Reuni 212, Spirit Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amazing. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan momen Reuni 212 di Monas, Ahad 2 Desember kemarin. Bayangkan, jutaan orang berkumpul dari berbagai tempat, entitas, agama, bahkan ras dengan nuansa penuh kegembiraan, persaudaraan, kasih sayang dan rasa damai. Dan yang lebih menakjubkan, di tengah-tengah mereka, jutaan Arrayah dan Alliwa’ — yakni panji hitam putih bertuliskan kalimah tauhid– pun berkibar-kibar di udara dengan megahnya.


MuslimahNews, EDITORIAL — Tak ada nuansa horor seperti yang sebelumnya terus diopinikan sebagian kalangan yang tak sepakat perhelatan ini digelar. Bahkan, penggalan demi penggalan cerita tentang pengalaman indah dan mengharukan para peserta yang hadir, banyak bertebaran di berbagai media sosial. Mereka semua nampak bersyukur bisa hadir di momen langka dan kolosal seperti ini. Mereka semua nampak bangga membawa berbagai atribut bertuliskan kalimah tauhid, لاإله إلا الله محمد رسول الله .

Lantas, magnet apa yang menarik mereka datang, hingga tua, muda, anak-anak bahkan kalangan difabelpun tak mau ketinggalan? Ternyata, bukan karena dorongan janji nasi bungkus atau amplop 100 ribuan sebagaimana fitnah yang menyebar. Mereka datang semata karena dorongan iman dan kesadaran. Yakni iman akan kebenaran Islam, dan kesadaran untuk mempererat persatuan di bawah panji kalimah tauhid.

Mereka juga datang, sekaligus untuk menunjukkan rasa bangga sebagai umat Islam dan rasa pembelaan terhadap Islam, di tengah berbagai persekusi dan fitnah keji yang terus-menerus ditujukan kepada umat Islam, ulamanya, para pengemban dakwahnya dan ajaran-ajarannya. Bil khusus pasca peristiwa pembakaran bendera tauhid yang dipandang sebagai puncak penghinaan terhadap inti iman Islam.

Banyak hal amazing yang bisa kita ambil dari peristiwa bersejarah ini. Salah satunya adalah penggambaran role model keindahan masyarakat Islam saat mereka dipersatukan oleh iman, serta kesadaran akan pentingnya mewujudkan persatuan hakiki di bawah panji kalimah tauhid dan ajaran-ajaran Islam.

Tak dipungkiri, selama ini umat sudah kehilangan gambaran tentang bagaimana wujud masyarakat Islam tatkala sistem Islam –yakni Khilafah– tegak di tengah-tengah mereka. Mereka bahkan cenderung memiliki gambaran buruk tentang Khilafah tersebab serangan opini yang terus-menerus digencarkan musuh-musuh Islam dan para anteknya dari kalangan kaum Muslim yang tak menghendaki umat bersatu di bawah naungan Islam yang ditegakkan oleh Khilafah.

Ya. Hari ini model masyarakat Islam memang penuh dengan gambaran buruk. Masyarakat Islam digambarkan sebagai masyarakat yang sangar, suka konflik dan perpecahan, tak punya haybah alias jati diri sebagai umat, lemah dan terjajah. Alhasil segala bentuk keburukan dilekatkan pada Islam dan umat Islam dengan berbagai narasi dan aksi yang kontraproduktif untuk Islam.

Media corong musuh nampak sukses menancapkan gambaran tersebut hingga berhasil mengikis kebanggaan pada sebagian umat Islam di berbagai level dan entitas. Mereka inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk menambah buruk citra Islam. Bahkan mereka pula yang dimanfaatkan menjadi amplifier sekaligus operator lapang bagi agenda-agenda musuh dengan target menjauhkan umat dari Islam dan gambaran indah tentang masyarakat Islam, memecah belah kekuatan mereka dan menista ajarannya.

Istilah-istilah radikal, intoleran, teroris pun terus mewarnai berbagai narasi di berbagai tempat. Media sosial, media cetak, media elektronik, seminar-seminar perguruan tinggi, rapat-rapat kantor, sekolah-sekolah, PKK, bahkan majelis ta’lim-majelis ta’lim sudah lumrah jadi lapak penjualan berbagai narasi ini. Bahkan Istilah-istilah ini terus dilekatkan pada ustadz, ulama, rohis, organisasi mahasiswa, ormas, mesjid, majelis ta’lim, PAUD, homeschooling, hingga pada bendera Rasulullah Saw, ar- Rayah dan alLiwa yang bertuliskan dua kalimah syahadat.

Di luar itu, narasi “mensuriahkan Indonesia”, “anti NKRI”, dan arabisasi juga terus disandingkan dengan dakwah menegakkan Islam kaffah dan dakwah Khilafah. Seolah-olah, jika masyarakat Islam atau Khilafah tegak maka yang terjadi adalah kehancuran dan perpecahan.

Namun apa yang terjadi? Qadarullah, makar musuh akhirnya berbalik pada pembuatnya. Alih-alih berhasil memisahkan umat dari Islam. Semua narasi dan gerakan yang dilancarkan justru membuat mimbar-mimbar diskusi keislaman makin terbuka lebar dan umat pun kian tersadarkan.

Makar merekalah yang justru mempercepat diraihnya target para pengemban dakwah Islam kaffah dan Khilafah. Yakni membangun kesadaran yang lurus terhadap Islam dan tentang masyarakat Islam. Bahwa Islamlah yang sesungguhnya merupakan obat mujarab bagi kondisi umat yang sakit parah akibat hidup dalam sistem buatan manusia. Yakni sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal.

Makar mereka pula yang justru memunculkan kesadaran bahwa umat membutuhkan persatuan hakiki yang dilandaskan pada ikatan yang benar. Yakni ikatan akidah yang terangkum dalam kalimah tauhid dan tersimbolisasi dalam bendera tauhid.

Di aksi 212 itulah, mereka tampilkan sebagian sisi keindahan masyarakat Islam yang menakjubkan banyak orang, bahkan menakjubkan diri mereka sendiri. Pengorbanan, saling berbagi, kepedulian terhadap lingkungan, ukhuwah, budaya saling mengingatkan, dan berbagai kebaikan lain begitu kental terasa di ajang ini. Mereka nampak begitu ingin menunjukkan bahwa citra umat Islam tak seperti yang selama ini ditudingkan. Bagaimana bisa dakwah kepada Islam kaffah dituding akan menghancurkan Indonesia, sementara sekedar rumput dan kebersihan lingkunganpun begitu elok dijaga. Begitulah pesannya, kira-kira.

‘Alaa kulli haalin, aksi 212 sesungguhnya telah memberi pelajaran besar kepada kita tentang role model masyarakat Islam.

Pertama, bahwa kesadaran dan ketakwaan merupakan pilar utama bagi tegaknya masyarakat Islam. Sehingga dengan pilar ini umat siap berkorban dan memberi kontribusi terbaik untuk Islam dan umatnya sebagai manifestasi ketakwaan dan kesadarannya tadi.

Kedua, spirit aksi 212 adalah amar ma’ruf nahi munkar sebagai salah satu bentuk kontrol sosial. Yakni ikhtiar mengingatkan penguasa agar menegakkan hukum yang adil atas pelaku penistaan agama. Selain itu, spirit ini begitu kental tatkala umat saling mengingatkan untuk tidak melakukan berbagai hal yang menyakiti sesama, merusak lingkungan dan lain-lain.

Fakta ini setidaknya menunjukkan bahwa aktivitas amar ma’ruf nahi munkar memang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Islam, bahkan menjadi salah satu karakter masyarakat Islam yang kini nyaris hilang. Aktivitas inilah yang sesungguhnya akan menjadi pilar kedua penegakkan hukum dalam sistem Islam. Yang akan menjamin umat Islam selalu ada dalam kebaikan, menjamin masyarakat bersih dari maksiat, dan penguasa tetap dalam tugas pokok fungsinya sebagai pengurus dan penjaga umat melalui penegakkan hukum-hukum Islam secara kaffah, bukan malah membiarkan kemaksiatan dan kemunkaran merajalela sebagaimana yang ditunjukkan rezim sekuler yg justru membiarkan kemaksiatan termasuk penistaan agama.

Hanya saja, karakter umat Islam ini memang terus berupaya dihancurkan oleh musuh melalui penyebaran paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Sehingga dampaknya sangat terasa. Umat nyaris kehilangan sense of crisis. Bahkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar pun teropini sebagai bentuk serangan atau ancaman. Wajar jika akhirnya kemaksiatan dan penistaan agama merebak dimana-mana. Kerusakan lingkungan dan musibah akibat perbuatan manusiapun terus melanda. Seolah-olah umat tak berpenjaga.

Ketiga, aksi 212 memberi pelajaran, bahwa keberadaan negara Khilafah sebagai institusi penegak hukum Islam memang tidak bisa ditawar-tawar. Karena, seberapapun kuat suara dan tenaga kita curahkan untuk menuntut keadilan dari rezim sekular anti Islam, maka hasilnya hanyalah harapan. Sistem sekuler memang tidak disetting untuk membela umat Islam. Sistem sekuler memang tegak untuk mengabdi kepada kepentingan musuh dan kemunkaran.

Inilah yang seharusnya menyadarkan umat, agar bersegera mencampakkan sistem sekuler dan menunaikan kewajiban untuk segera tunduk patuh pada hukum-hukum Islam yang ditegakkan oleh institusi penegaknya yakni Khilafah. Karena dalam naungan khilafahlah umat Islam akan mendapati habitatnya yang asli, sebagai umat yang satu, umat terbaik, umat yang siap menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Semoga aksi 212 tak berhenti sebatas seremoni. Tapi spirit dan energinya terus dipelihara sebagai modal bersama memperjuangkan terwujudnya visi yang lebih besar, yakni tegaknya hukum-hukum Allah di muka bumi. Sehingga kalaupun tahun depan umat kembali aksi, maka seruannya adalah seruan penegakkan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, bukan yang lain.[]SNA

%d blogger menyukai ini: