Mengharapkan Keadilan dari Ketidakadilan

Islam, di sisi lain, memiliki sistem keadilan dan akuntabilitas yang sangat terperinci. Sistem tersebut lengkap dan siap untuk diterapkan dan tidak menyediakan celah untuk percobaan dan inovasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.


Oleh: Ikhlaq Jehan

MuslimahNews, KOMPOL — Sidang pengadilan pertanggungjawaban telah menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara kepada Perdana Menteri yang telah digulingkan, Nawaz Sharif, sehubungan dengan kasus korupsi Pabrik Baja Al-Azizia, dan menyatakannya tidak bersalah sehubungan dengan kasus Flagship Investments. (Sumber: Dawn)

Komentar

Putusan tersebut menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat, yang bergantung pada pendapat seseorang tentang seberapa jauh Biro Akuntabilitas Nasional (NAB) dapat dipercaya. Sejumlah pihak menganggapnya sebagai operasi untuk menghabisi Nawaz Sharif dari panggung politik, sementara lainnya memimpikan dapat menyaksikan semua perampok dimintai pertanggungjawaban di pengadilan.

NAB, yang didirikan pada tahun 1999, lebih diakui sebagai simbol ketakutan, bukan simbol keadilan. Jika suatu masalah sampai ditangani oleh NAB, masalah itu umumnya dianggap diabaikan sehingga NAB akan mengumumkan bahwa masalah tersebut meragukan, namun NAB akan gagal menyelesaikan masalah tersebut.

Terdapat banyak penyelidikan biro yang telah tertunda selama bertahun-tahun. Penundaan ini menimbulkan banyak kecurigaan. Insiden baru-baru ini tentang kematian seorang profesor dalam keadaan diborgol ketika berada dalam tahanan NAB telah mengejutkan seantero negeri.

Pria yang ditahan sejak dua bulan terakhir itu meninggal saat tengah menanti keadilan dan sangat membutuhkan bantuan medis. Mayat profesor dalam keadaan diborgol ini yang gagal memperoleh keadilan adalah tamparan keras bagi hati nurani kita, dan bayangan kejahatan yang dilakukan atau tidak dilakukan akan tetap membersamai keluarganya selamanya.

Nawaz Sharif pertama kali menjadi Perdana Menteri Pakistan pada tahun 1990 dan sejak itu telah menjabat sebanyak tiga periode. Hukum yang diterapkan di Pakistan memberi kesempatan kepada Nawaz Sharif untuk mengajukan banding terhadap putusan hukum terakhirnya.

Nawaz Sharif, yang putra-putranya berada di luar negeri (dan kemungkinan tidak akan pernah kembali), tidak hanya akan melalui masa-masa sulit, partai politiknya pun akan terpukul. Jika kita mengamati situasi ini dari dekat, kita akan melihat ketiadaan transparansi sistem peradilan.

Walaupun kita bisa menyaksikan persidangan media dan pencemaran nama baik dari para narapidana ternama, kita tidak akan pernah melihat aset nasional yang dicuri diambil kembali, kita juga tidak akan pernah melihat mereka diadili atau dihukum karena telah menjual martabat dan kehormatan rakyat mereka. Ini hanya bagaikan seorang raja yang gagal sedang digulingkan dan mahkota tengah dipersiapkan untuk raja berikutnya, sehingga seluruh mesin diaktifkan demi tujuan itu.

Islam, di sisi lain, memiliki sistem keadilan dan akuntabilitas yang sangat terperinci. Sistem tersebut lengkap dan siap untuk diterapkan dan tidak menyediakan celah untuk percobaan dan inovasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Lembaga semacam NAB tidak pernah bisa memberikan keadilan terhadap para penjahat seperti Nawaz dan Asif Ali Zardari. Kejahatan terberat mereka adalah merongrong hukum Allah SWT dan hukuman mereka haruslah bersumber dari hukum-Nya. Dalam Hukum Syariah, Mahkamah Mazhalim mengidentifikasi tindak korupsi dan dipimpin oleh seorang hakim yang memiliki kekuatan yudisial yang relevan untuk menghapuskan dan mengadili semua tindak ketidakadilan yang dilakukan oleh pejabat mana pun, termasuk kepala pemerintahan.

Keadilan bukanlah bentuk balas dendam, melainkan cara untuk mewujudkan kesetaraan tatkala mengelola urusan rakyat. Keadilan tidak hanya mewujudkan kesetaraan bagi rakyat, melainkan juga meningkatkan kepercayaan rakyat terhadap satu sama lain dan terhadap negara.

(إَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا)

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisa 4:58).[] Sumber

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

%d blogger menyukai ini: