Apakah Sudah Dimulai “Hitungan Mundur” untuk Mengakhiri Dominasi Dolar terhadap Perekonomian Global?

Soal:

Tampak ada upaya yang menyolok dari beberapa negara khususnya Rusia, Tiongkok dan Uni Eropa, upaya untuk mengganti Dolar dengan mata uang lainnya dalam transaksi internasional. Sampai-sampai beberapa perjanjian transaksi yang ditandatangani menggunakan mata uang lokal milik beberapa negara tersebut.

Misalnya, Rusia bersepakat dengan India pada 31/10/2018 untuk menjual rudal S-400 menggunakan mata uang Rusia. Dan Rusia melakukan kesepakatan pada bulan lalu dengan Turki menggunakan mata uang kedua negara itu untuk membayar harga transaksi rudal serupa. Dalam pertemuan Erdogan selama KTT negara-negara berbahasa Turki.

Tiongkok mengumumkan akan membayar harga impor minyaknya dari Iran menggunakan Petroyuan. Bank sentral Tiongkok menandatangani kesepakatan bilateral dengan Bank Sentral Jepang untuk pertukaran mata uang lokal sebesar 200 miliar Yuan (29 miliar Dolar) dengan kompensasi 2,4 triliun Yen (31 miliar Dolar). Apakah hitungan mundur untuk mengakhiri dominasi Dolar atas perekonomian global telah dimulai?

Jawab:

MuslimahNews.com — Supaya jelas jawaban pertanyaan tersebut maka wajib dijelaskan posisi Dolar dalam perekonomian global:

Pertama, posisi Dolar mulai mencuat melalui perjanjian Bretton Woods 1944 di mana Amerika memaksakan Dolar dan dominasinya dalam pertemuan itu karena Amerika menang dalam Perang Dunia tanpa mengalami kerugian besar. Begitulah, sistem finansial disetujui dan sepuluh negara industri besar setuju menetapkan harga tertentu untuk mata uang nasionalnya dengan bersandar kepada Dolar Amerika.

Demikian juga sebaliknya, Amerika setuju mengaitkan Dolar Amerika dengan basis emas “35 Dolar per ons”. Dengan begitu, jadilah pertukaran Dolar yang datang dari Bank-Bank Sentral asing dilakukan dengan kurs tetap untuk Dolar yang terikat dengan emas. Kala itu, cadangan emas milik Amerika diestimasi sebesar dua pertiga dari total cadangan dunia, dan sisanya yakni sepertiganya dimiliki oleh negara-negara lainnya.

Tetapi berlanjutnya kelemahan neraca pembayaran Amerika dampak dari belanja luar negeri menyebabkan melemahnya cadangan emas Amerika. Antara tahun 1961-1970 cadangan emas Amerika menurun sampai hampir lima miliar Dolar. Dengan tujuan untuk menjaga cadangan emas Amerika, presiden Amerika kala itu, Nixon pada tahun 1971 memutuskan penghentian penukaran Dolar ke emas, mengumumkan berakhirnya sistem pengaitan Dolar dengan emas.

Setalah itu, pemerintahan Nixon menangani perubahan finansial baru ini melalui serangkaian perjanjian dengan kerajaan Arab Saudi dari tahun 1972 sampai 1974 dan menciptakan apa yang disebut PetroDolar. Hal itu memberikan kepada negara-negara asing, sebab lain untuk menimbun dan menggunakan Dolar disebabkan keperluan negara-negara terhadap minyak yang dihargai dengan Dolar sesuai perjanjian-perjanjian dengan Arab Saudi sebagai produsen terbesar minyak di dunia.

Sebagaimana Arab Saudi juga sepakat untuk memutar kembali miliaran Dolar Amerika dari pendapatan minyak melalui korporasi-korporasi industri senjata Amerika, infrastruktur dan pembelian obligasi Amerika. Pada tahun 1977, sedikitnya 20 % dari total obligasi di luar negeri Amerika ada di tangan Saudi.

Jika disamping minyak, ditambah emas juga dihargai dengan Dolar, maka negara-negara akhirnya jadi punya perhatian untuk memperoleh Dolar. Cadangan devisa dalam bentuk Dolar di Bank-Bank Sentral global sekitar 71 % sampai tahun 2000, meski setelah tahun tersebut menurun menjadi 62%. Demikian juga 40% utang global dalam denominasi Dolar.

Kedua: sekarang Dolar Amerika mendominasi transaksi global. Situasi ini menciptakan pasar artifisial yang sangat besar untuk Dolar Amerika. Ini membedakan Dolar Amerika dari semua mata uang lokal di dunia. Dolar menjadi mediator dalam transaksi yang tidak ada batasnya mencapai lebih dari 5,4 triliun Dolar sekarang ini, tidak ada hubungannya dengan produk atau jasa Amerika.

Satu perkara yang mencolok adalah bahwa Dolar merepresentasikan 84,9% transaksi pertukaran luar negeri (foreign exchange) harian meski transaksi perdagangan Amerika dengan Dolar sendiri kurang dari setengah angka itu. Hal itu karena negara-negara selain Amerika bertransaksi menggunakan Dolar dalam utusan-urusan komersial!

Kekuatan Dolar itu memiliki dampak ekonomi yakni membuat Amerika mampu menghukum secara ekonomi dan finansial negara yang disasar. Bukan hanya itu, Amerika juga bisa meminggirkan negara-negara lainnya dari perdagangan dengan negara yang disasar. Amerika mampu merealisasi hal itu menggunakan langkah-langkah keras melalui sistem SWIFT (The Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication).

Itu merupakan sistem pembayaran Dolar internasional antar bank. Karena Dolar merupakan mata uang cadangan devisa global, maka sistem SWIFT memfasilitasi sistem Dolar internasional. Negara-negara di seluruh penjuru dunia melakukan pembayaran transaksi melalui SWIFT. Hal itu menjamin bahwa semua transaksi bilateral bersandar kepada Dolar.

Sebagai contoh, Rusia dan Tiongkok tidak bisa mempertukarkan barang dan jasa menggunakan mata uang nasionalnya selama pembayaran transaksi tidak menggunakan Dolar melalui sistem SWIFT. Amerika bisa menggunakan sistem tersebut untuk memaksakan sanksi-sanksi ekonomi yang keras.

Berdasarkan sistem ini, Amerika selama dua tahun, 2014 dan 2015, melarang sejumlah bank Rusia dari SWIFT ketika hubungan antara kedua negara memburuk. Pada November 2018, Amerika Serikat kembali menjatuhkan sanksi keras terhadap Iran menggunakan SWIFT. Sejumlah korporasi Eropa menolak memenuhi kesepakatannya dengan Iran karena takut kepada Amerika.

Seperti yang telah kami sebutkan, semua itu terjadi karena Dolar merupakan cadangan devisa global: porsi Dolar dalam cadangan 146 Bank Sentral pada tingkat global pada akhir tahun lalu mencapai 64% dari total cadangan devisa bank-bank sentral itu. Euro menempati posisi kedua sebesar 20%. Sementara kontribusi Yen Jepang dan Pounsterling Inggris hanya 5%.

Ini tanpa menyebutkan Yuan Tiongkok yang porsi dalam cadangan bank devisa bank-bank sentral global tidak melebihi 108 miliar Dolar Amerika atau sekitar 1%.(www.alquds.co.uk, 19/8/2018).

Ketiga: berhadapan dengan realita ini, negara-negara di dunia yang memiliki bobot dan nilai penting telah bertolak dari dua titik tolak untuk membatasi pengaruh Dolar. Titik tolak pertama tahun 1999 di mana Euro muncul dan disirkulasikan secara resmi pada tahun 2002 dalam menyaingi Dolar. Hal itu bertolak dari kuatnya perekonomian negara-negara Eropa dan kepercayaannya terhadap kemampuannya untuk bersaing.

Adapun negara-negara kedua seperti Rusia dan Tiongkok, upayanya untuk membatasi dominasi Dolar lebih belakangan disebabkan tidak adanya kemampuan untuk bersaing pada waktu itu (waktu bertolaknya Euro). Sampai terjadi krisis finansial tahun 2008 dan dikhawatirkan krisis tersebut memakan cadangan devisa Dolar mereka dan jadi kehilangan nilainya, maka mereka bergabung dengan negara-negara Eropa dalam mengurangi dominasi Dolar. Bersamaan dengan berubahnya Tiongkok menjadi negara ekonomi kelas dunia (global), maka upaya-upaya internasional pun dimulai untuk mempengaruhi dominasi Dolar.

Begitulah, krisis ekonomi tahun 2008 membunyikan alarm bahaya bagi negara-negara untuk berfikir dalam masalah Dolar akibat pengaruh krisis tersebut. Tetapi sesuatu yang mempercepat hal itu adalah provokasi dan sanksi-sanksi Trump. Politik baru yang ditempuh oleh pemerintahan presiden Trump telah mempercepat orientasi negara-negara besar untuk membatasi dominasi Dolar Amerika secara global. Politik presiden Trump tercermin dengan arogan pada slogan “America first”.

Semua pemerintahan Amerika bekerja untuk kepentingan Amerika. Tetapi pemerintahan Trump paling dekat dari tidak adanya pengakuan terhadap kepentingan negara-negara lain. Trump meminta negara-negara Eropa membayar, dan berlaku surut, atas proteksi militer Amerika untuk negara-negara Eropa. Trump meluncurkan percikan-percikan api kuat yang mengancam memicu perang dagang dengan Tiongkok.

Trump menuntut Jepang dan Korea Utara untuk membayar sebagai imbalan proteksi dari ancaman rudal-rudal Korea Utara. Ketika Trump menjatuhkan sanksi-sanksi terhadap Iran, ia jadikan sanksi itu mencakup siapa saja yang menggunakan Dolar untuk membeli minyak Iran. Dan karena Tiongkok sekarang adalah importer terbesar minyak di dunia, maka tindakan Trump ini memprovokasi Tiongkok untuk mengambil langkah-langkah untuk menghentikan penggunaan Dolar, apalagi Tiongkok sedang dalam perang dagang dengan Amerika Serikat.

Untuk itu, pada Maret 2018, Bursa Berjangka Shanghai untuk pertama kalinya meluncurkan kontrak berjangka yang terbuka untuk para investor asing. Kontrak ini merupakan kontrak berjangka untuk minyak, menggunakan denominasi Yuan agar menjadi pesaing untuk kontrak berjangka Brent dan WTI (West Texas Intermediate) yang menggunakan denominasi Dolar dan digunakan sebagai standar sekarang ini.

Jadi, meletusnya krisis finansial di Amerika tahun 2008 dan dampaknya terhadap perekonomian banyak negara dan kerugian negara-negara akibat krisis tersebut, kemudian kebijakan Trump yang proteksionis, perang dagang dan kebijakan-kebijakan finansial dan ekonomi yang diambilnya. Semua itu mempercepat munculnya orientasi-orientasi menentang dominasi Dolar.

Keempat: oleh karena itu, tindakan-tindakan itu telah memprovokasi beberapa negara, khususnya yang kuat dan independen, bahkan kadang-kadang sampai pada negara-negara satelit, meski pengaruh efektif dan kuat adalah dari gerakan-gerakan negara-negara independen. Hal itu karena pengaruh negara-negara satelit Amerika bersifat temporer untuk tujuan tertentu, kemudian berhenti sebab negara itu tidak mungkin berkonfrontasi dengan Amerika secara efektif selama negara itu beredar di orbit Amerika.

Kami paparkan aksi-aksi negara-negara ini:

(1) Aksi-aksi negara independen:

a. Rusia:

Pada tahun 2009, presiden Rusia Medvedev mengajukan usulan mata uang global alternatif dalam pertemuan G-8 di London sebagai mata uang cadangan alternatif untuk menggantikan Dolar. Tiongkok, Rusia, India, Turki dan negara-negara produsen minyak lainnya, belakangan sepakat melakukan semua transaksi perdagangan dan investasi bilateral menggunakan mata uang mereka sendiri. Tetapi, meski semua itu, harga emas dan minyak mentah masih tetap menggunakan standar Dolar.

Rusia berulang kali mengumumkan mata uang nasional lain menggantikan Dolar dan mengambil harga minyak Rusia menggunakan mata uang selain Dolar. Semua itu kembali kepada sanksi-sanksi Amerika terhadap Rusia setelah invasi Rusia terhadap semenanjung Krimea dan wilayah timur Ukraina pada tahun 2015. Semua itu juga merupakan konsekuensi dari investigasi atas intervensi Rusia dalam pemilu Amerika pada tahun 2016.

Kemudian Amerika Serikat telah meningkatkan sanksinya terhadap Rusia sejak 2015. Kongres Amerika telah memperluas sanksi tersebut secara bertahap, menggunakan “Act to Counter the Enemies of America Through Sactions” yang dikeluarkan pada bulan Agustus 2017. Kongres memberlakukan sanksi lebih keras terhadap Rusia. Ini merupakan langkah-langkah sangat kuat terhadap Rusia.

Aksi ini menyebabkan terputusnya hubungan bank-bank besar Rusia dengan Dolar, menghasilkan penurunan 18 persen Rubel terhadap Dolar. Semua itu pada waktu di mana Rusia menggunakan Dolar dalam 58% utangnya. Artinya, Rusia berutang sekira setengah dari jumlah utangnya menggunakan Dolar.

Oleh karena itu, Rusia jadi berada dalam dilema yang mendorongnya berusaha meminimalkan penggunaan Dolar dan membebaskan dirinya secara finansial, ekonomi dan moneter dari Dolar. Putin telah menyatakan secara gamblang dalam pidatonya di depan majelis Duma: “kita harus memperkuat kedaulatan ekonomi kita. Sementara perdagangan minyak di bursa menggunakan Dolar. Tentu saja kita berpikir bagaimana membebaskan diri dari beban ini.

Ia melanjutkan, “kita bertindak secara naif dalam beberapa dekade lalu. Saya berharap ada komitmen terhadap doktrin-doktrin secara terbuka dalam bidang perdagangan internasional dan perekonomian global. Sekarang, kita melihat bahwa kaedah-kaedah sistem perdagangan global mengalami banyak kejahatan dan ada banyak batasan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan politik yang disebut sanksi” (Dunya al-wathan, 9/5/2018).

Berikutnya, Rusia secara bertahap mulai menurunkan kepemilikan atas obligasi Amerika. Pada puncaknya tahun 2008, kepemilikan Rusia atas obligasi Amerika mencapai 223 miliar Dolar. Penurunan itu terus dilakukan hingga pada akhir tahun lalu, kepemilikan Rusia tinggal 100 miliar Dolar. Dan atas dijatuhkannya sanksi Amerika terhadap Rusia, Rusia melepas sebagian besar obligasi Amerika selama bulan April dan Mei 2018. Sekarang Rusia hanya memiliki 14,5 miliar Dolar obligasi Amerika.

Meski demikian, Rusia tidak bisa menjadikan Rubel menggantikan posisi Dolar disebabkan lemahnya kepercayaan terhadap Rubel yang tidak membantu Rusia menghimpun negara-negara yang punya bobot bersamanya. Hal itu kembali kepada sejumlah negara di dunia yang tidak ingin membeli Rubel yang kursnya berfluktuasi dalam skala luas di pasar mata uang, dan terutama dunia tidak percaya terhadap Rubel Rusia sebagai mata uang cadangan.

Begitulah, maksimal yang bisa dilakukan Rusia adalah menekan beberapa negara untuk membayar pembelian energi dari Rusia menggunakan Rubel. Tetapi, mata uang Rusia itu tidak mungkin menggantikan posisi Dolar. Dmintry Peskov, juru bicara Putin dalam wawancara dengan surat kabar The Financial Times mengatakan, “Semakin banyak negara, bukan hanya di timur tetapi juga di barat, berpikir tentang bagaimana meminimalkan ketergantungan kepada Dolar Amerika.” Mereka baru memahami bahwa perkara tersebut: (a) Mungkin. (b) Harus dilakukan. (c) Anda bisa menyelamatkan diri Anda jika Anda lakukan hal itu segera.

Penghapusan Dolar merupakan perkara yang mungkin, sampai batas tertentu. Tetapi, perkara tersebut tidak berkaitan dengan jika Anda ingin keluar dari zona Dolar. Tetapi apa yang menjadi alternatif setelah itu: Euro? Yuan? Bitcoin? Oreshkin, mantan deputi gubernur Bank Sentral Rusia mengatakan, “Masing-masing dari semua opsi ini memiliki konsekuensi sendiri-sendiri. Kita harus menyeimbangkan beban bertahan dengan Dolar dan beban mengadakan sikap baru.” (The Financial Times, 3 Oktober 2018).

Semua itu menunjukkan bahwa para pejabat Rusia sendiri tidak yakin sepenuhnya bahwa Rubel layak menjadi mata uang global menggantikan Dolar!

b. Tiongkok:

Tiongkok dengan potensinya bisa menjadikan mata uangnya Yuan menjadi pesaing yang kuat secara global. Tetapi, cakrawala politik globalnya sempit. Berikutnya hal itu mempengruhi sempitnya cakrawala ekonomi globalnya dari sisi persaingan dan konflik dengan Amerika.

Oleh karena itu, Tiongkok tidak bisa memaksakan mata uangnya secara global dalam transaksi perdagangan dan terhadap pasar keuangan meskipun skala ekonomi Tiongkok besar. Tetapi Tiongkok tetap bersandar kepada Dolar. Tiongkok mengumpulkan Dolar dalam jumlah besar yang selama tahun terakhir berkisar 4,3 triliuan Dolar! Tiongkok berusaha menjauh dari lembaga-lembaga keuangan Amerika.

Tiongkok membentuk kelompok ekonomi BRICS bersama Rusia, India, Brasil dan Afrika Selatan. Total skala ekonomi kelompk BRICS sekira 15 trilliun Dolar setara dengan 20% dari skala ekonomi global yang mencapai 74 triliun Dolar. Demikian juga, Tiongkok membentuk Bank pembangunan untuk membiayai proyek-proyek dan utang kepada kelompok BRICS pada Juli 2015 di Shanghai dengan modal 50 miliar Dolar dan akhirnya akan ditingkat menjadi 100 miliar Dolar sebagai alternatif dari Bank Dunia. Meski demikian, Tiongkok tidak berlepas diri dari Dolar!

Ketika presiden Trump menjatuhkan sanksi terhadap Iran, Trump menadikan sanksi itu mencakup person siapapun yang menggunakan Dolar untuk membeli minyak Iran. Karena Tiongkok sekarang adalah importer terbesar minyak di dunia, maka tindakan Trump inilah yang memprovokasi Tiongkok mengambil langkah-langkah untuk menghentikan penggunaan Dolar, apalagi Tiongkok sedang dalam kondisi perang dagang melawan Amerika Serikat.

Oleh karena itu pada Maret 2018, Bursa Berjangka Shanghai untuk pertama kalinya meluncurkan kontrak berjangka yang terbuka untuk para investor asing. Kontrak ini, yaitu kontrak berjangka, menggunakan denominasi Yuan agar menjadi pesaing untuk kontrak berjangka Brent dan WTI (West Texas Intermediate) yang menggunakan denominasi Dolar dan digunakan sebagai standar sekarang ini. Semua aksi ini memiliki bobot yang bisa mengguncang Dolar.

Satu hal yang membatasi kerja serius dari Tiongkok untuk mendongkel Dolar atau mengguncangnya secara efektif adalah kuatnya keterikatan Tiongkok dengan perekonomian dan Dolar Amerika. Skala perdagangan Amerika Tiongkok sangat besar mencapai 500 miliar Dolar per tahun. Tiongkok saat ini memiliki 1.170 miliar Dolar obligasi Amerika (website surat kabar keuangan China Xinhua, 30/9/2018).

Angka itu menurun dari 1.300 miliar Dolar pada tahun 2013. Tiongkok adalah negara pemilik terbesar obligasi Amerika. Cadangan Tiongkok berupa Dolar mencapai 4,3 triliun Dolar, di tambah lagi bahwa Tiongkok mengekspor komoditinya selama tahun 2016 senilai 2,1 triliun Dolar dan mengimpor 1,6 triliun Dolar sesuai data WTO yang membuat Tiongkok sebagai raksasa ekonomi kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Begitulah, masifnya perdagangan Tiongkok menggunakan Dolar, ditambah kepemilikannya atas obligasi Amerika, membuat Tiongkok hanya melangkahkan satu kaki dalam upaya serius untuk mengguncang Dolar. Keberhasilan Amerika dalam menarik Tiongkok untuk melakukan perdagangan internasional menggunakan Dolar membuat Tiongkok berkonsentrasi untuk tidak mengguncang Dolar.

Tiongkok sadar bahwa mereka akan menjadi pihak yang paling besar merugi secara global dari keguncangan Dolar. Ini mendorong Tiongkok membatasi perannya secara pelan dan hati-hati untuk menjaga cadangan Dolar dan obligasi miliknya. Sampai-sampai saandainya semua perdagangan Tiongkok dengan Rusia diubah dari Dolar maka hal itu tidak menyelesaikan persoalan sebab skala perdagangan Tiongkok Rusia secara timbal balik mencapai 120 miliar Dolar per tahun (Arabic China, 23/9/2018) tetap terbatas secara relatif dibandingkan perdagangan global yang mencapi lebih dari 20 triliun Dolar setahun.

Dengan ini, Tiongkok kurang berani dari Rusia dan lebih hati-hati dalam upayanya untuk membatasi dominasi Dolar.

Tampak bahwa Tiongkok menyadari bahaya transaksi dengan Dolar, baik dari sisi masifnya cadangan Dolarnya atau dari sisi obligasi Amerika miliknya, dll. Maka jadilah Tiongkok menjadi negara pembeli terbesar emas. Tiongkok menaikkan cadangan emasnya dari 600 ton pada tahun 2008 menjadi 1.842 ton pada tahun 2018. Ini menjelaskan penurunan besar cadangan Tiongkok dalam bentuk Dolar yang mencapai puncaknya pada tahun 2014 mencapai 4 triliun Dolar. (website Trading Economics)

Perlu diketahui, Tiongkok membeli lebih dari 700 ton emas pada tahun 2015 saja. Adapun obligasi Amerika maka setelah krisis finansial tahun 2008 Tiongkok menjual obligasi Amerika yang dimilikinya sehingga nilai penguasaan Tiongkok atas obligasi Amerika selama dua tahun pasca krisis tersebut menurun. Namun ancaman Amerika yang akan menghambat perdagangan Tiongkok yang pada waktu itu mencuat dalam masalah mainan anak-anak yang diekspor dari Tiongkok ke Amerika, menyebabkan peningkatan penguasaan Tiongkok atas obligasi.

Hal itu terus berlangsung sampai mencapai puncaknya tahun 2013. Tetapi Tiongkok kembali menjual obligasi Amerika yang dikuasainya karena terjadinya ancaman perdagangan dari pemerintahan Trump. Maka penguasaan Tiongkok atas obligasi Amerika menurun tidak secara konfrontatif.

Kemudian, Tiongkok jadi mengetahui jalan dan dengan hati-hati untuk mengurangi peran Dolar dalam perdagangannya. Maka Tiongkok menandatangani perjanjian dengan Rusia, Jepang dan negara lainnya untuk melakukan perdagangan menggunakan mata uang lokal. Demikian juga Tiongkok mendirikan bursa Shanghai untuk perdagangan minyak dengan denominasi Yuan yang di-back up dengan emas.

Bursa itu meng-capture 10% perdagangan minyak global selama enam bulan pertama sejak didirikan. Tiongkok juga berpartisipasi dalam Special Drawing Right (SDR) IMF. “Hari ini di samping Dolar Amerika, Euro, Yen Jepang, Poundsterling dalam keranjang mata uang SDR (Special Drawing Right) IMF menambahkan Yuan Tiongkok ke keranjang mata uang yang membentuk SDR (Special Drawing Right) sejak 1 Oktober 2016.” (www.imf.org, 30-9-2016)

Meski dengan semua itu, masifnya cadangan Tiongkok berupa Dolar dan obligasi Amerika dsb, membuat kerja Tiongkok untuk menyingkirkan Dolar tidak efektif berpengaruh. Oleh karena itu, Yuan hanya merepresentasikan 1,7% dari pembayaran internasional, dibandingkan Dolar Amerika yang merepresentasikan 40% pembayaran internasional.

(c) Uni Eropa

Pada tahun 1999 muncul Euro dan mulai digunakan oleh bank menempati posisi sebagai pengganti mata uang lokal negara-negara tertentu di Uni Eropa sejak tahun 2002 dan akhirnya berusaha menyaingi Dolar. Di belakangnya ada negara-negara perekonomian yang kuat secara global seperti Jerman, Perancis dan ditambah negara-negara industri dan kaya lainnya. Dengan itu, Euro menjadi mata uang yang kuat secara global.

Di belakangnya ada kekuatan yang secara kolektif memungkinkan Euro memiliki pengaruh politik global sehingga menyaingi Amerika. Uni Eropa memiliki potensi guna dibangun untuknya tentara yang kuat dan independen, dan Uni Eropa berusaha ke arah itu. Euro masuk sebagai cadangan di bank-bank sentral internasional dengan porsi mencapai antara 20-23 persen. Tetapi, salah satu faktor utama yang menghalangi kontrol Euro terhadap perekonomian global adalah lemahnya pengaruh politik, militer dan ekonomi Eropa di depan Amerika.

Uni Eropa sendiri tetap dalam kondisi mempertahankan eksistensinya. Sebab ada ancaman-ancaman yang tidak lunak untuk eksistensinya itu. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa merupakan guncangan kepercayaan terhadap Uni Eropa.

Demikian juga, munculnya gerakan-gerakan separatis rasial di negara-negara anggotanya yang menuntut pemisahan dari Uni Eropa turut melemahkan Uni Eropa. Ini ditambah lagi tidak adanya persatuan keputusan politik bagi Uni Eropa. Semua faktor itu kemudian tercermin pada mata uang Euro dan kepercayaan terhadap Euro.

(2) Negara-negara satelit Amerika yang bersepakat dengan Rusia, Tiongkok dan Eropa:

Turki, Iran, India dan Jepang:
– Gubernur Bank Sentral Iran Abdul Nasser Hamati mengumumkan bahwa dalam pertemuannya dengan representasi Rusia dan Turki (telah didiskusikan masalah perdagangan dan penggunaan mata uang lokal menggantikan Dolar.” (surat kabar Tehran Times, 9-9-2018).

– Rusia, Turki dan Iran sepakat menggunakan mata uang nasional mereka dalam pertukaran perdagangan di antara mereka menggantikan Dolar Amerika. Sesuai apa yang disebutkan oleh kantor berita Anatolia Turki. Kantor berita Anatolia Turki yang dikelola oleh negara, mengutip gubernur bank sentral Iran Abdul Nasser Hammati yang mengatakan di Tehran, “transaksi-transaksi perdagangan akan dilakukan menggunakan harga kurs tertentu.” (ahvalnews.com/ar, 9-9-2018).

– Pada Oktober 2018, Tiongkok dan Jepang menyepakati kontrak swap mata uang senilai 3 miliar Dolar, yang menjadi kotrak terbesar Jepang.

– Yury Borisov, deputi Perdana Menteri Rusia pada 31-10-2018 mengumumkan bahwa “telah ditandatangani kontrak suplay sistem rudal S-400 ke India yang akan menggunakan mata uang Rusia Rubel.” (sputniknews.com, 31-10-2018).

Negara-negara yang coba ditarik oleh Rusia dan Tiongkok kepada kebijakan transaksi menggunakan mata uang nasional, negara-negara itu tetap negara satelit Amerika atau antek Amerika.

Artinya, itu merupakan kebijakan yang terkait dengan Amerika dan cepat bersentuhan dengan Amerika dan tidak tuntas dalam berlepas diri dari transaksi menggunakan Dolar atau berlepas diri dari menjadikan Dolar sebagai cadangan moneter negara. Keputusan untuk independen ekonomi wajib diiringi oleh independsi politik seperti Tiongkok dan Rusia yang independen.

Sementara negara satelit itu menerima membahas transaksi menggunakan mata uang lokal dengan Rusia dan Tiongkok sebab mereka didorong oleh Amerika karena situasi darurat yang jika hilang akan kembali ke kondisi normalnya:

Turki sejak presiden Trump menjatuhkan sanksi terhadap baja Turki, dan sejak Amerika Serikat menyerang mata uang Turki, akhirnya Erdogan mengkritik Dolar untuk konsumsi lokal. Total utang Turki yang nilainya lebih dari 400 miliar Dolar diperoleh dalam bentuk Dolar. Ini berarti bahwa setiap kali nilai mata uangnya turun terhadap Dolar maka cicilan utangnya memerlukan lebih banyak Lira, dan berikutnya harga-harga naik dan masyarakat menekan dan Erdogan menyampaikan pidatonya yang mengkilat seperti kebiasaannya!

Adapun pernyataan Erdogan dalam Konferensi VI Majelis Turki di Roh Ordu Cultural Center Kyrgistan pada 3 September, dia mengatakan: “Kami menawarkan perdagangan menggunakan mata uang kita sendiri daripada menggunakan Dolar Amerika.” Pernyataan tersebut tidak ada faktanya. Pernyataan itu sangat jauh untuk menjadi hakikat faktual. Hal itu karena Turki secara asasi berdagang dengan Uni Eropa! Meski demikian, Turki berdagang menggunakan Dolar.

Turki juga berutang dalam bentuk Dolar dan menyimpan cadangannya berupa mata uang asing mayoritas dalam Dolar. Demikian juga, minyak dan gas alam serta bahan mentah yang diimpor semuanya juga menggunakan Dolar. Kita melihat Turki ketika Amerika mencabut sanksi darinya setelah Turki melepaskan pastur Amerika maka perkara-perkaranya kembali seperti semula. Turki tidak lagi bersemangat seperti sebelum dicabutnya sanksi untuk memberikan prioritas bertransaksi menggunakan mata uang lokal.

Adapun negara-negara berbahasa Turki di Asia Tengah, negara-negara itu mengikuti politik Amerika. Perdagangan Turki dengan negara-negara itu hingga meskinya pertukarannya menggunakan mata uang lokal tidak sampai ke angka berpengaruh dalam perdagangan global dikarenakan marjinalnya perekonomian negara-negara Asia Tengah.

Sedangkan Iran, Iran dilarang oleh Amerika dari bertransaksi menggunakan Dolar akibat sanksi-sanksi finansial keras yang dijatuhkan terhadap Iran dalam tahun yang panjang setelah Iran dikeluarkan dari sistem perbankan Amerika.

Tetapi, setelah sanksi-sanksi dicabut pada tahun 2015, Iran menjual minyaknya menggunakan Dolar dan menandatangani kontrak-kontrak besar dengan korporasi-korporasi internasional termasuk korporasi Eropa seperti Airbus dan Total Perancis hanya menggunakan Dolar saja. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa! Jadi sanksi-sanksi dan pencabutannya berpengaruh pada tindakan-tindakan Iran secara temporer.

Amerika lah yang memasukkan Iran atau mengeluarkannya dari Sistem Telekomunikasi Antara Bank Internasional (SWIFT). Ketika Amerika meningkatkan pernyataan permusuhannya kepada Iran dan Iran menutup pintunya terhadap Dolar maka respon Iran dengan pernyataan tentang transaksi menggunakan selain Dolar.

Sedangkan India, India mengimpor senjata Rusia sejak dahulu dan Amerika tidak melarang hal itu. India memiliki posisi khusus bagi Amerika sebab Amerika menginginkan India sebagai kekuatan yang punya bobot melawan pengaruh Tiongkok yang terus meningkat di Asia. India menyadari hal itu. Karena itu tidak diprediksi bahwa India akan mengubah Dolar ke Rubel atau Yuan sebagai mata uang global.

Adapun Jepang, keterikatannya dengan Amerika tidak perlu lagi dijelaskan. Transaksinya dengan Rusia tidak berarti sama sekali bahwa Jepang menentang Dolar atau bahwa Jepang menerima Rubel sebagai pengganti Dolar.

Ringkasnya: negara-negara yang bisa diperhitungkan memiliki dampak efektif dalam pengaruh dalam menyingkirkan Dolar dari posisinya adalah Rusia, Tiongkok dan Uni Eropa. Tetapi, semua faktor ini melemahkan pergerakannya seperti yang kami jelaskan. Tetapi seandainya semua negara itu terbebas dari faktor-faktor itu maka memungkinkannya menggoyang Dolar dari posisinya.

Negara-negara itu jika tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam perkara ini maka akan dikejutkan dengan apa yang disebut Dolar lemah. Ketika itu, negara-negara itu akan mendapati kekayaannya berupa cadangan devisanya dalam bentuk Dolar akan menguap.

Amerika memiliki utang sangat besar. Majalah Amerika, Washington Examiner pada 1-10-2018 menyebutkan, “Utang pemerintah Amerika meningkat lebih dari 1,2 tiliun Dolar selama satu tahun fiskal yang berakhir pada 30 September 2018. Hal itu menurut website pemerintah yang memonitor utang. Utang nasional Amerika pada akhir tahun fiskal 2017 telah mencapai 20,25 triliun Dolar dan pada akhir tahun fiskal 2018 mencapai 21,52 triliun Dolar.”

Akumulasi utang Amerika selama sepuluh tahun ini telah membawa negeri ke dalam kesulitan finansial. Dikarenakan cepatnya akumulasi utang pemerintah Amerika setelah krisis 2008, total utang pemerintah Amerika melompat dari 8 triliun Dolar menjadi 21 triliun Dolar sekarang ini maka kesulitan finansial Amerika menjadi akut. Itulah yang disebut oleh Bolton sebagai bahaya terhadap keamanan nasional dan perlu penyelesaian cepat, yakni dalam jangka pendek dan menengah, bukan jangka panjang.

Berhadapan dengan realita ini maka ruang yang masih tersisa di depan Amerika untuk mengelola pendanaannya adalah dengan makin menyuntikkan likuiditas (mencetak Dolar). Penyuntikan likuiditas dengan kuantitas yang memenuhi pendanaan negara apalagi pembayaran utangnya akan menyebabkan runtuhnya Dolar, atau yang disebut oleh menteri keuangan Amerika “Dolar lemah – a weak Dolar.”

Itu artinya, negara-negara di dunia yang bertransaksi menggunakan Dolar dalam perdagangannya, dan cadangan mata uangnya, serta obligasi Amerika yang dimilikinya, akan kehilangan kekayaannya dengan kadar yang sama dengan melemahnya Dolar. Artinya akan terjadi pukulan kuat terhadap negara-negara itu!

Di atas semua itu, realita sekarang ini tidak memungkinkan negara-negara ini untuk bersandar kepada mata uang global pengganti Dolar. Tetapi, bisa dikatakan bahwa upaya Rusia dan Tiongkok untuk bertransaksi menggunakan mata uang lokal dan membuat kontrak dengan negara-negara lain menggunakan mata uang lokal jelas memiliki pengaruh dalam menghancurkan dominasi Dolar jika terus berlangsung dengan kuat dan tanpa melemah.

Pergerakan Eropa di samping Tiongkok akan memiliki pengaruh lebih besar. Permintaan untuk membeli emas akan memperkuat hal itu, hanya saja hal itu tidak menyelesaikan persoalan selama emas tetap sebagai komoditi di bank-bank sentral yang dijual untuk memperoleh Dolar ketika negara-negara memerlukan Dolar. Atau emas sebagai cadangan untuk mendukung uang fiat money milik negara tersebut agar bisa memperoleh mata uang kuat (hard currency).

Persoalan tidak akan terselesaikan kecuali emas dan perak menjadi mata uang. Dan jika dikeluarkan uang kertas maka wajib dinilai dengan emas atau perak dan bukan hanya emas dan perak itu menjadi komoditi di bank-bank sentral untuk membeli mata uang kuat (hard currency).

Artinya, bahwa bank sentral di setiap negara mengeluarkan mata uang dengan emas dan perak. Dan tidak ada halangan negara mengeluarkan uang kertas yang dinilai dengan emas dan perak di mana pembawa uang kertas itu kapan saja bisa pergi ke bank dan menukarkannya dengan emas atau perak. Artinya, uang kertas itu digunakan sebagai mata uang substitusi dari emas dan perak yang bisa ditukarkan degan emas dan perak sesuai nominal yang tertulis.

Maka ketika itu, dominasi akan menjadi milik emas dan perak. Dan berikutnya negara tidak bisa merampok kekayaan pihak lain atau mengeksploitasi tenaga mereka dan menggerakkan alat-alat perang dan melancarkan perang invasif menggunakan mata uang yang tidak memiliki nilai. Seperti yang kita lihat sekarang, tidak ada negara yang mampu melakukan hal itu. Melainkan hanya daulah al-Khilafah yang mungkin mengimplementasikannya sebab ketentuan itu (menjadi emas dan perak sebagai basis mata uang) merupakan hukum syara’ yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasul Saw telah menerapkannya di negara beliau secara riil. Kemudian hal itu ditempuh oleh Khulafaur Rasyidin dan para Khalifah yang datang setelahnya sampai Daulah al-Khilafah dihancurkan pada 1342 hijriyah atau 1924 Masehi, dan setelah itu kebatilan memimpin.

Ideologi kapitalisme memimpin dunia. Pemimpin ideologi kapitalisme hanya mementingkan untuk merampok atau memakan harta manusia dengan jalan yang batil dan mengumpulkan harta miliaran. Ideologi kapitalisme merupakan hukum manusia yang jahat.

Dan kita melihat dampak dari penerapan ideologi kapitalisme dalam bentuk berbagai krisis finansial dan ekonmi yang menghancurkan di samping bermain-main dengan potensi masyarakat, merampok kekayaan mereka dan menyia-nyiakan harta mereka melalui uang kertas yang nilai instrinsiknya tidak bernilai! Ideologi batil ini harus dijatuhkan. Wajib dilakukan perjuangan untuk mendaulatkan ideologi Islam, ideologi kebenaran dan keadilan dalam bentuk yang menyatu (mentajasad) dalam negaranya yang telah dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, berjuang dan saleh.

﴿وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (TQS ar-Rum [30]: 6).

Dunia akan terus dalam penderitaan finansial dan ekonomi selama tidak berhukum kepada syariah Allah subhanahu wa ta’ala. Mahabenar Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً﴾

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” (TQS Thaha [20]: 124).[]Sumber

%d blogger menyukai ini: