Kriminalisasi Khilafah Ajaran Islam, Bendera Tauhid & Persekusi

Seiring perjalanan waktu, kerinduan  umat untuk bersatu melawan kezaliman dan membela Islam semakin tidak terbendung, terlebih dipicu tragedi pembakaran bendera tauhid. Pada saat umat Islam marah atas pembakaran bendera tersebut, ternyata  penguasa tidak menunjukkan keperpihakannya kepada umat Islam sekalipun mayoritas.


Oleh: Dr Rahma Qomariyah Firdausi

MuslimahNews, FOKUS — Dewan Intelijen Nasional  AS (National Inteligent Council/NIC) merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future Pada Desember 2004. Dokumen ini berisi prediksi/ ramalan masa depan dunia tahun 2020. AS/Barat meprediksi  bahwa Khilafah Islam akan bangkit kembali. Menurut mereka, Khilafah Islam tersebut akan mampu menghadapi nilai-nilai peradaban Barat. (Mapping The Global Future Project.pdf)

Kekuatan institusi politik Islam, yaitu Khilafah oleh Barat dianggap sebagai suatu ancaman yang menakutkan bagi mereka. Sebab, ketika tegak, Khilafah akan menghentikan hegemoni dan dominasi Liberalisme Kapitalisme Barat atas dunia. Tentu saja  akan mengganggu kepentingan mereka, terutama masalah  politik dan ekonomi. Karenanya Barat berupaya sangat  sungguh-sungguh mengerahkan daya dan upayanya untuk  menghalangi tegaknya Khilafah Islamiyah.

Pada tahun 2003, lembaga think-tank (para pemikir) AS, yakni Rand Corporation, melakukan sebuah riset yang berjudul, Civil Democratic Islam. Hasil riset tersebut  merekomendasikan upaya menghalangi tegaknya Khilafah dengan cara memecah belah umat Islam. Mereka membagi umat Islam menjadi empat kelompok Muslim dan mengadu dombanya. Barat mendukung kelompok Tradisionalis (konservatif), Modernis dan Sekularis, dan menghimpunnya agar secara bersama memusuhi kelompok Fundamentalis (Kelompok yang ingin menerapkan hukum Islam/Khilafah). (RAND_MG574.pdf)

Selanjutnya Barat juga melakukan monsterisasi Khilafah, memfitnah dan berupaya mengopinikan Khilafah sebuah gambaran pemerintahan yang diktator, otoriter dan buruk. Perjuangan penegakan Khilafah difitnah dengan cap  memakai metode kekerasan, radikal, intoleran, sejarahnya kelam dan berdarah-berdarah. Ulama dan para da’i  yang mendakwakan dan memperjuangkan Khilafah dipersekusi.

Di Indonesia maraknya kasus persekusi yang yang mengatasnamakan kelompok tertentu, menimpa ulama dan  aktivis Islam. Mendakwahkan Khlilafah ajaran Islam dianggap melakukan  tindakan radikal, seakan-seakan melakukan perbuatan kriminal. Monsterisasi ini dari tahun 2017, eskalasinya meningkat sampai puncaknya di  bulan-bulan terakhir tahun 2018.

Melarang dan mempersekusi  ulama dan para da’i  yang mendakwakan Khilafah adalah tindakan yang tidak dibenarkan, karena Khilafah adalah ajaran Islam dan Khilafah akan membawa kehidupan umat Islam menjadi baik di  dunia dan akhirat. Konsep Khilafah adalah konsep yang benar dan dijamin baik, karena berasal dari yang Maha baik, yaitu Allah SWT. Sistem kehidupan dari Allah pasti baik. Sebaliknya  mustahil sistem/aturan kehidupan yang berasal ajaran Islam (ajaran dari Allah dan Rasul-Nya) mendatangkan keburukan dan bahaya. Karenanya seharusnya semua kaum Muslimin baik ulama, pejabat maupun rakyat bersatu berjuang untuk menegakkan Khilafah. Firman Allah Surat Almaidah ayat 5):

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

  1. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.

Tahun demi tahun umat Islam semakin menyadari pentingnya persatuan, membela Islam dan penerapan Syariah Islam. Tahun 2016 geliat persatuan umat Islam sudah mulai solid. Hal ini Nampak pada aksi 212, 2 Desember tahun 2016. Persatuan umat ini semakin membesar dan semakin solid untuk melawan kezaliman dan membela Islam. Reuni 212, yaitu 2 Desember tahun 2017  pun digelar, diikuti jutaan kaum muslimin. Reuni Aksi Bela Islam jilid I pun berlangsung dengan damai dan dahsyat. Terlebih waktu itu, sekalipun ada hambatan bagi peserta dari Tasik, yaitu tidak ada PO Bus yang bersedia mengantar ke Jakarta, maka peserta dari Tasik long march ke Jakarta. Justru inilah yang memantik semangat pada jiwa umat Islam semakin berkobar.

Seiring perjalanan waktu, kerinduan  umat untuk bersatu melawan kezaliman dan membela Islam semakin tidak terbendung, terlebih dipicu tragedi pembakaran bendera tauhid. Pada saat umat Islam marah atas pembakaran bendera tersebut, ternyata  penguasa tidak menunjukkan keperpihakannya kepada umat Islam sekalipun mayoritas. Beberapa aksi bela bendera tauhid di beberapa daerah, tidak diizinkan aparat setempat. Bahkan hukuman bagi dua pembakar bendera tauhid di Garut itu hanya 10 hari penjara dan denda Rp 2000 oleh pengadilan negeri Garut (CNN Indonesia).

Sikap Pemerintah ini dianggap menzalimi dan melecehkan umat Islam. Inilah yang membuat semangat  membela Islam, membela bendera tauhid semakin membuncah. Hasilnya Reuni 212 –Bela Tauhid jilid II tidak disangka mampu mengumpumpulkan massa dari seluruh penjuru tanah air, bahkan dari luar negeri dengan jumlah  yang fantastis10 juta(Gelora.co) Sedangkan menurut redaksi Eramuslim Peserta Reuni 212 yaitu 2 Desember tahun 2018 sebanyak 13, 4 juta lebih. Data bersumber dari jumlah IMEI telpon genggam peserta Reuni Akbar Mujahid 212 yang didapat dari MSC atau pusat operatornya masing-masing (Eramuslim.com).

Khilafah Ajaran Islam

Khilafah merupakan ajaran Islam yang ada dalam Alquran hadis dan Ijma. Menegakkan Khilafah adalah kewajiban kaum Muslimin .

Imam an-Nawawi, Madzhab Syafi’ dalam Kitab Rawdhah ath-Thâlibîn wa ’Umdah al-Muftîn menyebutkan:

  • لاَ بُدَّ لِلأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ وَيَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُوْمِيْنَ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوْقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا.قُلْت
  • تَوْلَي اْلإِمَامَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ Saya berpendapat bahwa menegakkan Imamah Sudah menjadi sebuah keharusan bagi umat untuk memiliki seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, menolong orang-orang yang dizalimi, memenuhi hak-hak dan menempatkan hak-hak pada tempatnya. (Khilafah) adalah fardhu kifayah. (Imam an-Nawawi, Raudhâh ath-Thâlibîn wa ‘Umdah al-Muftîn, III/433).

Beliau dalam Syarh Shahîh Muslim, menyatakan:

أَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ

Mereka (para sahabat) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang Khalifah (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, XII/ 205).

Imam mazhab yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hanbali) juga sepakat tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H):

إِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ…

Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib…” (Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, 5/416).

Hal senada ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, 12/205); Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, 2/15; Dr. Mahmud al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 248; dll)

Ulama Nusantara, Sulaiman Rasyid, dalam kitab fikih yang terbilang sederhana namun sangat terkenal berjudul Fiqih Islam, juga mencantumkan bab tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Bahkan bab tentang Khilafah juga pernah menjadi salah satu materi di buku-buku madrasah (MA/MTs) di Tanah Air.

Khilafah  adalah Proyek Allah

Secara empiris Khilafah sudah tegak selama 13  abad dan memiliki wilayah yang sangat luas, yaitu lebih dari 2/3 dunia. Barat berhasil mengahancurkannya tahun 1924 dan memecah belah menjadi 50 negara lebih. Selanjutnya Barat berupaya untuk menghalangi tegaknya kembali Khilafah. Kaum Muslimin harus menyadari bahwa Khilafah adalah ajaran Islam yang wajib ditegakkan serta  menyadari upaya-upaya yang dilakukan oleh Barat untuk membendung tegaknya Khilafah, baik dengan cara opini monsterisasi Khilafah, kriminalisasi Khilafah dan persekusi ulama dan pengemban dakwanya. Semua itu  upaya memecah belah umat Islam dan menghalangi persatuan umat Islam untuk menegakkan kembali Khilafah.

Upaya apapun yang dilakukan tidak akan menghalangi tegaknya Khilafah, karena Khilafah merupakan proyek Allah yang sudah pasti tegak sebagaimana firman Allah surat ash shaff ayat 8:

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

  1. “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya

Khilafah akan segera tegak kembali kembali tidak lama lagi. Kalau mengacu  prediksi dokumen bertajuk Mapping The Global Future oleh NIC, Khilafah tegak pada tahun 2020-an. Dan jauh sebelum NIC memprediksi, Rasulullah telah menyampaikan dalam hadits bisyârah (kabar gembira).  Rasulullah Saw. bersabda:

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Kemudian akan ada lagi Khilafah yang menempuh jejak Kenabian. (HR Ahmad)

Di samping itu dalam Alquran Allah juga berjanji akan memberi kekhilafahan kepada kaum Muslimin. Dalam Tafsir Alkasysyaf, Imam Zamaksyari menafsirkan surat Annur ayat 55:

  • وعدهم الله أن ينصر الإسلام على الكفر ، ويورّثهم الأرض ، ويجعلهم فيها خلفاء

Allah berjanji kepada mereka (kaum Muslimin) untuk memenangkan Islam atas kekufuran, dan mewariskan kepada mereka bumi, dan mereka para Khalifah di bumi. (Tafsir Alkasysyaf IV/ 421)

Imam Al Qaththan menafsirkan ليستخلفنهم  pada surat Annur ayat 55

  • ليستخلفنهم : يجعلهم خلفاء في الحكم على هذه الارض

Akan menjadikan mereka (kaum muslimin) para Khalifah/ kepala negara  dalam pemerintahan di bumi. (Tafsir  Al Qaththan III/4)

Sedangkan Imam Ibnu Ktsir dalam Tafsir Ibn Katsir menafsirkan Surat an Nur ayat 55

  • هذا وعد من الله لرسوله صلى الله عليه وسلم (2) . بأنه سيجعل أته
  • خلفاء الأرض، أي: أئمةَ الناس والولاةَ عليهم، وبهم تصلح

Ini adalah janji dari Allah kepada Rasul-Nya Saw. Karena sesungguhnya Alloh akan menjadikan para Khalifah di bumi, maksudnya adalah memimpin dan mengurus manusia (rakyat). Dengan para Khalifah ini akan mendatangkan suatu kemaslahatan. (Tafsir Ibn Katsir juz 6, hlm 77).

Penafsiran yang senada terdapat pada Tafsir Ath-Thabari, XIX/ 208; Tafsir Ar Razi/363; Tafsir Al Baidlawi, IV/387; Tafsir Abi Su’ud V/ 68.[]

Apa komentar Anda?