Pertempuran Ayn Jalut: Saat Mamluk Menghentikan Laju Imperium Mongol

Bagi bangsa Mongol, Ayn Jalut adalah titik tertinggi dari ekspansi mereka ke barat. Dalam lima tahun berikutnya, imperium Mongol hancur oleh perang saudara. Dengan begitu, supremasi Mongol telah berakhir.


MuslimahNews.com — Saat berada di atas puncak kekuatan mereka, orang-orang Mongol mengendalikan wilayah imperium terbesar dalam sejarah. Mereka menempati urutan kedua, setelah imperium Inggris, secara global. Pada abad ke-13, seseorang dapat melakukan perjalanan dari ujung Polandia sampai ke Korea dan sepanjang perjalanan itu ia tidak akan pernah meninggalkan wilayah Mongol. Namun semua kekaisaran tak dapat menghindari nafsu untuk memperluas wilayah dan kemudian mengalami penurunan. Momen itu datang untuk imperium yang dibangun oleh Mongol pada tahun 1260 di Pertempuran Ayn Jalut.

Bangsa Mongol memulai penaklukan mereka di Timur Tengah pada tahun 1258 ketika Baghdad, pusat budaya dan ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, jatuh dalam riuhnya kekerasan. Perkiraan yang mendekati valid dari perebutan kota Baghdad saat itu menempatkan jumlah kematian pada angka 200.000 orang. Seiring dengan pembantaian penduduk, para penyerbu dari Mongol juga menghancurkan masjid dan perpustakaan Baghdad, termasuk Baitul Hikmah (House of Wisdom) yang terkenal.

Saksi mata mengatakan bahwa ketika penjarahan selesai, Sungai Tigris menjadi hitam kelam disebabkan oleh tinta dari buku-buku yang dibuang ke air. Dengan menghilangkan literasi hasil pembelajaran selama berabad-abad, bangsa Mongol jelas berusaha menghancurkan semua elemen pemerintahan Muslim di Timur Tengah.

Saat runtuhnya ibukota kekhalifahan, satu-satunya kekuatan di wilayah ini yang tersisa untuk melawan penjajah adalah Mamluk.

Mereka adalah prajurit legendaris, yang dulunya merupakan budak, masuk Islam dan kemudian dilatih untuk bertempur sebagai pasukan elit, sama kuatnya dengan kavaleri yang terampil seperti pasukan Mongol. Hanya beberapa tahun sebelumnya, Mamluk telah menggulingkan mantan tuan mereka dan membangun kerajaan mereka sendiri yang membentang dari Mesir hingga Timur Tengah. Pada masanya, mereka telah menyerang beberapa wilayah yang masih dimiliki orang Kristen di bawah panji-panji negara-negara Tentara Salib.

Saat bangsa Mongol merupakan ancaman eksistensial bagi bangsa Mamluk, mereka juga ditakuti oleh orang-orang Kristen. Para penjajah telah memusnahkan tentara di Rusia, Polandia dan Hongaria satu generasi sebelumnya. Dan dengan pasukan Mongol melanjutkan pawai mereka ke arah barat, hal yang tak terpikirkan akan terjadi: gencatan senjata antara Muslim dan Kristen Eropa.

Pada tahun 1260, negara-negara Salib memberikan laluan yang aman bagi Mamluk untuk melewati wilayah mereka dalam rangka mencegat pasukan Mongol. Itu adalah contoh kasus “musuh dari musuhku adalah musuh yang lebih besar.”

Kedua belah pihak bertemu pada 3 September tahun itu di Ayn Jalut, atau “Musim Semi Goliath,” sebuah tempat yang dinamai dengan nama tokoh terkenal dalam kitab Perjanjian Lama.

Tepatnya berapa banyak pasukan yang beraksi di sana tidak diketahui, tetapi saat itu orang-orang Mongol membagi pasukan besar mereka menjadi 10.000 hingga 12.000 prajurit yang disebut Tumens. Setidaknya satu Tumen bertempur di Ayn Jalut, yang kemungkinan mewakili sebuah detasemen kecil pasukan utama Mongol. Di pihak lain, Mamluk menurunkan pasukan jauh lebih banyak, sebanyak 20.000 orang.

Bagaimanapun, itu adalah urusan darah. Kedua belah pihak menggunakan taktik kavaleri gaya “pukul dan lari” yang sama dan tak lama kemudian medan perang menjadi huru-hara yang kacau balau, serangan balik dan mundur. Pemanah yang dipasang di kedua sisi mengitari medan perang dan menghujani panah pada para pejuang dan satu sama lain.

Menariknya, Ayn Jalut juga merupakan pertempuran pertama dalam sejarah yang menggunakan senjata api. Sementara itu diyakini bahwa bangsa Mongol pertama kali memperkenalkan penemuan bubuk mesiu Cina ke dunia Muslim pada abad ke-13. Mamluk mengerahkan beberapa bagian pasukan artileri yang menggunakan meriam manual pertama di Ayn Jalut.

Meskipun sangat tidak akurat dengan standar apa pun, terutama jika dibandingkan dengan busur Mongol, senjata meriam pertama itu membuat suara yang cukup untuk menakuti kuda musuh. Dan meskipun penggunaan meriam tangan Mameluk bukan merupakan hal yang penting dalam pertempuran, tetapi hal itu menunjukkan bahwa mereka mencoba setiap senjata yang mungkin diketahui oleh mereka untuk menghentikan laju pasukan Mongol.

Bersamaan dengan pertempuran yang berkecamuk, korban semakin bertambah. Di antara mereka adalah Kitbuga, pemimpin pasukan Mongol yang ditangkap dan dihukum mati. Pasukan Mamluk bertempur dengan sengit, dimotivasi oleh jenderal mereka sendiri, Saifudin Qutuz.

Ada cerita yang beredar bahwa dalam pertempuran, Saifudin Qutuz beberapa kali menanggalkan penutup kepalanya sehingga para pasukannya akan mengenalinya dan menyerbu dengan cepat ke dalam barisan musuh. Tidak seperti begitu banyak lawan Mongol sebelumnya, pasukan Mamluk menolak untuk menghabisi dan menimbulkan kerugian besar pada musuh. Pada akhir pertempuran, para penyerbu dari Mongol itu terpecah-belah dan melarikan diri.

Dengan kalahnya Mongol, Timur Tengah diselamatkan dari dominasi asing. Lima ratus tahun budaya, literasi dan pembelajaran Islam, yang menjadi pondasi “kemajuan” Barat hari ini, telah diselamatkan. Kemenangan itu juga mengokohkan Mamluk sebagai kekuatan utama di Timur Tengah.

Satu generasi kemudian, prajurit-prajurit Mamluk yang terkenal pada akhirnya mengusir orang-orang Kristen dari wilayah itu, mengakhiri eksperimen 200 tahun di negara-negara Tentara Salib.

Bagi bangsa Mongol, Ayn Jalut adalah titik tertinggi dari ekspansi mereka ke barat. Dalam lima tahun berikutnya, imperium Mongol hancur oleh perang saudara. Dengan begitu, supremasi Mongol telah berakhir.[]Sumber

%d blogger menyukai ini: