Bela Tauhid Kewajiban Seluruh Umat

Kriminalisasi terhadap Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berujung pencabutan status badan hukum perkumpulannya tidak menyurutkan pihak-pihak pembenci Islam untuk menghentikan aksinya.

MuslimahNews, KAAFFAH — Al-Liwa dan ar-Rayah, Bendera Rasulullah saw. yang senantiasa diusung oleh HTI dalam berbagai aksinya, juga mengalami kriminalisasi. Puncaknya adalah terjadi aksi pembakaran terhadap ar-Rayah yang Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh di Garut beberapa waktui lalu. Aksi pembakaran ini menimbulkan reaksi pembelaan yang luar biasa dari umat Islam. Salah satunya diwujudkan dengan berbagai Aksi Bela Tauhid di sejumlah daerah. Puncaknya, aksi ini bertemu dengan “Reuni 212” pada tanggal 2 Desember 2018 nanti sebagai peringatan momentum besar persatuan umat Islam di Indonesia pada Aksi Bela Islam 212 sekitar dua tahun lalu.

Tauhid Simbol Persatuan

Kalimat tauhid, Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam. Tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam. Mereka mengucapkan kalimat tersebut sebagai kunci awal keislaman mereka.

Dengan kalimat tauhid umat Islam paham bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya saw. telah mewajibkan mereka untuk bersatu. Allah SWT. berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

Berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai (TQS Ali Imran [3]: 103).

Allah SWT pun berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara (TQS al-Hujarat [49]: 10).

Ayat di atas dengan jelas memerintahkan umat Islam untuk bersatu dan melarang mereka untuk berpecah-belah. Hal ini merupakan konsekuensi dari tauhid sebagai simbol pemersatu umat.

Persatuan ini juga digambarkan dalam aktivitas Rasulullah saw, tatkala tiba di Madinah Munawarah. Salah satu aktivitas penting yang dilakukan Rasulullah saw. adalah mempersatukan sekaligus mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Persatuan dan persaudaraan yang dilakukan oleh Nabiyullah Muhammad saw. menjadi tonggak awal kesuksesan beliau dalam memimpin para sahabat meraih cita-cita mulia mewujudkan masyarakat Islam. Persatuan dan persaudaraan di antara para sahabat pula yang menjelmakan mereka menjadi super team yang tidak bisa dikalahkan.

Musuh-musuh Islam dan kaum Muslim tidak pernah mampu mencerai-beraikan jamaah Islam selama mereka bersatu-padu. Sebaliknya, ketika perpecahan melanda kaum Muslim, musuh akan dengan sangat mudah mengintervensi dan memperlemah jamaah mereka. Persatuan ini tidak lain karena mereka diikat dengan kalimat tauhid—Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—yang telah menghancurkan berbagai perbedaan di antara mereka.

Tauhid Simbol Kebangkitan Islam

Tidak sekadar mempersaudarakan dan mempersatukan. Kalimat tauhid juga hakikatnya adalah simbol kebangkitan Islam. Makna Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—yang mengusung keesaan Allah SWT dan menunjukkan Muhammad saw. sebagai utusan-Nya—pastinya membawa semangat perubahan terhadap kondisi masyarakat Arab Jahiliyah saat itu.
Islam hadir untuk memanusiakan manusia. Membuat manusia bangkit. Sesuai dengan fitrah kemanusiaannya yang memiliki kemuliaan akal. Rasulullah saw. menyeru manusia pada akidah Islam dengan jalan dakwah fikriyyah. Berkenaan dengan ini Rasulullah saw bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi dengan menyatakan Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Siapa yang telah melakukan demikian, telah terpeliharalah dariku jiwa dan harta mereka, kecuali yang telah ditentukan oleh Islam dan hisabnya terserah kepada Allah (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan ajakan Rasulullah saw pada fikrah (ide) yang menghasilkan kebangkitan Islam. Faktanya, dengan itulah Islam berhasil diterapkan di Madinah. Mulailah Islam mengatur kehidupan rakyat serta membangun tatanan hidup berlandaskan akidah Islam. Islam kemudian menyebar seluruh penjuru bangsa Arab. Setelah itu bangsa-bangsa lain pun berbondong-bondong masuk Islam dan menganut fikrah-nya. Inilah kebangkitan hakiki manusia yang dilandasi dengan pondasi tauhid. Dengan itulah tatanan kehidupan masyarakat mencapai kegemilangannya bagaikan cahaya yang menjadi mercusuar kemuliaan manusia.

Tauhid Simbol Kemenangan Islam

Kebangkitan Islam yang dilandasi pondasi tauhid secara nyata menunjukkan kemenangan Islam. Demikianlah hakikatnya ketika kalimat tauhid—Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh—telah berkibar di seantero negeri. Itulah pertanda kemenangan Islam. Kemenangan Islam bukan sekadar atas usaha manusia. Namun, kunci kemenangan adalah adanya pertolongan Allah SWT. Pertolongan Allah SWT akan diturunkan ketika terdapat kesabaran dan ketakwaan yang penuh pada perintah Allah SWT. Oleh karena itu, kesabaran dan ketakwaan adalah kunci datangnya pertolongan Allah SWT. Sebaliknya, kemaksiatan dan ketidaksabaran adalah kunci kelemahan dan kekalahan.

Jika pertolongan Allah SWT telah diturunkan kepada suatu kaum, sungguh tidak berlaku lagi logika apapun. Yang berlaku di sana adalah ketentuan dan kehendak-Nya. Dalam kondisi semacam itu, yang sedikit bisa mengalahkan yang banyak dan yang lemah bisa menghancurkan yang kuat. Yang mustahil bisa menjadi kenyataan dan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itulah keimanan yang lahir dari pondasi tauhid.

Di dalam sejarah, Nabiyullah Muhammad saw. pada saat Perang Badar al-Kubra, hanya diperkuat oleh 317 pasukan dan akomodasi perang yang sangat minim. Sebaliknya, pasukan Quraisy diperkuat oleh sekitar 1000 pasukan dan akomodasi perang yang lengkap. Namun, atas ijin Allah SWT, pasukan Nabi Muhammad saw. berhasil mengalahkan pasukan Quraisy karena kesabaran dan ketakwaan mereka kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) kalian dan agar dengan itu tenteram hati kalian. Kemenangan kalian itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (TQS Ali Imran [3]: 126).

Alhasil, kemenangan ditentukan pondasi tauhid yang melahirkan kesabaran dan ketakwaan dalam perjuangan di jalan Allah SWT. Dengan keimanan yang kuat, tidak ada yang bisa mengalahkan umat Islam, atas ijin Allah SWT.

Khatimah

Karena itu, Aksi Bela Tauhid 212 mesti menjadi momentum untuk memperkuat kembali persatuan umat Islam. Persatuan yang akan membangkitkan umat. Dengan itu umat Islam kembali menjadi umat terbaik, yang memimpin umat manusia yang kini berada dalam kehancuran multidimensi.
Dengan kebangkitan Islam, kemenangan Islam adalah suatu hal yang niscaya. Apalagi Allah SWT telah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-rang yang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka—sesudah mereka berada dalam ketakutan—menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan apapun. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik (TQS an-Nur [24]: 55).

Saat janji Allah SWT terwujud dalam bentuk kemenangan yang Dia berikan kepada kaum Muslim, saat itulah kebahagiaan hakiki akan terwujud. Allah SWT berfirman:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ – بِنَصْرِ اللهِ

Pada hari ini, kaum Mukmin merasakan kebahagiaan karena memperoleh pertolongan Allah (TQS ar-Rum [30]: 4-5). []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah (Allah) Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan agama itu atas segala agama walaupun orang-orang musyrik membencinya (QS Ash-Shaff [61]: 9). []Buletin Dakwah Kaffah No. 067
[22 Rabiul Awwal 1440 H | 30 November

%d blogger menyukai ini: