Bergantung Impor, Indonesia Butuh Khilafah

Satu-satunya jalan kesembuhan dari penyakit kronis impor pangan, hanyalah dengan perubahan mendasar dalam tata kelola pangan dan pertanian hari ini. Yakni, dengan hadirnya rezim pelaksana Syariah dalam bingkai Khilafah.


Oleh: Emilda Tanjung (Pengamat Kebijakan Publik)

MuslimahNews, KOMPOL — Sungguh tragis. Impor pangan yang dilakukan pemerintah Indonesia makin dahsyat. “Yang meningkat impor non migas yang dahsyat. Gula saja kita impor, garam juga, beras juga impor,” demikian pernyataan Faisal Basri.(CNBC Indonesia, 2019). Sebelumnya beliau juga pernah menyebutkan dalam 2 tahun terakhir Indonesia menjadi importir terbesar untuk gula. Sementara menurut NSEAS Study, hingga saat ini terdapat 29 komoditas pangan dan pertanian yang masih terus diimpor.

Padahal sumberdaya alam pertanian sangat berlimpah di negeri ini. Didukung pula jumlah sumberdaya manusia yang banyak serta lahan subur yang terhampar luas. Serta musim yang juga sangat mendukung.

Semestinya dengan beragam potensi ini, Indonesia mampu memproduksi kebutuhan pangannya sendiri tanpa tergantung pada impor. Apalagi anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan pertanian demi mewujudkan ketahanan dan kedaulatan panganpun tidak sedikit. Tapi, impor pangan justru semakin dahsyat.

Inilah buah pahit akibat rezim hadir sebagai pelaksana sistem kehidupan sekuler. Khususnya sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis. Pemerintah hadir sebagai regulator dan fasilitator bagi kepentingan korporat dan agenda hegemoni kafir penjajah. Akibatnya sangat fatal, korporasi penguasa hajat pangan dan pertanian dari produksi, distribusi hingga konsumsi.

Satu-satunya jalan kesembuhan dari penyakit kronis impor pangan, hanyalah dengan perubahan mendasar dalam tata kelola pangan dan pertanian hari ini. Yakni, dengan hadirnya rezim pelaksana Syariah dalam bingkai Khilafah.

Cukuplah firman Allah SWT sebagai pengingat bagi kita: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu..” (TQS Al Anfaal:24).[]

%d blogger menyukai ini: