Tak Dihargai Sistem Sekuler, Guru Honorer Dimuliakan dalam Sistem Islam

MuslimahNews.com — Demo ribuan guru honorer dianggap berbagai pihak tak mendapatkan perhatian dari penguasa negeri ini, di antaranya mantan menteri Sudirman Said. Dia menegaskan, kondisi guru honorer saat ini sungguh memprihatinkan. Mereka sudah bekerja selama bertahun-tahun tapi belum ada kejelasan statusnya. Padahal jasa guru terhadap pembangunan bidang pendidikan sangat besar.

“Saya prihatin betul dengan keadaan guru honorer. Sudah bertahun-tahun tapi statusnya belum jelas. Bahkan kemarin saya baca di media, mereka (guru honorer) ingin bertemu pemimpin pun tidak ditemui,” ujar Sudirman Said sebagaimana dikutip Detik.

Tanggapan lain muncul dari Ustazah Yusriana, pemerhati generasi, Jumat (9/11/2018). Dia menyayangkan, menurutnya, “Ini membuktikan bahwa pemerintah tidak perduli terhadap nasib para guru yang telah mencurahkan tenaganya dalam mendidik generasi. Padahal guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam mencetak generasi.”

Kualitas generasi yang akan datang sangat ditentukan oleh peran guru dalam mendidik mereka, kata Ustazah Yusriana. “Kalau pemerintah memperhatikan peran strategis ini, tentu pemerintah tidak akan abai dalam menyejahterakan para pencetak generasi ini. Tentu ini semakin membuktikan lemahnya sistem pendidikan sekuler yang tidak memberikan jaminan kesejahteraan bagi para guru,” lanjutnya.

Guru Sejahtera dalam Sistem Islam

Ustazah Yusriana lalu menjelaskan bagaimana sistem Islam pernah menoreh prestasi gemilang dalam pengelolaan sumberdaya manusia pendidik generasi.

“Berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang pernah tercatat dalam sejarah kegemilangannya. Sistem pendidikan Islam sangat memuliakan posisi guru. Kesejahteraan guru sangat diperhatikan. Sangat masyhur bagaimana pada masa Khalifah Umar bin Khattab, gaji pengajar adalah 15 dinar/bulan atau sekitar Rp 36.350.250,- ( 1 dinar = 4,25 gram. Dan jika 1 gram = Rp 570.200),” tulisnya melalui pesan singkat kepada MNews.

Atau di zaman Shalahuddin al Ayyubi, sambung Ustazah Yusriana, gaji guru malah lebih besar lagi. Di dua madrasah yang didirikannya yaitu Madrasah Suyufiah dan Madrasah Shalahiyyah gaji guru berkisar antara 11 dinar sampai dengan 40 dinar! Artinya gaji guru bila di kurs dengan nilai saat ini adalah Rp 26.656.850,- sampai Rp 96.934.000,-.

“Wajar kalau para guru menjadi bersemangat dan fokus dalam mendidik generasi tanpa disibukkan mencari tambahan penghasilan di luar mengajar seperti para guru honorer saat ini,” tukasnya.

“Dan yang paling penting, posisi guru dalam sistem Islam semuanya adalah sebagai aparatur negara (muwazif daulah). Tidak ada pembedaan status guru negeri dan honorer. Semua guru dimuliakan dalam sistem Islam karena perannya yang begitu strategis. Maka sudah saatnya para guru menyadari bahwa sistem sekulerlah yang telah menzalimi dan merendahkan martabat guru dari derajatnya yang hakiki,” jelas Ustazah Yusriana.

Lebih lanjut, Ustazah Yusriana menjelaskan bahwa para guru membutuhkan hadirnya sistem pendidikan Islam yang memuliakan posisi dan peran para guru. “Maka para guru pun wajib memahami dan terlibat aktif dalam mengembalikan sistem pendidikan Islam yang pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Semoga para guru segera terangkat derajatnya dan dimuliakan posisinya dalam waktu yang dekat.”[]

%d blogger menyukai ini: