Perang Total VS Perang Badar: Adu Kecerdasan Intelijen (Belajar Sejarah Peperangan Nabi Muhammad ﷺ)

Belajar dari Sirah Nabawiyyah, semoga energi umat tidak habis untuk bertikai dengan sesama umat Islam, tapi bisa diarahkan untuk berhadapan dengan musuh sejati umat Islam, yakni orang kafir dan kekufurannya; dan difokuskan untuk menyongsong kejayaan Islam.


Oleh Yuana Ryan Tresna (Penulis Buku “Muhammad Saw On The Art Of War”)

MuslimahNews, FOKUS — Sebagaimana kita ketahui, TKN 01 sudah mendeklarasikan “Perang Total”. Demikian juga dengan BPN 02 menyambutnya dengan “Perang Badar”. Sebenarnya saya punya catatan kritik pada kedua istilah tersebut. Tapi tulisan ini tidak dimaksudkan untuk itu. Saya hanya ingin menyuguhkankan tesis, bahwa keberhasilan “perang” itu sangat ditentukan oleh perang pendahuluan, yakni perang intelijen. Ya, adu kecerdasan intelijen. Sekarang kita akan tengok bagaimana keberhasilan peperangan yang Rasulullah lakukan, baik yang diikuti langsung maupun yang tidak.

Berikut adalah penggalan catatan lama dari buku yang pernah saya tulis:

Rasulullah ﷺ sejak awal telah membuat batasan tentang siapa lawan dan siapa kawan. Kawan beliau tentu adalah orang-orang yang mendukung perjuangannya dalam menegakkan Islam dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru dunia. Disamping itu ada juga persahabatan pribadi yang tidak terlalu berarti bagi Rasulullah ﷺ, contohnya persahabatan dengan an-Najasyi, seorang Raja Habasyi.

Ketika berbicara siapa lawan, maka Rasulullah telah menentukan bahwa yang menjadi lawan beliau adalah pihak-pihak yang menghalangi penyebaran dakwah Islam sekaligus memusuhi beliau dengan para sahabatnya.

Musuh-musuh beliau adalah:

1. Orang-orang Yahudi. Setelah kepemimpinan berada pada Rasulullah dan agama mereka dihapus sekaligus digantikan dengan agama yang dibawa oleh Rasulullah, mereka akhirnya menjadi pihak yang memusuhi Rasulullah ﷺ. Orang-orang Yahudi adalah musuh yang sangat licik dan cerdik. keberadaan mereka sangat berbahaya, baik yang ada di Madinah maupun yang berada di luar Madinah. Hal ini menuntut Rasulullah harus bersikap waspada terhadap makar mereka yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Tak heran, jika Rasulullah harus mempersiapkan perencanaan strategis yang matang dalam rangka menggulung kekuatan Yahudi sampai bersih.

2. Orang-orang Musyrik. Mereka adalah pihak yang memusuhi Rasulullah sejak tinggal di Makkah, yaitu ketika Rasulullah menyeru kepada mereka untuk meningglkan berhala-berhala yang mereka sembah. Jumlah mereka terhitung banyak, yaitu tersebar di seluruh Jazirah Arab.

3. Individu-individu yang munafik. Biasanya yang mereka lakukan adalah memprovokasi untuk menentang kebijakan Muhammad ﷺ. Mereka tidak menggunakan senjata, tetapi keadaan mereka cukup membahayakan kesatuan umat Islam saat itu.

4. Persia dan Romawi. Awalnya mereka tidak begitu memperdulikan eksistensi negara baru yang di bangun oleh Muhammad ﷺ. Namun, ketika negara baru yang berhasil dibangun oleh Muhammad berhasil menjelma menjadi kekuatan yang dapat mengancam kekuatan mereka, akhirnya nampaklah permusuhan mereka. Mereka tidak senang dengan eksistensi pemerintahan Islam yang semakin hari semakin kuat. Tentu hal ini dapat mengancam eksistensi mereka dalam percaturan politik Internasional. Dan Rasulullah ﷺ. telah memprediksi hal ini.

Setelah proses ini dilalui, selanjutnya adalah upaya pembersihan kekuatan tersebut sehingga dakwah Islam bisa berjalan dengan baik tanpa penghalang. Setiap kebijakan yang Rasulullah ambil, baik perang maupun diplomasi, selalu diawali dengan analisis lingkungan atau aksi intelijen.

Aksi intelijen yang dilakukan oleh kaum Muslim pada masa Rasulullah Saw. diantaranya adalah:

1. Operasi ‘Ubaidah bin al-Harits, 8 bulan setelah Hijrah, di Lembah Rabigh
2. Operasi S’ad bin Abi Waqash, 9 bulan setelah Hijrah, di Al-Kharrar, dekat dengan al-Jahfah
3. Operasi Abdullah bin Jahsy, 7/1 H setelah Hijrah, di Nakhlah dekat dengan Thaif
4. Operasi Abi Salamah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumy, 1/3 H, di Qathan
5. Operasi Basyir bin Sa’ad al-Anshriy, 10/7 H, di Yaman dan Jiyar
6. Operasi Ghalib bin Abdullah al-laitsy, 2/7 H, di Fadak
7. Operasi Zaid bin Haritsah, 5/8 H, di Mu’tah
8. Operasi ‘Amru bin al-‘Ash, 6/8 H, di As-Salasil
9. Operasi ‘Ali bin Abi Thalib, 9/10 H, di Yaman
10. Operasi Usamah bin Zaid, Sahafar 11 H, di Al-Balqa’

Artinya, Rasulullah ﷺ tidak pernah menganggap sepele analisis lingkungan. Rasulullah ﷺ menampilkan kecakapan intelijen yang tak mudah dilacak oleh pihak musuh. Bukti yang menggambarkan betapa cakapnya operasi Intelijen Rasulullah adalah sebagai berikut:

1. Sulitnya ditemukan sejumlah buku sejarah biografi yang menyingkap rahasia para intel Rasulullah yang bergerak di lapangan secara rinci dan tanpa terlewat satupun.
2. Setiap upaya musuh yang akan meyerang beliau, selalu diketahui terlebih dahulu. Hal ini merupakan pukulan telak bagi musuh, karena Rasul dapat membuat antisipasi strategi sebelum strategi musuh dijalankan.
3. Setiap kali aksi yang dilakukan oleh Rasulullah, baik perang atau diplomasi, selalu dipertimbangkan sesuai dengan informasi yang masuk kepada beliau.
4. Musuh tidak berdaya untuk mengungkap maksud strategi Rasulullah saw. seperti yang terlihat dalam perjanjian Hudaibiyah.
5. Tentara Rasulullah ﷺ sangat paham dan piawai dalam memilih waktu penyerangan, hal itu berkat kecakapan perangkat intelijen.[Sumber: Yuana Ryan Tresna, Muhammad Saw On The Art Of War, 2007, Bandung: Progressio (Syamil Group)]

Selain adu cerdas intelijen, munajat doa juga adalah kuncinya. Pada buku tersebut telah disebutkan secara terperinci manajemen strategi kemenangan Rasulullah termasuk adanya “kekuatan dan pasukan langit”. Mengurai mulai peperangan pertama hingga terakhir dalam kerangka manajemen strategi langit.

Belajar dari Sirah Nabawiyyah, semoga energi umat tidak habis untuk bertikai dengan sesama umat Islam, tapi bisa diarahkan untuk berhadapan dengan musuh sejati umat Islam, yakni orang kafir dan kekufurannya; dan difokuskan untuk menyongsong kejayaan Islam. Wallahu a’lam.[]

Sumber gambar: Kumparan

%d blogger menyukai ini: