Startup Unicorn: Dikembangkan untuk Siapa?

Di tengah mandegnya industri, startup dibesarkan dengan anggapan untuk memajukan ekonomi karena masuknya investasi. Hal ini sama saja dengan memberikan ruang ketidakberdayaan ekonomi bagi negeri. Tidak ada industri, tidak ada produksi sama dengan tidak ada kekayaan. Sama dengan bergantung pada produk negara lain. Dan mempersiapkan SDM hanya untuk menunjang pengembangan unicorn, berarti hanya menyediakan negeri ini untuk menjadi pasar produk asing.


Oleh: Ummu Syakira

MuslimahNews.comUnicorn menjadi trending topic sejak diperbincangkan dalam debat capres-cawapres bulan Februari 2019 lalu. Sebenarnya, istilah ini, dalam dunia bisnis digital sudah populer sejak lama. Sejak bisnis digital kian menggurita dengan munculnya banyak startup (perusahaan rintisan teknologi) di era ekonomi disrupsi. Di Indonesia sendiri startup mulai tumbuh sejak tahun 2010.

Startup atau perusahaan rintisan teknologi merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Startup identik dengan bisnis yang menggunakan teknologi web, internet dan semua yang berhubungan dengan internet. Umumnya startup memiliki karakteristik usia perusahaan kurang dari 3 tahun, jumlah pegawai kurang dari 20 orang, pendapatan kurang dari USD 100.000/tahun, masih dalam tahap berkembang, umumnya beroperasi dalam bidang teknologi, produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital, dan jasanya beroperasi melalui website.

Menurut Startup Ranking, saat ini Indonesia telah memiliki 2.041 startup. Jenis-jenis startup di Indonesia beragam, baik jasa transportasi, edukasi, game, maupun e commerce. Jika dibandingkan dengan dunia, Amerika Serikat memiliki startup terbanyak dengan 46.491 startup. Dari sekian banyak startup, ada beberapa startup yang diberi label unicorn. Unicorn adalah sebuah istilah untuk perusahaan (startup) yang memiliki valuasi (nilai) USD 1 miliar (Rp 14 triliun). Beberapa perusahaan unicorn di Indonesia yaitu Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Transformasi Startup menjadi Unicorn

Sebuah startup memerlukan investor atau penyandang dana untuk bisa tumbuh dan berkembang. Oleh karenanya bermunculanlah perusahaan-perusahaan modal ventura, atau biasa dikenal dengan Venture Capital (VC). VC merupakan sebuah perusahaan yang dibentuk untuk memberi investasi ke perusahaan-perusahaan startup. Sebagai timbal balik dari investasi yang telah diberikan, sebuah VC akan mendapatkan sejumlah saham dari perusahaan tersebut. Dengan harapan ketika bisa dicairkan, saham tersebut bernilai jauh lebih besar dari jumlah investasi yang telah dikeluarkan.

Dalam konteks startup unicorn, mereka memerlukan dana dalam jumlah besar untuk memperkenalkan produk, memperluas ekosistem atau merawat loyalitas pengguna secara masif. Promosi yang sifatnya setengah-setengah malah mengancam bisnis dari startup unicorn. Dalam menggalang dana, rata-rata startup di Indonesia mendapatkan suntikan investasi dari venture capital asing.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, rata-rata saham pendiri unicorn di Indonesia di bawah 10%. Sisanya, saham mereka dikuasai oleh investor asing. Contohnya, pada akhir 2018 lalu Tokopedia pernah merilis pendanaan baru sebesar USD 1,1 miliar atau setara dengan Rp 15,95 triliun (asumsi kurs saat itu USD 1 sama dengan Rp 14.500). Mengutip publikasi yang disampaikan Tokopedia saat itu, pendanaan ini dipimpin oleh SoftBank Vision Fund dan Alibaba Group dengan partisipasi Softbank Ventures Korea, serta investor-investor Tokopedia sebelumnya.

Pemegang saham tertinggi di Tokopedia kini dipegang oleh SVF Investment (UK) Limited atau SoftBank Vision Fund yang memegang saham sebesar 29,45%. Sedangkan Taobao China Holdings, perusahaan di bawah Alibaba menguasai 25,19%. Pendiri sekaligus CEO Tokopedia, William Tanuwijaya dan wakilnya Lenotinus Alpha Edison masing-masing memegang sekitar 5,6% dan 2,3% dari total saham yang dikeluarkan. Beberapa pemegang saham tokopedia lain, yang nilainya di bawah 10% di antaranya SB Group (SB Global Champ Fund, SB Global Star, SBI Ven Holding) menguasai 8,85%. Sementara SCI Investment, Sequoia Capital India memiliki 9,67%.

Benarkah Unicorn dan Startup Bisa Membangun Ekonomi Negeri?
Contoh lain, yaitu Go-jek, berdasar Laporan Cruchbase, Go-Jek telah menghimpun dana lebih dari USD 2,5 miliar dari investor asing. Investor utama Go-Jek adalah Tencent Holdings, JD.com Inc, Google dan Temasek Holdings. Oleh karenanya, suatu hal yang wajar jika ada kekhawatiran bahwa unicorn di Indonesia adalah sebuah bentuk penetrasi asing di Indonesia. Karena rata-rata venture capital bagi startup unicorn Indonesia adalah asing.

Ambisi Indonesia dalam Pasar Ekonomi Digital

Maraknya startup dan unicorn Indonesia mendapat suntikan dana dari investor asing, merupakan hal yang dibanggakan pemerintah RI saat ini. Bahkan Pemerintah menginisiasi Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital pada pertengahan 2016, yang dipelopori oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama KIBAR. Kala itu, Rudiantara, MenKominfo, menyebut bahwa gerakan tersebut, jika sukses, akan membuat Indonesia bisa menjadi world’s biggest digital power.

Bagi pemerintah, dengan memanfaatkan 107,2 juta pengguna internet di tahun 2019, startup diharap bisa menarik perhatian investor global untuk menanamkan dananya. Sehingga hal itu dapat memiliki dampak positif bagi masuknya investasi dan modal asing ke Indonesia. Terjadi capital inflow ke dalam negeri.

Dengan keyakinan bahwa startup bisa membawa kemajuan ekonomi, pemerintah melalui Menteri Keuangan menyiapkan strategi khusus. Berdasarkan arahan presiden, Sri Mulyani mengatakan, Kemenkeu diberi tugas untuk memberikan dukungan kepada pengembangan unicorn yang dilakukan dari hulu sampai ke hilir. Yaitu, pengembangan SDM, Research & Development dan infrastruktur perkembangan unicorn.

Pemerintah Indonesia juga telah meluncurkan berbagai program untuk menunjang ekonomi digital, seperti pembangunan jaringan Palapa Ring. Sejumlah faktor pendukung lainnya meliputi keterbukaan relatif pemerintah Indonesia terhadap investasi asing, peluncuran perpres mengenai roadmap e Commerce pada 2017, serta hadirnya inkubator buatan instansi negara seperti IDX Incubator dari Bursa Efek Indonesia.

Ketertarikan Investor Asing terhadap Unicorn Indonesia

Kawasan Asia tenggara merupakan Kawasan padat penduduk yang menggiurkan secara pasar. Dalam Forum WEF (World Economic Forum) tahun 2018 lalu, Kawasan Asia Tenggara disebut sebagai komunitas ekonomi terbesar keempat di dunia. Tidak heran jika Kawasan ini disorot sebagai kawasan strategis dalam perekonomian. Hal ini disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk khususnya angkatan muda di kawasan ini.

Penerapan teknologi kecerdasan buatan (Artificial intelligence /AI) di perusahaan-perusahaan Asia Tenggara berpotensi mengatasi berbagai masalah pengumpulan data di bidang keuangan yang membuka kesempatan meraih keuntungan tahunan senilai USD 311 miliar (sekitar Rp4,3 kuadriliun).

Indonesia saat ini merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi hingga lima puluh persen dari seluruh transaksi di wilayah ini. Besarnya transaksi di wilayah ini ditunjang oleh kemudahan warga Indonesia memiliki smartphone. Hingga saat ini, warga Indonesia pemilik smartphone mencapai 40 persen dari total populasi atau sekitar 106 juta orang. Harga paket data seluler yang relatif murah dibanding negara Asia Tenggara lainnya turut memudahkan konsumen Indonesia untuk berbelanja dengan perangkat mobile (online).

Selain itu, Sekitar 87 juta orang atau sepertiga populasi Indonesia berusia 16 hingga 35 tahun, dan sekitar 100 juta orang kini terdaftar di bank. Kondisi demografi yang didominasi pemuda serta memiliki akun perbankan, membuat penduduk Indonesia terbiasa bertransaksi digital.

Menurut data yang dihimpun AJ Kearney dan Google dari berbagai sumber, angka Gross Domestic Product (GDP) per kapita di Indonesia akan naik dari angka USD 3600 (sekitar Rp48 juta) di tahun 2016 menjadi USD 5700 (sekitar Rp76 juta) di tahun 2021. Hal ini akan dibarengi dengan peningkatan penetrasi internet sehingga Jumlah orang yang berbelanja online di Indonesia bisa meningkat dari angka 11 juta menjadi 42 juta orang di tahun 2021 nanti.

Tentu saja Indonesia adalah sebuah ceruk pasar yang menggiurkan bagi para pemilik modal untuk berbisnis di Indonesia. Penguasaan data dan pasar adalah hal yang penting bagi para pemilik modal dalam mengembangkan sayap bisnis di negeri ini. Startup dan unicorn merupakan jalan termudah dan termurah dalam mengambil pasar negeri ini. Inilah yang menyebabkan investor asing antusias dan tertarik untuk investasi dan menyuntikan dananya ke startup dan unicorn Indonesia.

Executive Director Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan ada dua hal bisa didapatkan para investor tersebut dari suntikan modalnya ke startup unicorn. Pertama, pengembalian investasi yang tinggi. Para investor asing melihat potensi bisnis besar yang dikembangkan oleh startup unicorn.

Kedua, data. Investor bisa mendapatkan data yang dapat digunakan investor untuk mengembangkan bisnisnya. Contohnya, perusahaan Toyota Corp yang menyuntikan dana ke Grab untuk mendapatkan data soal perilaku pengemudi. Data ini digunakan untuk mengembangkan perangkat manajemen armada yang efisien yang akan menekan biaya asuransi yang lebih rendah.

Bayangkan saat Unicorn Indonesia seperti Tokopedia, Bukalapak, Gojek, dan Traveloka saham terbesarnya dikuasai oleh investor asing. Saat awal masuknya modal, memang ada dana masuk ke dalam negeri. Namun, dalam sepuluh tahun kemudian, saat nilai perusahaan empat unicorn tersebut menjadi puluhan kali lipat dibanding sekarang, lalu perusahaan ini dijual atau melakukan IPO (Initial Public Offering), maka keuntungan terbesar akan didapat oleh investor.

Selain itu, data kosumen yang menjadi pasar di negeri ini sudah pasti dikuasai oleh asing. Jika Gojek bergerak di bidang layanan transportasi, dan pembayaran, maka investor asing Gojek dapat mengetahui data-data perilaku pengemudi, dan pengguna pembayaran aplikasi Gojek. Data ini bisa dimanfaatkan oleh perusahaan asing untuk memproduksi barang dan jasa bagi konsumen Gojek sesuai dengan keinginan konsumen tanpa ada produsen pesaing.

Demikian pun jika data pengguna Tokopedia dikuasai investor asing, maka investor bisa mengetahui dengan persis barang-barang kebutuhan konsumen di Indonesia untuk memproduksi barang yang dibutuhkan dan sudah pasti langsung terserap pasar. Dengan demikian penguasaan saham unicorn dapat menyebabkan penguasaan data, dan penguasaan pasar serta monopoli pasar.

Benarkah Unicorn dan Startup Bisa Membangun Ekonomi Negeri?

Pada dasarnya, Perusahaan startup, adalah perusahaan penyedia jasa dengan menggunakan teknologi digital dalam bentuk aplikasi yang memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhannya. Contohnya, Gojek. Go jek, mengembangkan teknologi untuk membuat aplikasi yang memudahkan masyarakat dalam mencari kendaraan sewa untuk digunakan. Dalam hal ini, Gojek hanya mempertemukan driver dengan orang yang membutuhkan kendaraan dan sopir. Demikian pun startup marketplace. Hakikatnya mempertemukan pedagang dengan pembeli melalui aplikasi.
Penggunaan teknologi untuk mempermudah jual beli pada dasarnya boleh atau mubah. Berdasarkan hadits “antum ‘alamu bi umuurid dunyakum” (kalian lebih tahu urusan dunia kalian).

Hanya saja riilitas bisnis Startup unicorn saat ini, rata-rata tidak mendapat keuntungan dari jasa penggunaan teknologi digital milik mereka. Maka untuk itu, startup membiayai operasional perusahaan dan mengembangkan bisnis serta membangun ekosistem bisnisnya dengan menggandeng investor. Para venture capital berlomba menggelontorkan dana/modal untuk membiayai perusahaan startup yang dinilai bisa memberikan keuntungan. Saat valuasi perusahaan semakin tinggi, maka perusahaan ini bisa dijual dengan harga yang sangat tinggi, atau melakukan IPO (Initial Public Offering/Penawaran saham perdana ke publik) dengan harga saham per lembar yang tinggi. Saat itulah perusahaan mendapat keuntungan, dan pemberi modal pun mendapat keuntungan.

Permainan bisnis ala startup inilah yang sebenarnya kelak akan menggoncang ekonomi, karena investasinya lebih condong ke sektor non riil. Yang menggelembungkan ekonomi untuk pecah. Selain itu, ekonomi sektor non riil ini, bertentangan dengan sistem Islam. Hukum jual beli Saham di lantai Bursa Saham juga haram karena didalamnya terdapat riba dan akad syirkah yang batil.

Startup dan unicorn juga ternyata dijadikan jalan bagi perusahaan-perusahaan kapitalis untuk menguasai data dan pasar. Mencuri dan menguasai pasar kaum muslimin. Hal ini berbahaya karena akan menjadi jalan penguasaan asing atas kaum Muslimin melalui ekonomi. Padahal Allah SWT berfirman yang artinya “dan Sekali-kali Allah tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman” (TQS: An Nisa: 141).

Jika Indonesia menjadikan ekonomi digital sebagai mercusuar perekonomian, dan mengabaikan industri, maka ini akan menjadi bahaya besar bagi negeri ini. Di tengah mandegnya industri, startup dibesarkan dengan anggapan untuk memajukan ekonomi karena masuknya investasi. Hal ini sama saja dengan memberikan ruang ketidakberdayaan ekonomi bagi negeri. Tidak ada industri, tidak ada produksi sama dengan tidak ada kekayaan. Sama dengan bergantung pada produk negara lain. Dan mempersiapkan SDM hanya untuk menunjang pengembangan unicorn, berarti hanya menyediakan negeri ini untuk menjadi pasar produk asing.

Seharusnya, jika pemerintah ingin menguasai ekonomi digital, maka teknologi digital harus dikuasai secara mandiri. Karena teknologi ini merupakan hal strategis yang harus dikuasai oleh negara. Penguasaan ekonomi digital juga harus mandiri dari sisi pendanaan sehingga negara bisa menguasai data dan pasar di negeri ini. Sekaligus mencegah penguasaan data dan pasar oleh asing. Dan mencegah monopoli pasar oleh asing.

Sehingga negeri ini akan bisa mengembangkan industri yang bersifat ekonomi untuk kebutuhan rakyat tanpa meninggalkan industri berat dan industri strategis berbasis miiter. Untuk bisa mandiri dalam industri dan penguasaan ekonomi, negeri ini memerlukan kedaulatan mutlak. Kedaulatan berlandaskan mabda‘ Islam dalam bentuk negara Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam.[]

Apa komentar Anda?