Melawan Upaya Kriminalisasi Ajaran Islam

MuslimahNews.com — Tahun 2018 akan segera berakhir. Berbagai peristiwa ikut menghiasi perjalanan tahun ini. “Bagi umat Islam upaya kriminalisasi ajaran Islam, persekusi dan penangkapan Ulama, serta kriminalisasi simbol-simbol Islam merupakan kejadian yang tidak boleh diabaikan, bahkan seharusnya menjadi perhatian,” kata Ustazah Dedeh Wahidah, Jumat (28/12/2018).

“Kasus yang terjadi di penghujung tahun ini adalah pembakaran bendera tauhid. Disinyalir di balik peristiwa ini ada upaya untuk kriminalisasi simbol Islam berupa mengidentikkan bendera Rasulullah Saw ini dengan bendera ISIS. Namun qadla Allah menentukan lain, umat justru  bersatu dalam acara reuni 212 bereaksi keras dan mengecam aksi ini sebagai penghinaan dan pelecehan bendera tauhid,” tambahnya.

Ustazah Dedeh lalu mengungkap kepada MNews mengapa upaya kriminalisasi terus terjadi sekalipun mendapat penentangan dari sebagian umat Islam. ”Pertama, penentangan terhadap ajaran Islam serta penolakan, intimidasi, dan ancaman kepada pengembannya (Para Nabi dan Rasul, Ulama, dan Aktivis dakwah) adalah Sunnatullah yang akan senantiasa terjadi.”

“Penghinaan berupa tuduhan teroris dan radikal yang disematkan kepada pengemban dakwah Islam ideologi (Khilafah), sebenarnya ditudingkan juga kepada Baginda Nabi, sebagaimana dalam firman Allah SWT, ‘Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Alquran dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila’(TQS. Al Qalam 68:51). Demikian juga pendeskreditan itu juga terjadi pada ajaran Islam sebagaimana tuduhan keji yang dialamatkan kepada Alquran,” tukasnya mengutip Alquran surah Al-An’am ayat 6.

Sebelumnya, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Nuning Rodiyah, meminta penceramah berhati-hati dalam menyampaikan pesan dakwahnya di televisi selama Bulan Ramadan. “Penceramah jangan sampai mengambil materi Khilafah atau tentang pemerintahan,” katanya sebagaimana dikutip Eramuslim dalam konferensi pers di Gedung KPI Pusat, Jalan Ir. Juanda No. 36, Jakpus, Rabu (02/05/2018).

Ustazah Dedeh lalu menyatakan bahwa berbagai upaya pengkriminalan tersebut sebenarnya bertujuan untuk memadamkan cahaya Allah (risalah Islam) agar umat jauh dari Islam dan tidak menjadikannya sebagai aturan kehidupan yang harus diterapkan. “Hakikat inilah yang penting umat Islam sadari, sehingga umat tidak terjebak ke dalam perangkap yang sengaja disebarkan musuh. Sebaliknya kita harus yakin bahwa upaya-upaya makar yang mereka lakukan tidak akan pernah berhasil menghadang tersebarnya cahaya kebenaran Islam, kita juga wajib meyakini bahwa tegaknya kembali Islam di muka bumi adalah sebuah keniscayaan karena merupakan janji Allah SWT.”

Bagaimana sikap yang semestinya dilakukan umat Islam? Ustazah Dedeh katakana, “Tidak selayaknya umat terpengaruh oleh tuduhan keji mereka. Kita harus tetap istiqamah di jalan perjuangan dakwah.  Terus semangat menyerukan keagungan ajaran Islam dan kecemerlangan institusi Khilafah yang akan menyejahterakan umat manusia. Apapun risikonya, dakwah tetaplah kewajiban yang harus dijalankan demi izzul Islam wal Muslimin.”

Ustazah Dedeh mengutip salah satu hadis Rasulullah Saw yang disampaikan Abu Dzarr berikut: وَأَمَرَنِى أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَخَافَ فِى اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ وَأَمَرَنِى أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

Beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, Beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwa di jalan Allah, Beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad 5: 159)[]

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: