Politik Islam VS Politik Demokrasi

MuslimahNews, EDITORIAL — Jagad perpolitikan jelang pilpres 2019 nampak kian memanas. Persaingan antara 2 kubu tak lagi muncul sekedar dalam bentuk adu gagas atau adu janji sebagaimana biasanya. Yang justru menguat adalah adu hujat dan model-model kampanye tak bermanfaat.

Di antaranya nampak saat elit politik begitu ringan menyampaikan kata-kata makian tak elegan demi menyalurkan kekesalan terhadap lawan politiknya. Kata-kata politik genderuwo, politik sontoloyo, kaum buta tuli, petruk jadi raja, hingga plesetan ayat-ayat suci Alquran nampak menjadi senjata pilihan untuk saling menyerang kubu lawan. Dan akhirnya atmosfer politik pun dipenuhi perdebatan soal narasi dan berbagai diksi yang minus adab sekaligus minus substansi.

Begitupun ketika penayangan film ahok dan Hanum-Rangga menjadi alat adu kuat diantara dua pihak yang berhadapan. Semuanya melengkapi agenda adu hoax yang nampak sudah jadi menu utama di perhelatan jelang pilpres yang akan datang. Seolah-olah politik adalah soal menang kalah. Dan kekuasaan adalah tujuan tertinggi perjuangan. Segala-galanya.

Dalam politik demokrasi, praktek persaingan semacam ini memang merupakan keniscayaan. Sistem politik ini memang tak mengenal halal haram. Politik bahkan hanya didefinisikan sebagai cara meraih kursi kekuasaan. Dan kursi kekuasaan adalah puncak kebanggaan sekaligus sarana meraih materi keduniawian.

Itulah mengapa, partai-partai politik dan elit yang lahir dari dan dengan spirit demokrasi cenderung abai terhadap nilai-nilai moral. Segala cara bisa dilakukan demi memenangi persaingan. Platform perjuangan bisa berubah sesuai kepentingan. Posisi kawan dan lawan politik pun bisa saling bergantian. Tak ada lawan dan kawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Konsistensi ideologi, menjadi hal nisbi.

Wajar jika dari realitas politik demokrasi seperti ini lahir para penguasa yang tak sungguh-sungguh menginginkan rakyat ada dalam kebaikan. Kepentingan diri, pribadi dan kelompok, justru menjadi hal yang diutamakan. Berbagai kebijakan publikpun cenderung merepresentasi kehendak diri, kelompok atau partai pengusung yang berjasa mensponsorinya hingga berhasil duduk di kursi kekuasaan. Sementara posisi rakyat tetap menjadi pihak yang terpinggirkan.

Parpol dan elit partai dalam politik demokrasi tak nampak serius berikhtiar melakukan pencerdasan dan berupaya mengikatkan visi partai agar menjadi visi umat secara keseluruhan. Yang penting, bagaimana bisa menang.

Parpol dan elit politik yang lahir dari politik demokrasi malah lumrah melakukan berbagai hal yang menyakiti hati umat. Hingga perubahan ke arah yang lebih baik kian jauh dari benak dan harapan umat. Bahkan pada sebagian orang, frame politik pun terstigma sebagai sesuatu yang kotor dan harus dihindarkan.

Berbeda halnya dengan sistem politik Islam. Dalam Islam, politik memiliki makna yang demikian mulia. Politik dimaknai sebagai pengurusan urusan umat baik di dalam maupun luar negeri, hanya dengan hukum-hukum Islam.

Mengapa demikian? Dikarenakan, dalam Islam politik adalah salah satu manifestasi keimanan, bahwa Allah SWT adalah Pencipta sekaligus Pengatur kehidupan dengan jalan menurunkan risalah islam. Dengan demikian Islam adalah politik. Politik adalah Islam. Islam tak mengenal pemisahan agama dari politik. Politik terikat dengan halal haram.

Dengan makna sedalam inilah, maka aktivitas politik dalam Islam didedikasikan untuk kepentingan umat dan kemuliaan risalah Islam. Sehingga politik Islam nampak berdimensi duniawiyah sekaligus ukhrawiyah.

Aktivitas politik inilah yang semestinya lekat pada para pelaku politik, baik di tataran individu, kelompok/jamaah/partai, maupun negara. Di tataran individu, aktivitas politik nampak dalam keterikatannya pada hukum-hukum syariah di saat memecahkan seluruh problem yang dihadapinya. Juga akan nampak pada kehidupan sosial di tengah lingkungan masyarakatnya, termasuk dalam aktivitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Di tataran kelompok, aktivitas politik Islam ini nampak dalam keseriusannya berjuang mencerdaskan umat agar Islam dipahami dengan benar, diyakini dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan. Kelompok atau partai politik Islam ini, akan terdepan dalam memperjuangkan tegaknya hukum-hukum Islam dalam kehidupan, dengan jalan mendidik dan menghimpun potensi umat hingga ada dalam barisan perjuangan bersamanya. Terlebih sejatinya kelompok atau partai politik Islam adalah institusi pemikiran yang tegak di atas akidah Islam dan pemahaman akan hukum-hukum Islam.

Adapun dalam tataran negara atau penguasa, maka aktivitas politik Islam akan nampak dalam konsistensinya menerapkan seluruh hukum-hukum Islam baik di dalam negeri maupun dalam hubungan antar negara (polugri). Negara, akan mengatur seluruh peri hidup rakyat dan menyelesaikan seluruh problem kehidupan mereka hanya dengan Islam, karena negaralah institusi pelaksana politik Islam sebenarnya.

Penerapan hukum-hukum Islam inilah yang dipastikan akan menjamin kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, tanpa kecuali. Ini dikarenakan hukum-hukum Islam datang dari Allah SWT, Zat Yang Maha Pencipta, Mahaperkasa, Mahabijaksana, Mahasempurna, Mahaadil dan Mahatahu segalanya.

Sayangnya, saat ini sistem politik Islam yang mulia ini belum tegak dalam bentuk institusi negara. Sistem ini telah lama hancur dengan runtuhnya sistem politik Islam terakhir yakni Kekhilafahan Ustmani di tahun 1924 atas konspirasi Barat.

Padahal institusi politik Islam bernama Khilafah ini telah tegak selama 14 abad sejak Rasul saw mewariskan negara Islam yang didirikannya di Madinah Al Munawwarah dan ditegakkan oleh para sahabat dan generasi-generasi setelahnya. Dan di sepanjang masa itu pulalah, umat Islam dan umat lainnya bisa merasakan kehidupan sejahtera dan penuh berkah.

Tentang hal ini cukuplah pernyataan Will Durant dalam bukunya sebagai bukti:

Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad. (Will Durant – The Story of Civilization).

Itulah sedikit gambaran ekses penerapan sistem politik Islam yang tercatat dalam sejarah peradaban Islam. Namun hari ini gambaran tersebut sudah hilang sejalan dengan lenyapnya institusi dan aktivitas politik negara Islam.

Yang tersisa hari ini adalah aktivitas-aktivitas politik Islam yang dilakukan dalam tataran personal terkait dengan urusan-urusan personal. Kalaupun ada partai politik ideologis yang melaksanakan aktivitas politik Islam, maka hari ini mereka mendapat penentangan yang luar biasa dari rezim sekuler yang tak menginginkan sistem politik Islam benar-benar tegak karena dipandang mengancam kekuasaan mereka.

Hanya keimananlah yang membuat mereka tetap kokoh menetapi jalan perjuangan. Meniti fase demi fase perjuangan sebagaimana perjuangan politik yang dicontohkan baginda Nabi Saw. Menampilkan aktivitas politik yang penuh keyakinan dan kejujuran, penuh marwah, elegan dan mencerdaskan.

Mereka bekerja dibawah bimbingan wahyu berupa tuntunan hukum-hukum syara dan keyakinan atas peta jalan yang diwariskan Nabinya. Mereka juga bekerja dibawah keyakinan akan janji pertolongan Allah, dengan kembalinya institusi politik islam hakiki yakni Khilafah ‘ala Minhaj an- Nubuwwah yang akan mengembalikan kemuliaan umat sebagaimana seharusnya.

Islam pasti akan mencapai wilayah yang diliputi siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah yang megah (perkotaan) maupun yang sederhana (perkampungan), melainkan akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan memuliakan orang-orang yang mulia dan menghinakan orang-orang yang hina. Mulia karena Allah memuliakannya dengan Isalm. Hina karena Allah menghinakannya akibat kekafirannya.” (HR Ahmad)

Allah akan menghimpun seluruh dunia hingga aku bisa melihat bagian Timurnya dan bagian Baratnya. Dan Allah akan menjadikan kekuasaan umatku atas seluruh dunia.” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, al Hakim, dan Musnad Imam Ahmad)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar Ra’du 11)

Dengan demikian nampaklah perbedaan mencolok antara politik dan aktivitas politik dalam sistem demokrasi dengan politik dan aktivitas politik dalam sistem Islam. Keduanya bagai bumi dan langit karena bersumber dari sumber yang berbeda.

Demokrasi berasal dari akal manusia yang lemah. Sementara Islam berasal dari Allah SWT. Zat Yang Maha Mencipta dan Maha Mengatur. Zat yang telah bersumpah dengan nama-Nya sendiri bahwa kebaikan akan didapat oleh mereka yang mau tunduk dan patuh pada seluruh aturan-Nya.[]SNA

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: