Perempuan Butuh Syariat Islam, bukan RUU PKS

MuslimahNews.com — Pengamat politik dan pemerhati perempuan, Pratama Julia Sunjandari, menilai alasan tingginya angka kekerasan seksual di Indonesia yang menjadi latar belakang legalisasi Rancangan Undang undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) sungguh mengada-ada.

Pasalnya, menurut Pratma, bukan sekadar ada umbrella act lalu persoalan kekerasan seksual selesai. Perancis yang telah mengatur tentang sanksi kriminal pelecehan seksual di tempat kerja menunjukkan pejabat dunia Christine Lagarde yang juga mantan Menkeu Pransis pernah menjadi korban pelecehan seksual bersama puluhan mantan perempuan terkemuka Prancis lainnya. Atau gerakan #Metoo yang kini mendunia menunjukkan bahwa hukum di negara-negara tersebut tidak mampu menghentikan kekerasan seksual.

Pratma lalu mengungkap tiga alasan kalangan feminis ngotot ingin melegalisasi RUU PKS, “Pertama menyuburkan perilaku sekuler liberal. Muatan SRHR (Sexual and Reproductive Healths Rights) sebagai ‘amanah’ Beijing Platform for Action (BPfA) amat kuat. Frasa ‘kontrol seksual’ itu menegaskan daulat atas tubuh sehingga seorang istri berhak menolak hamil atau menolak ajakan suaminya ke tempat tidur. Termasuk hak untuk meluapkan orientasi seksual pada apapun atau siapapun.”

Kedua, kata Pratma Julia, merusak keluarga terutama relasi suami istri. Tak ada lagi qawwam (Pemimpin) dalam rumah tangga termasuk dalam hubungan yang amat privat. Ketiga, menikam syariat Islam. Kalangan liberal, dengan dukungan negara leluasa mengadvokasi umat untuk tidak lagi patuh pada hukum Allah.

“Menjadi keharusan bagi kaum Muslimin untuk menolak dan mencegah kemunkaran ini dengan aksi nyata,” ungkapnya kepada MNews, Rabu (30/1/2019).

Pratma kemudian menjelaskan bahwa umat Islam harus berupaya menegakkan syariat Islam kaffah sebagai solusi persoalan kekerasan terhadap perempuan, “Tidak kalah penting mengedukasi umat bahwa persoalan kekerasan seksual, bahkan pelecehan kehormatan perempuan tak akan terjadi jika Khilafah tegak. Syariat kaffah itu memiliki hukum yang amat memuliakan manusia apalagi perempuan dengan hukum-hukum sistem pergaulannya,” tukasnya.[]

%d blogger menyukai ini: