Khilafah Ajaran Islam yang Terlupa

Jika diibaratkan dengan pohon, orang-orang kafir memotong pohon pada bagian terbawah, pohon itu masih bisa tumbuh, tapi pada waktunya tumbuhnya pohon akan disiram dengan racun, sehingga racunnya menyebar dan pohon itu mati secara perlahan. Demikianlah Khilafah diibaratkan.


Oleh: Nabila Asy -Syafi’i

MuslimahNews, FOKUS — Setelah usaha sistematis yang dilakukan oleh Inggris untuk meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah telah berhasil ditahun 1924 M yang bersekongkol dengan Mustafa Kemal Pasha. Nyaris kosa kata Khilafah Islamiyah dihilangkan dari benak kaum Muslimin. Bahkan jika bisa, dikubur dalam -dalam, atau setidaknya dikaburkan kebenarannya. maka tidak heran jika saat ini kita jumpai banyak umat Islam yang tidak mengenal tentang sejarah Khilafah Islamiyah dan para Khalifahnya.

Kalaulah mengenal maka hanya ditonjolkan sisi-sisi penyimpangan penerapan hukum Islam oleh para Khalifah. Termasuk perguruan tinggi -perguruan tinggi Islam mengajarkan hal semacam itu. Bahkan semenjak SMP kita telah dikenalkan tentang Khilafah Utsmani dengan sebutan “the sick man“, dan Mustafa Kemal Pasha dijuluki sebagai Bapak Nasionalis Turki, dia si algojo penyembelih Khilafah Utsmaniyah. Semenjak 3 maret 1924 secara yuridis ummat Islam tak lagi dipimpin oleh seorang Khalifah.

Upaya Sistematis Mengubur dan Mengaburkan Khilafah

Semenjak Nabi Muhammad Saw diangkat sebagai utusan Allah hingga saat ini, orang-orang kafir dihinggapi rasa permusuhan dan kebencian yang mendalam kepada kaum Muslimin. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk menghancurkan Islam dan Kaum Muslim. Dengan segala makar dan tipu daya, agar kaum Muslimin selalu dalam kehinaan dan keterbelakangan.

Tidak dipungkiri kehebatan daulah Utsmaniyah telah menimbulkan kengerian di benak semua negara -negara kristen Eropa saat itu. Sudah menjadi mafhum umum bahwa pasukan Islam tak terkalahkan, mereka berjihad untuk meraih syahid, mengapai rida Allah. Mereka dipimpin oleh seorang Khalifah. Kemajuan ilmu, teknologi, seni, budaya dan tatanan hidup masyarakat, keadilan dan kemakmuran sangat dirasakan didunia Islam saat itu. Daulah Khilafah adalah negara yang ditakuti sekaligus disegani

Sementara di Eropa terjadi konflik dalam negara untuk mengalahkan pemimpin – pemimpin feodal (tuan tanah), yang akhirnya dimenangkan oleh negara. Pada waktu yang sama terjadi konflik antara negara dan gereja, yang menyebabkan dihapusnya kekuasaan gereja dalam mengendalikan urusan dalam dan luar negeri. Yang sebelumnya gereja mengendalikan urusan tersebut. Hal ini membawa dampak lahirnya negara-negara kuat di Eropa. Meski demikian Eropa tetap tidak mampu menghadapi Daulah Islamiyah.

Keadaannya tetap seperti itu hingga pertengahan abad ke 17 M, yakni di tahun 1648 M. Pada tahun ini negara-negara kristen Eropa mengadakan konferensi Westaphalia, yang menetapkan prinsip – prinsip permanen untuk mengatur hubungan diantara negara-negara Kristen Eropa. Dalam rangka menghadapi Daulah Islamiyah. Dan akhirnya prinsip – prinsip ini menjadi Undang-undang internasional, meskipun pada awalnya hanya mengikat negara kristen Eropa.

Kemudian keluarga kristen Eropa berubah nama menajdi keluarga Internasional yang terdiri dari semua negara kristen Eropa, tanpa membedakan lagi monarki atau republik, katolik atau protestan, hingga mencakup negara kristen di luar Eropa, bahkan non kristen pun masuk dalam keluarga Internasional ini seperti Jepang.(Taqiyuddin An Nabhani, Mafahim Siyasi lil Hizb Tahrir)

Pada abad ke 19 M, di saat Khilafah Utsmaniah sebagai Daulah Islamiyyah, berada dalam kegoncangan dan diberi sebutan “the sick man” meminta masuk dalam Keluarga Internasional. Dan Keluarga Internasional memberi syarat yang sangat keras, antara lain Daulah Islam tidak boleh berhukum dengan hukum Islam dalam hubungan internasional dan memasukkan Undang-undang Eropa. Daulah Islam menerima dan tunduk dengan persyaratan itu pada tahun 1856 M.

Dengan masuknya Daulah Islamiyyah dalam keluarga Internasional, maka hubungan Internasionalnya tidak lagi diatur dengan hukum Islam. Inilah makar negara -negara Eropa, khususnya Inggris untuk menghancurkan daulah Islam, yang akhirnya terwujud di tahun 1924, dengan dihapusnya Khilafah Utsmaniyah sebagai Daulah Islamiyah.

Pasca Perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, dengan kemenangan ada dipihak AS dan sekutu-sekutunya. Maka As dan barat meletakkan musuh baru pengganti Uni Soviet, adalah Islam. Sebagaimana pernyataan yang disampaikan oleh Willy Claes, mantan Sekjen Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yang dimuat oleh Harian Independent, Inggris sebagai berikut : “Sebenarnya, bahaya yang dibangun oleh orang-orang Islam merupakan ancaman paling serius yang dihadapi oleh Barat setelah hancurnya Uni Soviet dan Blok Sosialis, serta setelah hilangnya ancaman Komunisme.” ( Republika, 18 Mei 2015)

Tentunya yang dimaksudkan oleh Willy Claes bukanlah sekedar Islam ritual, tapi munculnya Islam sebagai kekuatan Ideologi politik yang diemban oleh institusi negara yakni Daulah Khilafah Islamiyah.

Bahkan pada tahun 1990 Menteri Luar Negeri Amerika Henry Kissinger Dalam konferensi tahunan Kamar Dagang Internasional, dalam pidatonya mengatakan ,”Front baru yang harus dihadapi Barat adalah dunia Arab dan Islam sebagai musuh baru bagi Barat“.(Markazinayah.com)

Pasca serangan gedung WTC dan Pentagon 11 september 2001, ketika itu presiden AS adalah George Bush langsung menyatakan perang melawan terorisme. ( Liputan 6, 20 September 2014) Bush membagi dunia dengan ikut AS atau ikut teroris. Tanpa ada penyelidikan George bush langsung menuduh Usamah bin Laden dengan jaringan al Qaedah nya dalang di balik semua itu dan diamini oleh dunia. Ketika media dikuasai AS dengan gencarnya memberitakan hal tersebut, tanpa melihat benar salahnya. Framing tentang Islam dan terorisme terus dikembangkan oleh AS dan diikuti oleh dunia. Ajaran Islam tentang Khilafah pun dikriminalisasi, dianggap sebagai ajaran radikal yang dianut oleh para teroris.

Bahkan presiden AS George W. Bush (Bush Junior), dalam sebuah pidatonya pernah menyatakan bahwa perang terhadap terorisme merupakan bentuk dari perang salib ( Crusade) pertama abad 21.(Mardanis, Pemberantasan terorisme, meski akhirnya Bush mencabut pernyataan itu).

Kita tahu bahwa perang salib adalah perang yang terjadi antara negara – negara kristen Eropa dengan Daulah Islamiyyah. Tentu yang dimaksud oleh George W. Bush bukanlah Daulah Khilafah Islamiyyah sebagai sebuah institusi negara, karena saat ini Daulah Khilafah Islamiyyah belum ada. Maka bisa dimaknai yang dituju adalah ajaran Islam politik “Khilafah Islamiyyah” yang pernah eksis di dunia lebih dari 13 abad lamanya, yang jika tampil lagi ke panggung dunia akan mengancam dan bisa menenggelamkan AS dan sekutu-sekutunya.

Maka upaya untuk mengubur dan mengaburkan tentang Khilafah sebagai ajaran Islam akan terus dilakukan oleh AS dan sekutu-sekutunya, termasuk pemimpin negeri – negeri Islam yang menjadi agen AS dan Barat. Khilafah di framing sebagai ajaran radikal yang dilarang untuk diajarkan. Pengemban dakwah yang menyampaikanpun dituduh sebagai penginspirasi terorisme dan ormasnya bisa dicap sebagai ormas radikal.

Khilafah adalah Ajaran Islam

Suka atau tidak, menerima atau menolak, tidak bisa dipungkiri bahwa Khilafah bagian dari sejarah Islam. Khilafah juga bagian dalam pembahasan fiqh Islam, karena Khilafah adalah ajaran Islam.

Khilafah adalah sistem pemerintahan dalam Islam, pemimpinnya disebut dengan Khalifah, Imamah atau Amirul Mukminin, ketiganya memiliki arti yang sama. Menurut Al Mawardi dalam Al Ahkam As Sulthaniyyah, Imamah itu ditetapkan untuk menggantikan (tugas) kenabian dalam menjaga agama dan menata dunia dengan agama.

Sedangkan menurut Al Allamah Ibnu Khaldun, Imamah adalah mengatur seluruh umat berdasarkan pandangan syariat dalam mewujudkan maslahat mereka, yang bersifat ukhrawi dan duniawi yang akan kembali kepada ukhrawi, sebab menurut Pembuat Syariat (Allah) penilaian atas semua permasalahan dunia dikembalikan pada maslahat ukhrawi. Pada hakikatnya imamah adalah pengganti Pemilik syariat dalam menjaga agama dan menata dunia dengan agama.

Pandangan tentang Imamah ini didasarkan pada dalil-dalil Alquran, Assunnah, Ijmak dan kaidah- kaidah syar’i. Antara lain dari QS An Nisa :59 yang terjemahannya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri diantara kalian, Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikan kepada Allah (Alquran) dan Rasul (As Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dari hadits masyhur dalam Kitab Sunan, dari Irbadh bin Sariyah, dari Nabi Saw, beliau bersabda dalam hadis yang panjang. “Sungguh, siapa di antara kalian yang berumur panjang, ia akan melihat banyak perselisihan. Hendaknya kalian berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khalifah yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah kepadanya, dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara (agama) yang dibuat -buat, karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR At Tirmizi)

Ibnu Khaldun menyatakan, mengangkat seorang Imam/Khalifah wajib hukumnya. Kewajiban ini diketahui dalam syariat berdasarkan ijma’ sahabat, karena saat Nabi wafat, para sahabat segera membaiat Abu Bakar Ash Shidiq dan menyerahkan wewenang kepadanya untuk mengatur urusan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mengangkat Imam/ Khalifah adalah wajib bagi kaum Muslimin.

Kaidah syar’i : “Ketika kewajiban tidak terlaksana tanpa sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib hukumnya.

Sudah maklum, bahwa Allah SWT telah memerintahkan banyak hal yang tidak akan mampu dilakukan oleh individu maupun kelompok masyarakat, seperti: menegakkan hudud, mempersiapkan pasukan mujahidin untuk menyebarkan Islam,dan meninggikan kalimat Allah, menjaga tapal batas, menjaga wilayah kaum Muslimin, menarik dan membagikan zakat kepada golongan yang telah ditentukan, menyebarkan keadilan, mencegah kezaliman, memutuskan pertikaian diantara sesama manusia dan kewajiban-kewajiban lain yang mengharuskan adanya kekuasaan dan kekuatan yang berhak ditaati oleh semua individu.dan kekuasaan yang dimaksud adalah Khalifah.

Dengan ketiadaan Khalifah seperti saat ini, maka bisa dipastikan banyak syariat Islam yang tidak bisa diterapkan. Bahkan sekadar memberikan bantuan dan pertolongan kepada sesama muslim yang membutuhkanpun tidak bisa dilakukan.

Sudah menjadi kewajiban bagi semua kaum muslimin untuk mempelajari, memahami dan menerapkan hukum – hukum Islam secara kaffah, termasuk didalam tentang sistem ketatanegaraan Khilafah. Jika saat ini belum semua hukum-hukum Islam bisa diterapkan maka harus diperjuangkan. Dengan perjuangan mengikuti manhaj Nabi Muhammad Saw.

Khilafah akan Tegak Kembali

Meski upaya sistematis telah dilakukan oleh orang -orang kafir, agar khilafah dijauhi, dibenci bahkan dibuang oleh umat Islam sendiri, dengan tujuan agar Khilafah tidak tegak kembali. Namun rupanya upaya itu tidak berhasil. Masih banyak umat Islam, bahkan semakin hari semakin banyak yang dengan tulus ikhlas memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah. Mereka yakin akan janji Allah, sebagaimana termaktub dalam AS An Nur : 55, dan percaya pada kabar gembira dari Rasulullah Muhammad Saw.
Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode Khilafah ala manhaj Nubuwah, selama beberapa masa, hingga Allah mengangkatnya. Kemudian datang mulkan adhdhan, selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbariyyan ( penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa, hingga waktu yang ditentukan Allah Ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad Saw diam.”( HR Ahmad)

Kabar gembira itu telah terlihat tanda -tandanya. Meski telah terjadi kriminalisasi ajaran Khilafah, namun semakin banyak pula generasi muda Islam yang mempelajari dari sumbernya yang benar. Mereka tidak terpengaruh oleh framing jahat musuh -musuh Islam dan antek-anteknya. Mereka tetap bersemangat mendakwahkan Islam dan ajarannya dan siap dengan segala konsekuensi yang harus dihadapinya.

Benarlah pepatah yang mengatakan “Matahari akan tetap matahari, meski tidak terlihat oleh orang buta.” Kebenaran tetap kebenaran, meski para pembenci berusaha menutupi. Waallahu a’lam bishshawab.[]

%d blogger menyukai ini: