya sejak awal hadir dengan dua fungsi tersebut, yaitu secara preventif mampu mencegah munculnya kejahatan dan secara kuratif memberikan sanksi sangat keras bagi pelakunya.

Secara preventif Islam menanamkan nilai ketakwaan individu, yang taat kepada Allah SWT, yang takut berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya. Dengan itu, seseorang secara sadar akan menjaga diri dari segala perbuatan keji seperti mabuk, berselingkuh, berzina, memerkosa, bahkan membunuh. Karena dia tahu balasannya sungguh berat di hadapan Allah SWT kelak. Islam juga mengondisikan masyarakat dalam suasana keimanan (jawil iman) dan menjaga dari perilaku seks bebas. Islam mewajibkan perempuan menutup aurat jika keluar rumah, melarang perempuan ber-tabarruj (bersolek berlebihan) di luar rumah. Kaum perempuan didorong untuk tidak bercampur-baur dengan laki-laki tanpa ada keperluan syar’i seperti di pesta-pesta, tempat hiburan malam, termasuk melarang perempuan hidup serumah dengan laki-laki yang bukan mahram/suaminya.

Secara preventif, para pelajar dididik dengan kurikulum yang mampu membentuk kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) yang memiliki pola pikir islami dan pola sikap Islami. Tak seperti saat ini, ilmu hanya berhenti di atas kertas atau tumpukan buku namun tak membekas pada diri anak. Prestasi akademik melesat, namun prestasi akhlak bejat. Sungguh kondisi generasi yang memilukan.

Dalam masyarakat Islam, minuman keras, pornografi dan narkoba sama sekali tidak diberikan ruang bahkan celah sedikitpun untuk beredar. Tidak ada kompromi untuk barang haram dan berpotensi merusak generasi, meskipun iming-imingnya akan mendatangkan keuntungan finansial bagi pemerintah atau pengusaha.

Secara preventif dan kuratif, Islam memberikan sanksi keras kepada pelaku kejahatan. Pelaku pemerkosaan akan diancam sanksi cambuk 100 kali jika belum menikah. Bila telah menikah, pelakunya akan dirajam hingga mati. Hukuman berlapis berlaku jika pelaku melakukan serangkaian tindak kejahatan.

Dengan ini semua, kaum perempuan tidak lagi menjadi objek pelampiasan nafsu bejat para pelaku kejahatan seksual. Di bawah ‘bangunan’ Islam maka perempuan akan aman dan merasakan ketenangan. Kehormatan perempuan betul-betul terjaga secara sistemik. Namun sayang, hingga saat ini syariat Islam hanya dijadikan bahan bacaan di atas kertas, tak diimplementasikan secara riil menyelesaikan problematika umat yang semakin kompleks.

Kita membutuhkan kekuasaan negara untuk menerapkan syariat Islam secara menyeluruh (kafah) sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam. Alasan kita menerapkan syariat Islam bukan hanya karena dapat mendatangkan kemaslahatan termasuk menjaga kemuliaan perempuan, namun sejatinya karena menerapkannya adalah sebuah kewajiban. Wallah a’lam bi ash-shawwab.[]

%d blogger menyukai ini: