Perempuan dalam Lingkaran Kekuasaan

Oleh: Dr Arum Harjanti

Kabar mundurnya Anna Sophanah dari posisi Bupati Indramayu cukup mengagetkan banyak pihak. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku telah menerima surat pengunduran diri Bupati Indramayu Anna Sophanah. Anna menemui Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Selasa (13/11/2018), di Kantor Kemendagri dan menjelaskan alasan pengunduran dirinya. Anna ingin mengurus Bapaknya yang sakit dan sangat butuh perhatiannya.

Ia tidak mau mengulangi kejadian yang sama, tidak dapat memberikan perhatian pada ibunya saat ibunya sakit dan kemudian meninggal dunia. Selama ibunya sakit, ia jarang memberi perhatian karena kesibukan sebagai bupati. Anna juga membantah isu yang beredar bahwa ia mundur terkait permasalahan hukum.


MuslimahNews, KOMPOL — Mundurnya Anna Sophanah dari jabatan Bupati tentunya dianggap sebagai langkah mundur bagi para pegiat gender. Apalagi di saat gencarnya upaya untuk mencapai kesetaraan gender yang menjadi salah satu target dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Planet 50:50 pada tahun 2030.

Partisipasi perempuan dalam politik merupakan salah satu indikator terwujudnya kesetaraan gender. Bahkan kesetaraan gender dianggap sebagai perkara pokok dalam pembangunan berkelanjutan.

Dalam konsep kesetaraan gender, partisipasi politik perempuan yang ingin dicapai adalah partisipasi penuh perempuan pada level pengambilan keputusan dalam politik, ekonomi dan kehidupan publik. Inilah yang ditetapkan dalam tujuan 5.5 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Fakta mundurnya Ana ini tentu akan menambah beban negara Asia Pasifik untuk mencapai partisipasi politik perempuan secara optimal. Apalagi di Asia dan Pasifik, perempuan masih kurang terwakili dalam pengambilan keputusan dan peran kepemimpinan.

Dalam laporan Gender Equality dan the Sustainable Development Goals in Asia and Pacifik yang dipublikasikan bulan September 2018 disebutkan bahwa anggota parlemen perempuan hanya 1 dari 5 anggota parlemen di Asia dan Pasifik.

Atas alasan tersebut, saat ini di berbagai negara khusunya di Asia sedang berusaha untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam bidang politik. Di Thailand diadakan Seminar tentang “Mempromosikan Kepemimpinan Perempuan dan Partisipasi Politik” yang bertujuan untuk memberdayakan perempuan Thailand dalam persiapan Pemilu Februari 2019.

Anna-Karin Jatfors, Direktur Regional untuk UN Women Asia and Pacific mengatakan “Meningkatkan partisipasi politik perempuan membutuhkan pendekatan seluruh masyarakat. Mengatasi hambatan bagi perempuan untuk memasuki politik tidak hanya akan menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk meningkatkan partisipasi politik perempuan, tetapi dapat membawa perubahan transformatif bagi semua.” Misalnya, bukti dari seluruh dunia menunjukkan bahwa negara-negara dengan lebih banyak perempuan di politik menentukan peningkatan kualitas tata kelola, termasuk dalam sistem pendidikan dan investasi infrastruktur.

Pirkka Tapiola, Duta Besar UE untuk Thailand mengklaim, partisipasi politik yang setara antara perempuan dan laki-laki seperti di Finlandia dan Belgia telah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

Sesungguhnya ide kesetaraan gender telah memaksa perempuan “meninggalkan” peran kodratinya. Pada akhirnya hal ini akan berdampak buruk pada kehidupan rumah tangga dan keluarganya, bahkan secara tak langsung akan membahayakan masyarakat.

Namun dampak buruk ini sering dilalaikan atau tidak disadari. Barat telah mencekoki pikiran pemuja gender, bahwa keberhasilan itu hanya diukur dari capaian GNP, pembangunan infrastruktur dan kenyamanan nisbi kapitalistik yang materialistis.

Target hitung-hitungan matematis, telah membutakan hati dan pikiran para pegiat gender, sehingga mereka abai akan posisi nya sebagai hamba Allah yang harus terikat dengan aturan Allah. Bahkan bisa jadi inilah cara musuh Islam untuk menghancurkan institusi keluarga Muslim, yang menjadi benteng terakhir umat.

Pada titik tertentu, bisa jadi kesadaran untuk kembali kepada kodratnya akan muncul, sebagaimana yang terjadi pada Bupati Indramayu, Anna Sophianah. Penyesalannya tidak mampu menemani hari-hari terakhir ibunya, menyentakkan kesadaran bahwa hidup bukan hanya untuk jabatan, kemasyhuran dan kekayaan. Bahagia anak adalah berada di samping orang tuanya, bahagia ibu adalah bersama anaknya tanpa direnggut oleh kepentingan duniawi yang tak pernah terpuaskan.

Hanya saja, kesadaran ini akan dipandang sebagai langkah mundur oleh para pegiat kesetaraan gender karena mereka hanya berpikir tentang target yang hendak diraih di dunia. Inilah cara pandang kapitalis yang hanya menggunakan akalnya dan meninggalkan aturan agama. Padahal seorang manusia, termasuk perempuan, terlebih seorang muslimah meyakini aturan Sang Pencipta lah yang paling tinggi, oleh karena itu sudah seharusnya seorang muslimah terikat kepada aturan Allah dan menaati-Nya. Ketaaatan inilah yang akan membuat turunnya Rahmat Allah, dunia dan akhirat, bukan semata-mata diukur dengan ikut sertanya perempuan dalam lingkaran kekuasaan.

%d blogger menyukai ini: