Cara Khilafah Mengatasi Krisis Ekonomi – (Bertaubat dan Mengadu Kepada Allah SWT)

Kebanyakan doa yang diucapkan Umar adalah istighfar hingga saat hampir usai. la menengadahkan kedua tangan seraya membentang dan mengubah selendangnya. Bagian kiri diletakkan di sebelah kanan. Bagian kanan diletakkan di sebelah kiri. Ia menengadahkan kedua tangan kemudian meminta dengan mendesak, lama menangis hingga jenggotnya basah.


Oleh: Abu Umam

MuslimahNews.com — Bukan hanya langsung memberi contoh pribadi dalam bersikap dan bergaya hidup ketika tertimpa bencana agar bisa merasakan penderitaan langsung rakyatnya, Khalifah Umar juga membuat kebijakan yang strategis, cepat, tepat dan tuntas. Dengan itu seberat apapun bencana yang menimpa negeri Khilafah bisa langsung tertangani dengan baik. Khalifah langsung mengontrol pelaksanaannya. Khalifah juga menyerukan kepada para kepala daerah di sekitarnya agar berbondong-bondong membantu.

Lebih dari itu, Khalifah Umar juga bertobat dan mengadu kepada Allah SWT atas seluruh dosa dan kesalahan yang diperbuat selama ini. Bisa jadi, karena banyaknya dosa dan kesalahan inilah yang mengundang murka Allah SWT sehingga bencana itu datang.

Ini menunjukkan bagaimana Islam mengariskan bahwa seorang kepala negara wajib senantiasa menyandarkan seluruh penyelesaian bencana pada keimanan dan tuntunan syariah Islam. Semua disikapi berdasarkan sudut pandang keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bukan hanya mendasarkan pada kecanggilan ilmu pengetahuan, keuletan usaha dan logika matematis semata. Apalagi mengandalkan pada hal-hal yang berbau kesyirikan. Inilah tuntunan Islam. Semua bencana pasti atas kehendak dan campur tangan dari Allah SWT. Oleh karena itu bencana wajib disikapi dengan keimanan dan ketakwaan yang tinggi. Khalifah Umar mencontohkan demikian.

Khalifah Umar menyampaikan khutbah di hadapan orang-orang pada masa bencana. Ia berkata, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah pada diri kalian dan dalam masalah kalian yang tidak tampak dari manusia. Saya tertimpa musibah karena kalian. Kalian juga tertimpa musibah karena saya. Saya tidak tahu apakah kemurkaan tiba karena saya, bukan karena kalian ataukah karena kalian, dan bukan karena saya ataukah karena kita semua. KemariIah, kita berdoa memohon kepada Allah agar berkenan memperbaiki hati kita, merahmati kita dan melenyapkan kemarau (bencana) dari kita.

Pada hari itu, Khalifah Umar terlihat menengadahkan tangannya dan berdoa memohon kepada Allah SWT. Orang-orang pun turut berdoa. Khalifah Umar meneteskan air mata. Orang-orang pun turut berlinangan air mata. Selang beberapa waktu kemudian Umar turun.[1]

Diriwayatkan juga dari Aslam: Saya mendengar Umar berkata, “Wahai sekalian manusia, saya khawatir murka Allah akan menimpa kita semua. Mengeluhlah pada Rabb kalian, lepaskan dosa, kembalilah pada Rabb kalian dan lakukanlah kebaikan’.”[2]

Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Sa’idah: Saya melihat Umar bila usai shalat Maghrib menyerukan, “Wahai sekalian manusia, memintalah ampunan dan kembali pada Rabb kalian, mohonlah karunia-Nya, mintalah hujan rahmat, bukan hujan azab.” Umar terus menyampaikan hal itu hingga Allah melenyapkan kemarau (bencana).[3]

Dalam riwayat lain dari Sya’bi dinyatakan:

Khalifah Umar keluar rumah meminta hujan kemudian berdiri di atas mimbar dan membaca ayat-ayat berikut: Lalu aku berkata kepada mereka,”’Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.” (TQS Nuh [71]: 10-11).

Khalifah Umar berkata, “Beristighfar dan bertobatlah kepada-Nya.

la lalu turun dari mimbar. Kemudian ada yang berkata, “Apa yang menghalangi Anda untuk meminta hujan?

Khalifah Umar berkata, “Saya meminta hujan kepada Allah Yang menurunkan hujan.”

Saat Khalifah Umar berketetapan hati untuk meminta hujan dan keluar bersama orang- orang, ia mengirim surat kepada seluruh gubernurnya untuk keluar pada hari tertentu. Agar mereka tunduk pada Rabb mereka. Agar mereka mengharap Allah melenyapkan bencana kemarau dari mereka. Khalifah Umar keluar pada hari yang telah ditentukan. Ia mengenakan selimut Rasulullah hingga sampai di tempat shalat. Ia berkhutbah dengan merendah diri dan kaum wanita memohon dengan mendesak. Kebanyakan doa yang diucapkan Umar adalah istighfar hingga saat hampir usai. la menengadahkan kedua tangan seraya membentang dan mengubah selendangnya. Bagian kiri diletakkan di sebelah kanan. Bagian kanan diletakkan di sebelah kiri. Ia menengadahkan kedua tangan kemudian meminta dengan mendesak, lama menangis hingga jenggotnya basah.[4]

Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan riwayat dari Anas bahwa Umar bin al-Khaththab meminta hujan saat tertimpa (bencana) kemarau dengan perantara Abbas bin Abdul Muthallib. Khalifah Umar berdoa, “Ya Allah, sungguh kami dulu pernah bertawassul kepada-Mu dengan Nabi kami. Kemudian Engkau memberi kami hujan. Sungguh kami (kini) bertawassul kepada- Mu dengan paman Nabi kami. Karena itu berilah kami hujan.” Mereka pun diberi hujan.

Diriwayatkan, saat Khalifah Umar meminta hujan pada masa bencana, di akhir kata-katanya ia berdoa, “Ya Allah, sungguh saya lemah, sementara apa yang ada di sisi-Mu luas untuk mereka,”

Kemudian Ia meraih tangan Abbas dan berdoa, “Kami mendekatkan diri kepada-Mu dengan paman Nabi-Mu dan orang-orangtuanya yang masih ada serta sahabat-sahabatnya yang besar. Engkau mengucapkan firman-Mu yang mahabenar: Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu. Di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang salih (TQS aI-Kahfi [18]: 82). Saya menjaga keduanya demi kesalahan ayah mereka. Karena itu jagalah, ya Allah, Nabi-Mu dalam diri pamannya.”

Abbas pun berdoa dengan kedua mata berlinang, “Ya Allah, tidaklah musibah menimpa melainkan karena dosa. Tidaklah musibah dilenyapkan kecuali dengan tobat dan kami menghadap-Mu berkat posisiku dari Nabi-Mu. Inilah tangan-tangan kami, yang kami bentangkan kepada-Mu dengan membawa dosa-dosa, dan ubun-ubun kami, dengan tobat. Karena itu turunkanlah hujan kepada kami dan jangan Kau jadikan kami sebagai orang-orang yang berputus asa, wahai Zat yang Maha Pemurah di antara semua yang pemurah…Ya Allah berilah kami hujan-Mu sebelum tertimpa kemarau dan binasa karena sungguh tidak ada yang berputus asa dari rahmat-Mu kecuali kaum kafir.”[5]

Tiba-tiba gumpalan timbul dari awan dan orang-orang berkata, “Kalian lihat.” Gumpalan itu menyatu dan ditiup angin kemudian tenang Ialu menurunkan hujan. Demi Allah, belumlah hujan berhenti hingga mereka merangkul tembok dan menaikkan kain sarung. Orang-orang menghampiri Abbas berkata, “Selamat untukmu, wahai Penyiram Haramain.”

Salah satu riwayat menyebutkan bentuk doa Abbas pada peristiwa tersebut. “Ya Allah, sungguh tidaklah musibah menimpa kecuali karena dosa dan tidaklah hilang kecuali dengan tobat. Kaum menghadap kepada-Mu dengan perantaraanku karena posisiku dari Nabi-Mu. Inilah tangan-tangan kami membawa dosa dan ubun-ubun kami membawa tobat. Karena itu turunkanlah hujan kepada kami.” Langit tertutup seperti gunung hingga bumi pun menghijau dan orang- orang sejahtera.[6]

Fragmen di atas menunjukkan bagaimana Khalifah Umar benar-benar menggantungkan semuanya kepada Allah SWT. Khalifah menyandarkan dan melandaskan penyelesaian terhadap krisis yang melanda Madinah dalam sudut pandang keimanan dan ketakwaan. Tentu dibarengi dengan mengeluarkan kebijakan yang komprehensif, cepat dan tuntas dengan pengawalan langsung, serta mengkonsolidasi daerah-daerah sekitar agar segera memberikan membantu. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.[]Sumber

%d blogger menyukai ini: