Islam, Jalan Pembebasan bagi Perempuan

Dalam kapitalisme, perempuan justru dimiskinkan. Dan setelah itu, mereka seolah diberi kebebasan, tapi kebebasan yang dimaksud adalah bebas untuk menjadi budak, yakni sebagai mesin pemutar mesin produksi dan kapstok berjalan sekaligus pangsa pasar bagi produk-produk para kapitalis.


Oleh : Siti Nafidah Anshory

Potret Buram Perempuan

MuslimahNews, FOKUS — Tak seorangpun bisa memungkiri jika kondisi kaum perempuan hari ini masih sangat memprihatinkan. Berbagai persoalan terus membelit kehidupan mereka. Kemiskinan, kekerasan, diskriminasi dan ketidakadilan seolah tak bisa lepas dari potret kehidupan mereka. Dan ini terjadi merata di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Menurut data World Bank 2018, sebanyak 736 juta orang di seluruh dunia masih mengalami kemiskinan parah (pendapatan di bawah 1,9 dolar AS per hari), dan mayoritasnya adalah perempuan. Sementara di Indonesia, sebuah negeri kaya raya dan disebut jamrud katulistiwa, kemiskinanpun masih jadi PR besar. Data resmi BPS di akhir 2018 menyebut ada 9,66 persen penduduk miskin di Indonesia, dengan standar garis kemiskinan yang sangat rendah dan tak manusiawi, yakni Rp. 401.220 per kapita per bulan. Dan ditengarai juga mayoritasnya adalah kaum perempuan.

Inilah yang menyebabkan kualitas hidup perempuan begitu rendah. Di Indonesia, jutaan perempuan di atas usia 15 tahun masih buta aksara karena sulitnya mengakses pendidikan. Jutaan perempuan pun rentan dengan penyakit yang identik dengan kemiskinan. Kasus-kasus semacam TBC, gizi buruk, malaria, disentri dan kematian ibu saat melahirkan masih sangat tinggi.

Kemiskinan pun telah mendorong puluhan juta kaum perempuan Indonesia terjebak dalam dunia kerja yang tak ramah dan tak memihak perempuan. Sebagian diantara mereka hidup di kawasan-kawasan industri yang kumuh untuk menjadi roda pemutar mesin-mesin pabrik milik para kapitalis asing dengan upah yang dihargai murah. Sebagiannya lagi bekerja di sektor-sektor informal yang tak menjanjikan kemudahan. Jutaan lainnya lagi berbondong-bondong menjadi buruh migran sekedar untuk menjual tenaga sebagai pembantu rumah tangga, bahkan di antaranya menjadi korban sindikat perdagangan perempuan.

Tak sedikit yang karena bekal pendidikan dan skill rendah mereka mendapatkan masalah di tempat-tempat kerja mereka. Puluhan ribu buruh migran perempuan asal Indonesia terpaksa harus berhadapan dengan hukum. Sebagian di antaranya antre menunggu vonis dan menunggu detik-detik saat eksekusi mati dilangsungkan. Sementara itu, ribuan lainnya terlunta-lunta di kolong-kolong jembatan Arab Saudi, atau dikejar-kejar polisi karena dituding sebagai pekerja illegal dan pendatang haram sebagaimana yang terjadi di Malaysia. Yang mengerikan, ratusan di antaranya akhirnya harus mati sia-sia, termasuk yang bunuh diri karena sudah sangat putus asa.

Dampak kemiskinan lain yang dikukuhkan oleh merebaknya paham liberalisme dan hedonism adalah terjebaknya kaum perempuan dalam bisnis kotor semacam pelacuran dan pornografi. Ini ditunjukkan dengan jumlah pelacur “legal” di lokalisasi dan pelacur “illegal” di jalanan yang kian hari kian bertambah. Dan di antara mereka kebanyakan adalah gadis-gadis belia. Dampak lanjutannya bisa ditebak. Penyakit menular seksual termasuk HIV/Aids pun makin merebak. Bahkan, setidaknya ada tak sedikit ibu rumah tangga dan anak yang akhirnya terinfeksi virus hiv/aids dari suami-suami atau ayah mereka.

Terkait pornografi, Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu surga bagi bisnis pornografi di dunia. Realitas ini telah berdampak pada rusaknya moral anak-anak muda yang senyatanya memang tak terdidik maksimal oleh ibu-ibu mereka yang kebanyakan berperan ganda. Tahun 2010 saja, dilaporkan, di negeri dengan penduduk muslim terbesar ini, separuh remaja perempuannya sudah kehilangan kegadisan. Kasus kehamilan di luar nikah dan aborsi pun terus meningkat, termasuk yang dilakukan oleh remaja.

Merebaknya pornografi inipun telah menyebabkan gairah seksual kaum laki-laki seperti sulit dibendung lagi. Hingga akhir-akhir ini mencuat pula kasus-kasus kekerasan seksual yang terkadang berujung maut, baik dialami perempuan di dalam rumah, angkutan-angkutan umum, bahkan di sekolah. Dan pelakunya pun bisa siapa saja. Orang tua termasuk ayah, remaja, bahkan anak kecil. Diluar kasus yang berbau kekerasan, sex party pun kini jadi tren di kalangan tertentu.

Inilah sebagian potret buram kaum perempuan di belahan dunia, khususnya di Indonesia, sebuah negeri besar dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Sungguh mengerikan.

Terpenjara Kapitalisme

Sebagian kalangan –khususnya para feminis—percaya, bahwa semua ini adalah akibat diskriminasi gender yang dikukuhkan oleh budaya dan agama, terutama Islam. Hingga mereka bersikukuh menyalahkan Islam dan menawarkan feminisme dengan jargon “kesetaraan dan keadilan gender” sebagai jalan pembebasan perempuan.

Padahal, telah nyata bahwa akar permasalahan semua persoalan perempuan adalah penerapan sistem kapitalisme yang lahir dari rahim sekularisme. Terlebih, semua persoalan yang mereka klaim sebagai persoalan perempuan sesungguhnya merupakan persoalan umat secara keseluruhan. Dan merekapun tak bisa menutup mata, bahwa kemiskinan, kekerasan, diskriminasi dan ketidakadilan tersebut telah menjadi potret bersama, baik laki-laki maupun perempuan di berbagai belahan dunia.

Kapitalisme memang seolah telah menjadi penjara besar bagi umat manusia, termasuk kaum perempuan. Prinsip sekularisme dan liberalisme yang menjadi asasnya justru telah memunculkan kesengsaraan luar biasa dan mengungkung umat manusia, tak terkecuali perempuan, untuk terus berada dalam kesengsaraan itu.

Kebebasan memiliki yang termanifestasikan dalam penerapan sistem ekonomi kapitalistik telah menyebabkan hegemoni tanpa batas dari para pemilik modal (yang berkolaborasi dengan kekuasaan politik) atas aset-aset milik umum serta mendorong eksploitasi besar-besaran atas sumber daya alam, lingkungan bahkan nilai-nilai kemanusiaan. Akibatnya, distribusi kekayaan begitu timpang dan gap sosial begitu lebar menganga. Kemiskinanpun secara struktural terus terjaga hingga taraf yang mengerikan dan berimplikasi pada persoalan lain, termasuk munculnya masalah-masalah sosial dan kerusakan lingkungan yang sedemikian parah.

Standar perbuatan yang absurd dan bertumpu hanya pada “kemaslahatan” sebagaimana yang tercermin dalam prinsip kebebasan berperilaku dan kebebasan beragama, juga telah menumbuhsuburkan praktek haram seperti riba dan bisnis haram semacam prostitusi, pornografi, miras, dll. Bahkan bagi kapitalisme semua bisnis haram ini dianggap sebagai “penggerak ekonomi bayangan” dan menjadi solusi kemiskinan yang dilegalkan dan digunakan sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi, sekalipun semuanya terbukti telah menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan dan moralitas.

Kerusakan ini kemudian dikukuhkan oleh keberadaan prinsip kebebasan berpendapat yang mengerdilkan peran kontrol sosial dan penjagaan negara atas nama penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan. Akibatnya, muncullah efek domino sebagaimana yang telah disebutkan di awal pemaparan.

Dengan prinsip-prinsip di atas, jelas bahwa kapitalisme memang tak mungkin menempatkan kaum perempuan dalam posisi sepantasnya. Semua prinsip kebebasan yang ditawarkannya hanyalah racun berbalut madu yang membunuh keperempuanan bahkan kemanusiaan secara perlahan.

Dalam kapitalisme, perempuan justru dimiskinkan. Dan setelah itu, mereka seolah diberi kebebasan, tapi kebebasan yang dimaksud adalah bebas untuk menjadi budak, yakni sebagai mesin pemutar mesin produksi dan kapstok berjalan sekaligus pangsa pasar bagi produk-produk para kapitalis.

Bahkan lebih kejam dari itu, selain demi target ekonomi, para pengemban kapitalisme, telah menjadikan perempuan dengan posisi strategisnya sebagai pendidik generasi, sebagai alat untuk melemahkan sebuah bangsa khususnya negeri-negeri kaum Muslimin, agar negeri-negeri tersebut tetap berada dalam cengkramannya. Artinya, upaya merusak kaum perempuan memiliki target ideologis, yakni demi mempertahankan hegemoni kapitalisme.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengekspor paham-paham semacam feminisme ke dunia Islam. Dengan feminisme-lah para pengemban kapitalisme memprovokasi kaum perempuan untuk keluar dari rumah-rumah mereka; memprovokasi kaum prempuan untuk menanggalkan kemuliaan dan keiffahan mereka; serta memprovokasi kaum perempuan untuk menanggalkan kebanggaan menjadi ibu dan pengatur rumah tangga; memprovokasi kaum perempuan untuk membeci Islam yang ditampilkan sebagai penghambat kemajuan dan mendiskriminasi mereka.

Merekapun gencar memperkenalkan patron baru tentang wanita modern dan konsep kesejajaran tanpa batas dengan kaum laki-laki. Hingga tak sedikit kaum perempuan yang terkecoh dan termakan propaganda mereka.

Pemberdayaan politik perempuan, pemberdayaan ekonomi perempuan, dll akhirnya menjadi slogan yang bergaung di seantero dunia, menggoncang struktur keluarga dan masyarakat mereka hingga kasus perceraian merajalela, dan muncul generasi berkepribadian lemah akibat tak terdidik oleh para ibu dan keluarga mereka. Dan akhirnya, kian kukuhlah penjajahan kapitalisme global di negeri-negeri mereka.

Islam Jalan Pembebasan

Adapun Islam, yang aturan-aturannya menjamin kesejahteraan hakiki justru mereka abaikan. Islam yang hakekatnya menjaga kemuliaan mereka, justru ditinggalkan.

Padahal Islam memberi aturan yang bisa menghentikan hegemoni kapitalisme global yang terbukti telah memiskinkan umat manusia. Islam pula yang akan membersihkan semua kotoran yang memperlemah potensi perlawanan mereka.

Dan atas halnya perempuan, Islamlah yang justru akan memberi mereka kebebasan yang sebenarnya sekaligus memberi mereka penjagaan yang sempurna. Islam pula yang telah dan akan memberi mereka kesetaraan hakiki, yakni kesetaraan yang tak sebatas materi/duniawi tapi lebih bersifat ruhiy dan abadi, dimana Islam memberi kesempatan kepada mereka untuk memperoleh derajat kemuliaan tertinggi di sisi Allah SWT dengan menjadi ahli surga sebagaimana juga laki-laki.

Ini dikarenakan, Islam adalah din yang berasal dari Dzat pencipta manusia –laki-laki dan perempuan–, alam dan kehidupan seluruhnya. Dia datang dari Dzat Yang Maha Sempurna, Maha Tahu, Maha Adil dan Maha Bijaksana, yakni Allah SWT.

Allah SWT telah menetapkan bahwa penciptaan manusia –baik laki-laki maupun perempuan—adalah dalam kerangka penghambaan dan dengan misi pengelolaan dan lestarinya kehidupan manusia di muka bumi (menjadi khalifah fil ardh). Dengan demikian, dalam pandangan Islam, keduanya memiliki peran yang sama penting yang tak bisa diabaikan satu sama lain.

Dalam kerangka itulah aturan-aturan Islam datang, meski adakalanya aturan di antara keduanya sama, dan adakalanya aturan itu berbeda. Sama, ketika perempuan dan laki-laki dilihat dari sisi kemanusiaan yang memang sama. Berbeda ketika perempuan dan laki-laki dilihat dari sisi seksualitas yang memang tak bisa dipungkiri berbeda.

Dengan demikian, apa yang ditudingkan musuh bahwa aturan Islam mendiskriminasi perempuan adalah salah dan fitnah belaka. Dengan menebar fitnah itu, mereka hendak berupaya menghapus loyalitas umat Islam terutama kaum perempuan terhadap Islam yang menjadi kunci kemuliaan umat dan mengalihkan loyalitas itu pada paham-paham mereka demi mengukuhkan penjajahan.

Akan tetapi upaya mereka tak akan pernah berhasil. Terlebih telah terbukti nyata bahwa apa yang mereka propagandakan justru telah menimbulkan kehancuran.

Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan bahwa peran utama kaum perempuan adalah penjaga generasi, yakni sebagai ibu dan manajer rumahtangga. Sebuah peran yang sangat strategis dan politis bagi sebuah bangsa atau umat. Untuk itu, Allah SWT menetapkan berbagai aturan yang menjaga kaum perempuan dan menjaga kehormatan mereka sehingga posisi strategis itu bisa berjalan sebagaimana seharusnya.

Islam menetapkan aturan bahwa ada dua kehidupan bagi manusia, yakni kehidupan umum di luar rumah dan kehidupan khusus di dalam rumah. Di dalam rumah, kaum perempuan hidup sehari-hari bersama mahram dan kaum mereka. Sehingga siapapun yang hendak memasuki kehidupan khusus orang lain wajib meminta izin kepada pemilik rumah demi menjaga aurat dan kehormatan mereka.

Islam juga membuka ruang bagi kaum perempuan untuk masuk dalam kehidupan umum, berkiprah dalam aktivitas-aktivitas yang dibolehkan semacam berjual beli, maupun untuk melaksanakan aktivitas yang diwajibkan syariat, seperti menuntut ilmu dan berdakwah. Namun dalam kehidupan umum ini, Islam mewajibkan kaum perempuan menggunakan pakaian khusus yang menutup semua aurat mereka, yakni jilbab dan kerudung, melarang ber-tabarruj dan memerintahkan laki-laki dan perempuan menjaga pandangan mereka, melarang mereka berkhalwat, serta memerintahkan kaum perempuan yang hendak bepergian jauh untuk disertai mahramnya. Sehingga dengan aturan-aturan ini, kehormatan keduanya akan selalu terjaga dan terhindar dari kerusakan moral semacam pergulan bebas dan tindak kejahatan seksual sebagaimana yang kerap terjadi dalam masyarakat kapitalistik sekarang ini berikut segala dampaknya yang rusak dan merusak.

Agar tugas utamanya sebagai pencetak dan penjaga generasi, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga berjalan dengan baik dan sempurna, Islam telah memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dengan menetapkan beban nafkah dan peran sebagi kepala keluarga ada pada pundak suami, bukan pada dirinya. Sehingga dia tidak usah bersusah payah bekerja ke luar rumah dengan menghadapi berbagai resiko sebagaimana yang dialami perempuan-perempuan bekerja dalam sistem kapitalis sekarang ini.

Bahkan negara akan memfasilitasi para suami untuk mendapatkan kemudahan mencari nafkah dan menindak mereka yang lalai dalam melaksanakan kewajibannya. Juga mewajibkan para wali perempuan untuk menafkahi, jika suami tidak ada. Dan jika pihak-pihak yang berkewajiban menafkahi memang tidak ada, maka negaralah yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan para ibu.

Demi suksesnya peran strategis tersebut, Islampun tak membebani perempuan dengan tugas-tugas berat yang menyita tenaga, pikiran dan waktunya seperti dengan menjadi penguasa. Islam hanya mewajibkan mereka mengontrol penguasa dan menjaga pelaksanaan syariat di tengah umat dengan aktivitas dakwah dan muhasabah, baik secara individu maupun secara jamaah. Islam bahkan mewajibkan para penguasa menyediakan seluruh fasilitas yang menjamin pelaksanaan tugas mereka sebagai ibu generasi, yang mencetak generasi pemimpin, seperti halnya fasilitas pendidikan dan kesehatan sehingga kaum perempuan memiliki kecerdasan sebagai pendidik dan kualitas kesehatan yang mumpuni, juga kewajiban menjamin keamanan bagi rakyat yang memungkinkan kaum perempuan bisa berkiprah di ruang publik sesuai batasan syariat yang diberikan.

Dalam hal ini, Islam tak memandang posisi kepala keluarga lebih tinggi dari ibu rumah tangga, atau posisi penguasa lebih mulia dari rakyat jelata sebagaimana dalam pandangan kapitalisme. Yang dilihat dalam Islam justru seberapa jauh kepatuhan dan keoptimalan masing-masing dalam menjalankan peran-peran yang Allah SWT berikan itu.

Sejarah Agung

Perlindungan dan pemenuhan kesejahteraan perempuan bahkan rakyat secara keseluruhan oleh negara telah banyak dibuktikan dalam sejarah pemerintahan Islam. Bukti-bukti tentang tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat di bawah naungan Islampun telah banyak dituliskan.

Salah satu contohnya adalah peristiwa pengepungan entitas Yahudi Bani Qainuqa selama 15 hari hingga menyerah kalah oleh pasukan Rasulullah Saw sebagai jawaban atas keberanian mereka melakukan pelecehan terhadap seorang Muslimah di pasar mereka. Begitupun peristiwa penaklukkan wilayah Amuria oleh tentara khalifah Mu’tashim Billah yang awalnya dipicu oleh peristiwa pelecehan seorang Muslimah oleh penduduk Amuria di wilayah perbatasan.

Apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab ra juga menunjukkan bagaimana Islam melindungi dan menjamin kesejahteraan perempuan, bahkan rakyat secara keseluruhan. Beliau yang kekuasaannya sudah melewati batas-batas semenanjung Arabia telah terbiasa melakukan patrol untuk memastikan semua penduduk terpenuhi kebutuhannya.

Beliau bahkan tak ragu memanggul karung berisi gandum demi memenuhi kebutuhan seorang ibu dan anaknya karena kesadaran penuh akan tanggungjawab sebagai kepala negara di sisi Allah SWT. Beliaupun pernah menetapkan kebijakan menggilir pasukan jihad per empat bulan demi mendengar keluhan seorang isteri tentara yang merindukan suaminya.

Sungguh telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa Islam yang direpresentasikan oleh negara Islam (Khilafah Islamiyah) begitu memuliakan perempuan, menyejahterakan kehidupan mereka, bahkan umat secara keseluruhan. Namun sayang hari ini, umat Islam tak memiliki negara yang bisa menerapkan hukum-hukum tersebut, setelah lebih dari 95 tahun yang lalu dihancurkan oleh musuh-musuh Islam.

Sesungguhnya kehinaan yang menimpa kaum perempuan dan umat Islam secara keseluruhan pada hari ini tidak perlu terjadi. Mereka punya potensi untuk bangkit kembali menjadi umat yang mulia sebagaimana yang seharusnya, baik potensi geologis dan geografis, yakni berupa sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah ruah, juga potensi ideologis yakni ideologi Islam yang tegak di atas asas yang shahih dan memiliki seperangkat aturan yang dipastikan mampu menyelesaikan seluruh problematika manusia dengan penyelesaian yang sempurna dan memuaskan.

Inilah yang seharusnya menjadi agenda perjuangan umat Islam termasuk para Muslimah. Yakni bagaimana agar Islam kembali diterapkan sebagai aturan kehidupan melalui penegakkan institusi Khilafah yang mendunia.

Jika ideologi Islam ini tegak, dipastikan hegemoni kapitalisme yang memiskinkan dan menghinakan perempuan akan bisa ditumbangkan, dan kemuliaan umat termasuk kaum perempuan akan kembali diwujudkan. Insya Allah.[]

#PerempuanRinduKepemimpinanIslam

#PerempuanButuhPemimpinJujurdanAmanah

%d blogger menyukai ini: