Ironi Hari Perempuan: Nelangsa tanpa Perisai dan Pelindung

Perisai dan pelindung itu tak bekerja saat ini. Karena, hampir semua penguasa dunia Islam memosisikan perempuan sebagai obyek kapitalisasi. Bagai alat produksi, perempuan baru dianggap bernilai bila mampu menghasilkan devisa dan memutar roda pertumbuhan ekonomi. Mereka membebek saja arahan Barat yang menipu mereka dengan tumpukan program melalui dalih PEP (pemberdayaan ekonomi perempuan), agar mereka mandiri, mengentaskan diri dan keluarga dari kemiskinan, serta merasa terhormat dengan posisi sosial ekonominya.


Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews, ANALISIS — Sungguh ironis. Saat Presiden Jokowi memuji Lampung yang dianggap piawai dalam pembebasan lahan untuk Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, seorang ibu tiba-tiba menyeruak dari kerumunan massa di Gerbang Tol Natar, Lampung Selatan (8/3/19). Sebelum pingsan, perempuan berkerudung merah muda itu menangis, mengadukan persoalan pembebasan lahan miliknya. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Apakah Jokowi bakal mewujudkan janji untuk menyelesaikan masalah itu, atau melupakannya.
Presiden seharusnya cukup memahami derita korban penggusuran lahan karena dia pernah berada pada posisi serupa, sebagaimana yang diungkapkannya di hadapan ratusan aktivis perempuan saat menggelar Hari Perempuan Sedunia di Istana Negara (6/3/19). “Semua orang tahu saya lahir di pinggir sungai.. Tahun 70an saya ingat sekali rumah saya di gusur, tidak diberi ganti rugi.. saya rasakan betul betapa perjuangan seorang ibu dalam mengayomi, mendidik anak itu begitu sangat beratnya…” paparnya.

Pada rezim kapitalistik, konflik agraria antara rakyat versus pe-pe (penguasa plus pengusaha), tidak mungkin dihindari. Pemerintahan bercorak korpotokrasi mesti akan berpihak pada korporasi yang mencari penghidupan melalui proyek-proyek mercusuar infrastruktur ataupun industrialisasi yang mengharuskan perampasan lahan rakyat.

Berbagai video yang beredar dari kanal media independen mengisahkan kemarahan, protes dan tangisan pilu ibu-ibu di Lampung Selatan, Kulon Progo -tempat pembangunan New Yogyakarta International Airport/NYIA- ataupun daerah lain yang tak mampu berbuat banyak saat buldozer meratakan rumah dan ladang mereka. Bahkan seorang ibu bernama Patmi (48), harus menukar nyawanya (21/3/2017) saat ikut demo bersama warga Kendeng yang mengecor kaki di depan Istana Negara karena pemerintah tetap mendirikan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah meski putusan Mahkamah Agung sudah membatalkan izin pendiriannya.

Merasakan derita korban saja, tentu tidak cukup bagi seorang kepala negara. Rakyat, terutama ibu dan anak-anak membutuhkan pelindung, penjaga dan pemelihara atas semua urusannya. Keruntuhan perisai umat, Khilafah Islamiyah sejak 3 Maret 1924, menjadikan seluruh umat diperintah oleh rezim tiran dan boneka yang tidak lagi peduli kepada umat apalagi Dien-nya. Bahkan mereka berani mencuri kekayaan umat, merampas lahannya, menunjukkan arogansinya, menganiaya orang-orang yang tak berdaya dan menista para pejuang ajaran agamanya.

Sungguh kontras dengan perlindungan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh seorang Khalifah. Tinta emas sejarah mencatat Khalifah Umar bin Khathab yang marah besar mendengar pengakuan Yahudi tua –sebagai kalangan minoritas- akibat gubuk reyotnya digusur Gubernur Mesir saat itu, Amru bin Ash. Dimintanya Yahudi itu memberikan tulang yang digores ujung pedangnya pada Amru bin Ash. Akibatnya, sang Gubernur ketakutan dan segera memerintahkan untuk menghancurkan masjid yang sudah setengah jadi sebagai ganti kezalimannya atas Yahudi tua itu.

Dunia juga mencatat pengayoman Sultan Sulaiman Al-Qanuni, seorang Khalifah Utsmaniyyah (926 – 974 H) bergelar Yang Agung, the Magnificent. Pemerintahan Khalifah selama 48 tahun ini tidak hanya menggentarkan Barat, namun juga menorehkan keadilan dalam kisah serupa di atas. Bedanya, demi pembangunan Masjid Sulaimaniyah, Sulaiman Al Qanuni memberikan ‘ganti untung’ pada gubuk Yahudi berkali-kali lipat dari harga yang ditawarkan punggawanya.

Perisai dan pelindung itu tak bekerja saat ini. Karena, hampir semua penguasa dunia Islam memosisikan perempuan sebagai obyek kapitalisasi. Bagai alat produksi, perempuan baru dianggap bernilai bila mampu menghasilkan devisa dan memutar roda pertumbuhan ekonomi. Mereka membebek saja arahan Barat yang menipu mereka dengan tumpukan program melalui dalih PEP (pemberdayaan ekonomi perempuan), agar mereka mandiri, mengentaskan diri dan keluarga dari kemiskinan, serta merasa terhormat dengan posisi sosial ekonominya.

Tak terkecuali perempuan Palestina yang terusir dari negerinya dan sampai saat ini menghuni kamp pengungsian di sekitar Syam. Di bawah kendali PBB, khususnya UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East) dan beberapa LSM untuk Palestina, Indonesia mengadakan pelatihan bisnis untuk perempuan di kamp pengungsi Amman, Yordania pada tanggal 5-8 Maret 2019. Bayangkan, yang dilakukan para penguasa Muslim bukan membantu mengusir penjajah Zionis dari tanah Palestina, namun menyerahkan urusan Palestina pada kafir penjajah yang justru melibatkan perempuan Palestina dalam arus pemberdayaan ekonomi perempuan.

Demikianlah penguasa Muslim saat ini. Tidak pernah muncul sikap sebagai pengayom masyarakat, terutama bagi perempuan, namun justru terseret dalam permainan gender. Padahal program-program tersebut bertujuan meliberalisasi perempuan, merusak keluarga Muslim dan bahkan menikam syari’at Islam. Penguasa-penguasa ini terjebak dalam pandangan kapitalistik. Mereka hanya memandang problem masyarakat, termasuk masalah yang terkait dengan perempuan, hanya berputar pada ekonomi. Sehingga yang disebut memperkuat bangsa itu bila ekonominya menggeliat, pendapatan masyarakat meningkat dan berubah status dari lower-middle income country menjadi upper-middle income country.

Wajar jika pemerintah di sinipun menganggap sejumlah program untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi keluarga -seperti pinjaman Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar), Pembiayaan Ultra Mikro (UMi), dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) – mampu memberikan kesejahteraan atas semua keluarga. Atau menjadikan gaji perempuan setara dengan gaji laki-laki, memberi peluang bagi mereka duduk di posisi puncak dan melarang diskriminasi di tempat kerja dianggap akan membahagiakan perempuan. Demikian pula bagi para remaja putri. Dengan memberikan akses bagi mereka seluas-luasnya terhadap perkembangan teknologi dan inovasi , disangka akan menciptakan kehidupanmasa depan generasi yang lebih baik.

Semua itu sungguh keliru. Barat telah menunjukkan, capaian kemajuan secara ekonomi hanya melahirkan kesejahteraan semu. Selain menderita krisis ekonomi yang terjadi secara siklik tiap 10 tahun sekali, masyarakat highincome country adalah cerminan masyarakat yang sakit. Atheism dan agnotisme merajalela, karena mereka tak mau mengenal dan mendekat pada Tuhannya. Alkohol dan narkoba menjadi pelarian atas masalah yang menimpa mereka. Akibatnya kriminalitas tinggi, pembunuhan merajalela, kehancuran keluarga mengancam institusi perkawinan, juga penyakit sosial akibat perilaku seksual bebas yang menimbulkan efek domino terhadap kemunculan masalah-masalah baru.

Dalam skala komunal, hilang kepercayaan antar anggota masyarakat, karena gereja ataupun tokoh masyarakat juga menjadi pelaku kemaksiatan. Kelestarian sebuah bangsa turut terancam akibat depopulasi yang mengerikan. Apalagi dalam pemerintahan. Terjadi truth decay –pembusukan kepercayaan- pada institusi pemerintahan. Firehouse of falsehood –semburan dusta dan hoaks- menjadi tabiat penguasa, hingga rakyat muak atas jalannya pemerintahan.

Tak ada kenyamanan dalam hidup bermasyarakat, tiada penghormatan atas institusi negara. Keamanan dan kehormatan menjadi barang langka. Semua itu terjadi akibat sistem kehidupan, termasuk pemerintahan yang tak bersendikan syari’at Islam yang diberkahi Allah SWT.

Sebaliknya, hidup dalam Khilafah Islamiyah yang menerapkan Islam kaaffah meniscayakan visi yang searah antara penguasa –Khalifah, Mu’awwin, para Wali, Amil dan jajarannya-, masyarakat dan warga negara –apapun status sosial, jenis kelamin, ras ataupun lokasi domisilinya-. Mereka paham bahwa hidup di dunia hanya untuk menjalankan peran luhur sebagai manusia. Mereka terjaga dari tindak eksploitatif terhadap manusia lainnya –sekalipun beda agamanya- karena yakin perbuatan dunianya akan berimplikasi pada kebahagiaannya di akhirat kelak.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [TQS an-Nahl ayat 97].

Semua keindahan itu hanya mampu terwujud dari sebuah negara bernama Khilafah Islamiyyah, yang mampu melahirkan pemimpin yang bertaqwa. Khalifah memiliki sifat junnah yang bermakna sebagai pelindung dari kezhaliman dan penangkal dari keburukan. Mereka merupakan penjaga Islam, pelayan bagi rakyat mereka, yang dengan tulus memelihara kebutuhan mereka seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hanya dengan kepemimpinannya semua rakyat, terutama perempuan akan terlindung lahir dan batinnya, serta menjaga kehormatan dan fungsi mereka sebagai ibu generasi.[]PJS

#PerempuanRinduKepemimpinanIslam

#PerempuanButuhPemimpinJujurdanAmanah

Apa komentar Anda?