Ide-ide Hizbut Tahrir dalam Dunia Parenting

Aktivitas-aktivitas ibu yang terkait dengan ummun wa rabbatul bayt merupakan aktivitas yang paling penting dibandingan aktivitas lainnya dan tanggung jawab yang agung, karena di balik aktivitas-aktivitas itu ada rahasia kelangsungan hidup manusia di dunia ini.


Oleh : Ustazah Yanti Tanjung

MuslimahNews.com — Terkait dengan dunia parenting, orang tua adalah basis bagi pola asuh dan pola didik terhadap anak. Posisi orang tua menjadi tidak tergantikan untuk memerankan dua fungsi ini demi keberlangsungan hidup anak dan demi terbentuknya kepribadian anak.

Dalam kitab Nizhamul Ijtima’iyyah yang dikeluarkan resmi oleh Hizbut Tahrir beserta terjemahan Indonesianya dalam bab Pengasuhan Anak dibahas bahwa pengasuhan merupakan suatu kewajiban, karena dengan menelantarkan anak, dia akan binasa. Pengasuhan anak termasuk kategori menjaga jiwa yang telah diwajibkan Allah SWT. Jiwa anak wajib dijaga agar terhindar dari kebinasaan, sekaligus diselamatkan dari segala sesuatu yang dapat membinasakannya.

Maka kewajiban utama dalam pengasuhan anak adalah ibu berikut ayah sebelum pengasuhan anak tersebut diserahkan kepada kerabat karena alasan tertentu. Maka ibu dan ayah memiliki kewajiban untuk menjaga anak agar tidak terlantar, itu artinya ibu dan ayah wajib memeberikan pola asuh yang terbaik dan memfasilitasi atas terjaganya jiwa anak, makanannya, pakainnya, rumahnya, kebersihannya, kesehatannya dll, walau ayah dan ibu mengambil peran berbeda.

Seiring dengan pola asuh tersebut maka pola pendidikanpun harus berjalan, dimana ayah dan ibu sebagai orang tua memiliki kewajiban yang sama menjaga fithrah anak, Rasulullah Saw bersabda :

Hadits sahih bukhari no. 1296

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?

Maka yang merupakan kewajiban mendidik adalah orang tua, ayah dan ibu, mereka wajib mempertanggngjawabkan atas pendidikan mereka terhadap anak-anaknya khususnya menjaga fithrah anak.

Hanya dalam tataran kewajiban lainnya, ayah dibebankan memberikan nafkah, sedangkan ibu tidak, karena Islam memberikan aktivitas pokok bagi ibu sebgai ummun wa rabbatul bayt di mana tidak dibebankan pada ayah. Secara teknis praktis porsi yang lebih besar dalam pola asuh dan pola didik terhadap anak memang ada pada ibu karena fungsi ummun wa rabbatul bayt tadi.

Berhubungan dengan tugas pokok ibu adalah ummun wa rabbatul bayt, maka ibu diberikan seperangkat syariah Islam terkait denga itu, kehamilan, kelahiran, penyusuan dan hadhanah. Karena itu Islam memberikan tanggung jawab anak mulai hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh.

Aktivitas-aktivitas ibu yang terkait dengan ummun wa rabbatul bayt merupakan aktivitas yang paling penting dibandingan aktivitas lainnya dan tanggung jawab yang agung, karena di balik aktivitas-aktivitas itu ada rahasia kelangsungan hidup manusia di dunia ini.

Dari sini dapat kita pahami bahwa menjadi ummun wa rabbatul bayt dan pendidikan anak bagi seorang ibu tidak boleh ditawar, bahkan syariah Islam memberikan rukhshah boleh berbuka saat puasa ramadhan ketika hamil dan menyusui, bahkan tidak melakukan salat saat haidh dan nifas semua itu dalam rangka menyempurnakan aktivitas ummun wa rabbatul bayt dan pendidik anak-anaknya. Karena itu fungsi ummun wa rabbatul bayt wajib dijaga oleh ibu, oleh suaminya dan oleh negara agar ibu dapat menjalankan kewajibannya sebagaimanan mestinya.

Di sinilah letak dunia parenting di mana ayah ibu dalam pola asuh dan pola didik sebagai peran tanggung jawab, sehinga anak-anak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan terbaik di awal-awal kehidupannya hingga berakhir usia dini, terus berlanjut hingga baligh.

Dalam konsep pendidikan dibagian tujuan pendidikan Hizbut Tahrir secara gamblang menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yang wajib dicapai oleh orang tua adalah membentuk kepribadian Islam anak. Yang membentuk kepribadian Islam itu adalah pola berpikir Islam yang dilandasi akidah Islam dan pola perilaku Islam di mana halal dan haram menjadi standar dalam berperilaku.

Di tahap awal orang tua memiliki kewajiban menanamkan keimanan pada anak dengan kokoh, tarkiz akidah Islam. Berikutnya memberikan tsaqafah Islam secara berkala untuk memenuhi kebutuhan akal anak. Anak juga perlu didorong untuk beramal sesuai Islam, dibina, dilatih untuk taat agar kelak menjadi sosok pribadi islam mutamayyizah (khas, unik). Proses seperti ini kita bisa didapatkan dalam kajian kitab-kitab Hizbut Tahrir atau ketika kita dibina di halqah-halqah Hizbut Tahrir.

Lebih lanjut konsep pendidikan itu akan kita dapat di kitab khusus, “Ususut Ta’lim wal Manhaj fi dawlatil Khilafah” , walau bahasannya dalam sebuah sistem negara Khilafah tapi setiap orang tua harus baca buku tersebut untuk gambaran arahan kurikulum pendidikan dan gambaran proses perjalanan pendidikan mulai dari Pendidikan SD hingga PT. Dari situ akan ada gambaran bagaimana menyiapkan generasi bagi orang tua untuk membangun sebuah peradaban.

Apalagi saat ini kebijakan pendidikan semakin liberal dan Kapitalistik, maka kajian-kajian parenting ideologis yang digagas Hizbut Tahrir menjadi urgen dalam dunia parenting di Indonesia. Wallahu a’lam bishshawab.[]

%d blogger menyukai ini: