Parpol Sekuler, Penebar Virus Islamofobia

Bukan demokrasi jika seruan anti syariat tak boleh ada. Dan ini terjadi di negara demokrasi bernama Indonesia. Meski mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi seruan anti syariat bisa lantang diserukan, bahkan oleh sebuah Parpol yang berdiri secara legal.


MuslimahNews, EDITORIAL — Adalah PSI, singkatan dari Partai Solidaritas Indonesia, yang kini sedang masif menjual dagangan anti syariat demi memenangi kontestasi di Pemilu 2019. Menolak poligami dan Perda syariah, menjadi pilihan isu untuk meraih simpati sebagian masyarakat yang kian hari memang kian tersekularisasi, terutama kalangan perempuan dan generasi milenial.

Partai yang digawangi Grace Natalie dan didukung gembong JIL Guntur Romli beserta beberapa artis papan atas di Indonesia ini, usianya memang belum seberapa. Tapi ‘hebat’-nya, mereka nampak sangat percaya diri dengan keputusan memilih posisi ‘berseberangan’ dengan syariat Islam dan kelompok mainstream umat Islam.

Mereka terus melontarkan berbagai propaganda di lapak media massa yang -bukan kebetulan- memang sejalan dengan visi mereka. Jargon melawan ketidakadilan dan diskriminasi, termasuk ketidakadilan dan diskriminasi kepada perempuan, serta melawan seluruh tindak radikal dan intoleransi, terus dilekatkan sebagai visi perjuangan mereka. Seolah-olah mereka ingin mengatakan, syariah islam, termasuk poligami adalah sumber malapetaka. Maka apapun yang berbau syariat Islam, harus jauh-jauh disingkirkan.

PSI memang tak sendirian. Mereka berkolaborasi dengan kalangan jenderis dan liberalis yang sontak saling memberi dukungan. Dengan penuh kesadaran, mereka menularkan virus islamofobia yang akut menjangkiti mereka, di tengah munculnya angin segar perubahan berupa seruan penerapan syariat Islam sebagai solusi atas segala kekarutmarutan.

Ya. Islamofobia memang telah lama menjangkiti partai-partai politik sekuler di Indonesia. Di luar PSI, partai penguasa bahkan telah lebih dulu menunjukkan sikap yang represif anti Islam. Partai inilah yang diketahui paling getol menolak usulan penerapan Perda syariat atau semua usulan yang berbau syariat Islam. Di saat sama, partai ini pun getol memperjuangkan golnya aturan-aturan yang bertentangan dengan syariat Islam. Misalnya revisi Undang-undang perkawinan untuk melarang pernikahan dini, melarang poligami dan membuka celah pernikahan sesama jenis. Juga menginisiasi UU yang melegalkan peredaran miras, dan lain-lain.

Yang terakhir, penguasa yang berasal dari mbahnya parpol sekuler ini bahkan berani mengeluarkan aturan yang dinilai banyak pihak mencederai hak beragama kaum Muslimah. Yakni aturan yang mewajibkan ASN Muslimah memasukkan kerudung dalam kerah leher baju seragamnya. Padahal aturan itu jelas melanggar aturan Islam tentang pakaian yang mengharuskan perempuan mukmin mengulurkan kerudungnya ke dada-dada mereka.

Selama ini, rezim penguasa yang berbasis partai sekuler ini memang dikenal sangat alergi dengan seruan-seruan dakwah yang mengarah pada upaya penegakan syariat Islam dan Khilafah. Sehingga untuk menghadang arus dakwah yang faktanya kian menguat di tengah umat ini, mereka melontarkan berbagai narasi dan kebijakan tentang bahaya kebangkitan radikalisme Islam dengan cap anti pancasila dan  membahayakan NKRI.

Itulah mengapa di era ini, kasus kriminalisasi ajaran Islam dan para pengemban dakwahnya, serta kriminalisasi organisasi dakwah dan ulamanya, sangat kerap terjadi. Pencabutan BHP Hizbut Tahrir Indonesia yang dikenal lantang memberikan koreksi atas kebijakan penguasa serta menyerukan urgensi dan kewajiban Khilafah, munculnya kasus HRS, Ustaz Alfian Tanjung, Gus Nur, Jonru, Bu Rini, Asma Dewi dan lain-lain, menjadi bukti akutnya islamofobia pada rezim Parpol sekuler dan para pendukungnya.

Pertanyaannya, mengapa di negeri yang mayoritas Muslim bisa mucul partai-partai dan penguasa pengidap islamofobia? Padahal tak sedikit di antara aktivis dan penguasanya berasal dari kalangan Muslim dan mereka pun bergerak di tengah-tengah masyarakat kaum Muslim?

Islamofobia sendiri secara definitif diartikan sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam”. Istilah ini dipopulerkan oleh Runnymede Trust pada tahun 1997. Sebagai praktik, islamofobia sendiri sesungguhnya bukan perkara baru. Dia lahir sejalan dengan kelahiran agama Islam yang fitrahnya akan selalu berhadapan dengan kekufuran. Terlebih ketika dalam perjalanan sejarahnya, Islam muncul sebagai kekuatan politik global yang mengungguli kedigdayaan kekuatan-kekuatan politik eropa di masa lalu.

Dalam konteks persaingan politik internasional di masa itulah, lahir strategi baru di pihak kekuatan Eropa untuk melawan dan melemahkan kekuatan politik Islam dengan apa yang disebut gerakan orientalisme dan strategi perang pemikiran. Mereka mengintrodusir pemikiran-pemikiran negatif tentang Islam dengan target melemahkan kepercayaan umat terhadap Islam sekaligus menutup celah umat lain untuk melihat cahaya kebenaran Islam.

Dan di awal abad ke-20 target mereka berhasil dengan gemilang. Kedigdayaan institusi politik Islam terakhir yang ada di bawah Khilafah Turki Utsmani tumbang dengan cara yang menyedihkan.

Sejak saat itu, umat Islam di 2/3 belahan dunia yang sebelumnya dipersatukan di bawah satu kepemimpinan dan hidup dalam kemuliaan, tiba-tiba jatuh terpuruk di bawah naungan sistem sekuler, tercerai-berai dalam puluhan negara bangsa yang tak punya pengaruh di kancah politik internasional.

Namun saat di era 80an muncul spirit mengembalikan kejayaan Islam melalui seruan penegakkan Khilafah, islamofobia pun berubah menjadi gerakan global yang disponsori negara-negara adidaya khususnya Amerika untuk menghadang meluasnya spirit itu. Maka pasca peristiwa sandiwara serangan menara kembar WTC dan gedung Pentagon pada 11 september 2001, istilah dan praktek islamofobia mulai merebak di berbagai negara.

Persekusi terhadap umat Islampun masif terjadi di negeri-negeri mayoritas non Muslim semisal Eropa dan Amerika. Namun Allah sebaik-baik pembuat makar. Sandiwara ini justru berbalik menjadi jalan pembuka kesadaran banyak non Muslim untuk mempelajari Islam. Dan hasilnya berbondong-bondonglah mereka masuk dalam cahaya Islam.

Inilah yang mendorong gerakan islamofobia makin dimasifkan. Bahkan Amerika dan sekutunya memaksa dunia bersama mereka melakukan perang global bernama “war on terrorism” dan “war on radicalism” yang sejatinya adalah perang melawan Islam. Yakni melawan gerakan Islam atau gerakan penegakkan syariah melalui institusi Khilafah.

Diciptakanlah monster-monster buatan dan propaganda media agar umat kian takut dengan istilah Khilafah dan syariat Islam. Islam digambarkan sebagai agama yang misoginis, kejam, menghancurkan, anti keragaman dan bertentangan dengan spirit kemajuan.

Digandeng pula para penguasa sekuler berikut parpol penjaganya, dengan bayaran keridaan negara adidaya atas langgengnya eksistensi rezim mereka di kursi kekuasaan yang hakikatnya milik umat Islam. Dan di Indonesia, rezim ini telah menjalankan perannya dengan baik. Mereka benar-benar telah menjadi pelayan bagi kepentingan politik negara adidaya dengan terus mengamini semua skenario busuk menghadang kebangkitan Islam. Alih-alih bersama umat mempertahankan jati diri sebagai umat terbaik melawan hegemoni Barat, mereka bahkan rela menjadikan rakyat terpecah belah akibat narasi berbau islamofobia yang mengkotak-kotakkan umat dengan istilah moderat-radikal dan mengalienasi Islam dari umat.

Jadilah salah satu PR terbesar perjuangan umat hari ini adalah menyingkap kebusukan skenario jahat gerakan islamofobia, beserta rezim dan parpol yang mendukungnya. Yakni dengan cara dakwah mencerdaskan umat dengan ideologi Islam yang akan mengangkat taraf berpikir mereka, hingga mereka mampu memandang dan menyikapi masalah dengan cara pandang yang benar.

Harapannya, umat tak akan mudah menjadi korban propaganda musuh, apalagi rela menjadi pengusungnya hanya demi bayaran dunia yang sementara dan tak seberapa. Bahkan dengan hadirnya pemahaman ideologi Islam, umat akan terdorong untuk memperjuangkan kembali institusi politik Khilafah, yang akan melindungi mereka dari skenario jahat negara adidaya yang menghendaki umat ini terus ada dalam keterpurukan dan kehinaan.  Wallaahu a’lam bishshawwab.[]SNA

%d blogger menyukai ini: