Wajib Membongkar Makar Jahat Global

Islam telah menentukan sudut pandang tertentu yang digunakan untuk melihat dunia. Sudut pandang itu adalah akidah Islam. Begitu juga, Islam telah menentukan sudut pandang aktivitas yang melawan musuh, bagaimana menghadapinya, dan cara mengalahkannya.


Oleh: Abu Hamzah al-Khatwani

MuslimahNews, ANALISIS — Menyikapi berbagai rencana internasional harus menjadi perhatian utama para pemimpin politik sejati yang menetapkan wewenang mengurusi urusan-urusan negara dan rakyat. Dapatkah para politisi itu memutuskan, jika mereka tidak membuntuti rencana-rencana negara musuhnya; dan tidak ada masa depan bagi negaranya, jika mereka tidak membongkar perkara serius dan penting ini.

Islam mewajibkan kaum Muslim untuk melakukan aktivitas politik terkait masalah ini. Allah Subhānahu wa ta’āla berfirman: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”( TQS An-Nisā ‘[4]: 83 )

Sementara masalah keamanan dan tantangan terkait dengan konflik yang terjadi antara kaum Muslim dan para musuhnya, juga terkait dengan kebutuhan untuk mengalahkan mereka, serta menghindari kegagalan dan kekalahan. Semua ini perlu dirancang, dipikirkan dan dianalisis, perlu alokasi khusus yang digunakan untuk kepentingan negara dan rakyat.

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata dalam menafsiri ayat “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)” adalah orang-orang yang mencari dan menyelidikiti berita. Mereka disebut dengan orang-orang yang memiliki kecakapan agama dan akal pikiran.

Islam telah menentukan sudut pandang tertentu yang digunakan untuk melihat dunia. Sudut pandang itu adalah akidah Islam. Begitu juga, Islam telah menentukan sudut pandang aktivitas yang melawan musuh, bagaimana menghadapinya, dan cara mengalahkannya.

Sudut pandang kami adalah akidah, ideologi dan penyebaran Islam. Sedang sudut pandang lainnya, seperti nasionalisme atau patriotisme, tak menawarkan kecuali kekalahan politik, dan hanya diarahkan pada penyerahan diri kepada kekuatan kolonial besar, seperti diskusi yang terjadi saat ini di dunia Islam.

Karena pandangan ideologis adalah pandangan global yang didasarkan pada landasan politik Islam yang kokoh dan kuat, maka mencermati rencana-rencana internasional dan membongkarnya merupakan suatu strategi bagi mereka yang mengemban akidah ini, dan juga mereka yang ingin mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Hal itu menjadi sebuah kewajiban berdasarkan sebuah kaidah ushul, perkara yang menjadi penyempurna dari suatu kewajiban, maka hukumnya juga wajib.

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam telah memberi kita contoh politik terbaik dalam menghapus makar dan persekongkolan jahat internasional, serta mencegah dan menggagalkannya. Misalnya, kompilasi datang berita tentang rencana kaum Quraisy untuk bersekutu dengan orang-orang Yahudi Khaibar guna menyerang Madinah dan melenyapkan Islam. Rasulullah kemudian memulai aksi politik, di mana pertama-tama ia mengembangkan informasi intelijen dan militer tersebut. Kemudian beliau membuat rencana politik dalam menghadapi makar jahat kaum Quraisy dan menggagalkannya. Dia mengambil kebijakan perdamaian dan negosiasi dengan kaum Quraisy sebagai target politik sementara, dan ia menerima ketentuan-ketentuan kaum Quraisy agar terkesan tidak adil, meskipun ditentang para sahabat senior. Dia bersama kaum Quraisy menyetujui perjanjian Hudaibiyah, hal itu kemudian menjadi pintu kemenangan yang nyata, dan mencapai target yang diinginkan yaitu mengatasi persekutuan Quraisy-Khaibar, dan juga memecah aliansi mereka. Hal itu dilakukan dengan mendukung dua kekuatan besar yang saling mendukung. Dari sini, yang kemudian dilakukan pertama adalah mengisolasi Khaibar dan menghancurkannya, serta mengikat kaum Quraisy dan mengisolasinya, sebagai pintu masuk serta persiapan untuk melenyapkannya.

Saat ini pun, negara-negara besar — melakukan rutinitas — tidak pernah sepi dari aktivitas membuat rencana untuk mengontrol dan mengalahkan lawan-lawannya, mempertahankan kepentingannya, menambah pengaruhnya, dan memperbaiki agendanya melalui sekutu, antek dan bonekanya. Misalnya, fakta bahwa Amerika mundur mendadak dari Suriah, adalah rencana politik yang diperlukan untuk mencapai beberapa tujuan, di antaranya:

1 – Menancapkan pilar rezim Bashar al-Assad, dan kemudian menjadikan negara penghasil minyak dan gas di sebelah timur Eufrat ini sebagai penyokong dana yang dibutuhkan negaranya. Sehingga Amerika perlu meminimalisir kebutuhan, demi tujuan makarnya untuk mengambil alih kekayaan Eufrat Timur, mengusir musuhnya, maka pilar rezim dibebaskan Amerika dan bertahan hingga berkuasa kembali, lalu Amerika mendukung sepenuhnya pilar Bashar Assad.

2 – Menempatkan wilayah utara Suriah di bawah kontrol Turki agar terus memainkan peran sebagai perwira dan mengendalikan faksi-faksi kunci, menyelamatkan mereka dari pasukan berkuasa, serta membantu mereka di penjara besar di bawah Turki. Di saat yang sama, mereka dapat berkoalisi dengan pasukan Rusia, serta meminta mereka untuk menyetujui perjanjian yang dibuat antara negara-negara (penjamin), yaitu Rusia, Turki dan Iran, juga mengintimidasi mereka agar tidak keluar dari perjanjian itu.

3 – Menggunakan isu Kurdi dan ISIS sebagai kebijakan politik yang akan digunakan untuk memenuhi syarat demi menancapkan visinya, memanipulasi anteknya, dan mengangkat otoritas sebagai penguasa atas pemain lokal dan internasional di Suriah.

4 – Merancang peran yang dimainkan oleh Perancis dan Inggris melalui perjanjian-perjanjian yang disetujuinya.

5 – Menggunakan isu mendukung Suriah yang ada di ketiak Turki dalam perundingan masa depan guna meminta pengusiran Rusia dari Suriah, dan pembubaran sebagian besar pangkalannya.

6 – Meminta Iran dan milisinya untuk terus memberikan bantuan yang diperlukan kepada rezim Bashar, dan untuk meminta peran entitas Yahudi di Suriah.

Inilah tujuan terpenting Amerika di Suriah, berdasarkan keputusan Trump untuk menarik pasukan Amerika dari Suriah dalam beberapa bulan mendatang. Tujuan-tujuan ini tidak akan berhasil tanpa kerja sama Rusia, Iran, Turki dan Arab Saudi dengan Amerika. Amerika tidak memiliki kekuatan di luar perbatasannya, kecuali dari kekuatan para antek dan sekutunya.

Negara-negara ini telah bersekongkol melawan para pejuang revolusi, dan membeli banyak pengkhianat pemimpinnya, yang pada perundingan mereka menyerahkan wilayah-wilayah ke rezim di atas sepiring emas. Sebenarnya, rezim itu tidak memiliki kekuatan apa pun, juga para pendukungnya dari Rusia dan Iran tidak dapat mendukung Bashar al-Assad di wilayah-wilayah yang membebaskan hubungan kerjasama para pemimpin faksi-faksi yang membelot menjual perjuangan kaum revolusioner dengan murah. Jadi, yang sangat membantu rezim Rusia, Iran atau milisi-milisinya, menerima para pemimpin faksi yang setuju menjadi proksinya di Arab Saudi, Turki, Yordania dan lainnya.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi mereka untuk melakukan perubahan mendukung proyek besar Islam dengan jelas, juga harus memutus hubungan para pejuang revolusi dengan Turki dan Arab Saudi, serta negara-negara tetangga yang menggabungkan perjuangan para pejuang untuk bergerak searah dengan tiran Bashar. Sebaliknya, sama sekali tidak boleh mundur dari dasar-dasar perubahan yang sebenarnya, dan yang terpenting adalah para pejuang revolusi untuk menumbangkan rezim dengan semua pilar-pilarnya, serta semua asosiasi dan simbol-simbolnya, yang kemudian membangkitkan negara Islam di atas puing-puing reruntuhannya.[]Sumber

%d blogger menyukai ini: