Rezim Gagal, Publik Sengsara, Indonesia Butuh Khilafah

Oleh: Dr. Rini Syafri

MuslimahNews, FOKUS — Empat tahun rezim JK-Wi berkuasa hanyalah menyisakan penderitaan pada masyarakat luas. Berbagai program dan agenda politik neoliberal juga yang terhimpun pada program SDGs (Sustainable Development Goals) sekilas tampak maslahat namun bila ditelisik yang ada hanyalah fasad. Ini diperparah oleh pemanfaatan kemajuan teknologi RI 4.0 yang berlangsung di atas lanskap sistem kehidupan sekuler kapitalistik. Meski dinarasikan rezim sebaliknya, namun realitas cukup menjadi bukti.

Program JKN misalnya, belum terlihat tanda-tanda krisis pelayanan kesehatan akan berakhir. Bahkan program asuransi kesehatan wajib ini gagal mewujudkan hak publik. Sebaliknya, publik dibebani mahalnya pelayanan kesehatan.

Dedikasi dokter dan tenaga kesehatan lain terpasung. Perjudian nyawa pasien sudah biasa. Penyimpangan fungsi rumah sakit semakin jauh. Kesulitan akses jutaan orang terhadap pelayanan kesehatan juga obat. Pelayanan kesehatan dilingkupi diskriminasi, dan berbagai tindakan tidak manusiawi. Tidak sedikit yang sakitnya bertambah parah bahkan nyawa tidak tertolong. Pelayanan kesehatan gratis berkualitas terbaik semakin jauh dari kenyataan.

Program UKT (Uang Kualiah Tunggal) sebagai misal berikutnya. Masyarakat tetap dibebani mahalnya biaya pendidikan tinggi. Aksi dan unjuk rasa telah dilakukan Mahasiswa berulang kali. Namun semua tak cukup untuk pemerintah berlunak hati meninggalkan program neolib tersebut. Sebaliknya publik dibujuk hatinya dengan program beasiswa Bidikmisi. Sementara nilai UKT naik hingga lima belas persen.

Hasilnya, di balik hingar bingar program WCU hak publik terhadap pendidikan tinggi murah/gratis dan berkulitas terbaik tinggal mimpi. Program-program pemerintah pada pendidikan dasar menengah juga berujung sama.

Program di bidang pangan, harga pangan tetap saja sulit dijangkau masyarakat kebanyakan. Sementara itu kehidupan para petani dan nelayan semakin sempit dan susah. Alih fungsi lahan kian masif, sementara harga saprotan terus melangit. Mirisnya ini terjadi di tengah-tengah berlimpahnya sumber daya alam pertanian dan teknologi pertanian yang begitu maju.

Program air bersih dan sanitasi tidak mampu mencegah dan mengatasi persoalan krisis air bersih dan darurat kekeringan yang berulang. Ratusan desa yang di huni jutaan jiwa terdampak kekeringan dan krisis air bersih hingga berbulan-bulan. Sementara harga air bersih perpipaan terus melangit meski tanpa peningkatan kualitas. Mirisnya itu terjadi di tengah-tengah potensi sumber daya air yang berlimpah dan canggihnya teknologi pada bidang ini.

Hasil serupa juga dapat kita saksikan pada program perumahan dan pemukiman. Jutaan jiwa menempati hunian dan pemukiman yang jauh dari sebutan layak. Bencana ekologi yang mematikan seperti banjir bandang dan kebakaran hutan terus berulang.

Pada aspek energi, harga listrik semakin memberatkan publik. Juga demikian dengan harga BBM. Meski semuanya tanpa perbaikan kualitas yang memadai. Di saat yang bersamaan pemerintah terus menjalankan program Energi Baru Terbarukan (EBT) berbiaya mahal lagi mengancam keberlangsungan kehidupan.

Belum cukup sampai di sini, program pemerintah di bidang transportasi tidak mampu menghentikan pembunuhan ribuan dan jutaan orang di jalan raya, laut dan udara. Di samping harganya yang membebani.

Inilah sejumlah bukti kegagalan rezim ini. Rezim yang tidak memiliki visi orisinil, jauh dari ketulusan, kasih sayang dan empati terhadap penderitaan masyarakat. Sedikitpun tidak terlihat fungsinya sebagai raain (pemelihara urusan publik) dan junnah (perisai).

Inilah buah pahit yang harus dirasakan masyarakat luas ketika pemerintah hadir sebagai pelaksana sistem kehidupan sekuler, khususnya sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme. Sungguh patut kita renungkan peringan Allah SWT berikut, artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah swt merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(TQS Ar Ruum [31]: 41).

Khilafah sebagai Jawaban

Bila kita memasuki mesin waktu menuju masa yang Rasulullah Saw sebagai kepala negara melakukan pengurusan berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Kondisinya berbeda jauh. Kuncinya, visi kehadiran negara sebagai pelaksana syariat Islam. Relasi yang mendasari hubungan penguasa dengan rakyat adalah akidah Islam, yang terpancar darinya aturan kehidupan yang begitu sempurna dan selarah dengan fitrah insaniah.

Hasilnya, tidak saja menyejahterakan secara fisik/materi bahkan juga memfasilitasi individu masyarakat pada kemuliaan dan kebahagiaan yang hakiki, yakni ketaatan pada syariat Allah SWT. Ini berlangsung pada keseluruhan kehidupan masyarakat.

Seperti peristiwa yang dialami seorang laki-laki yang sangat miskin yang bersalah melakukan hubungan suami istri pada siang hari bulan Ramadan. Sementara kemapuannya sangat lemah untuk menunaikan kafarat yang wajib ia tunaikan. Lemah secara fisik dan ekonomi. Namun bagaimana penguasa hadir dalam ini Rasulullah Saw memberikan solusi konkret bagi persoalan itu hingga lelaki tersebut terbebas dari kewajibannya dan juga mendapatkan kebaikan materi.

Selengkapnya disampaikan dalam hadis berikut:

Dari Abu Hurairah dia berkata “Seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW seraya berkata celaka aku ya Rasulallah. Rasulullah SAW pun bertanya, apa yang mencelakakanmu? Lelaki itupun menjawab, aku bercampur dengan istriku di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bertanya, apakah kamu memiliki sesuatu untuk membebaska budak? Lelaki itu menjawab tidak. Apakah engkau sanggup berbuasa dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab tidak. Lantas apakah kamu memiliki sesuatu untuk memberi makan 60 orang miskin? Lelaki menjawab, tidak. Abu Hurairah berkata, kemudian Rasulullah saw duduk lalu didapatinya keranjang jerami yang berisi kurma. Nabi berkata, sedekahkanlah dengan ini!Lelaki tadi berkata, apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami? Tidak ada keluarga di lingkungan kami lebih fakir dari kami. Nabi SAW tersenyum sampai kelihatan gerahamnya. Lalu Nabi SAW berkata; pergilah dan berikanlah pada keluargamu”.

Islam mewajibkan kehadiran pemerintah (Khalifah) adalah sebagai pelaksana hukum syariah. Karenanya, karakter sebagai raain dan junnah begitu menonjol. Visi yang orisinil tampak dari kesungguhan penyelanggarakan pemenuhan berbagai hajat hidup publik yang konsisten dalam bingkai syariah dan prinsip sahih yang diterapkan.

Prinsip tersebut di antaranya adalah: Pertama, bertanggungjawab sepenuhnya. Islam mengharuskan negara bertanggungjawab sepenuhnya dalam pengurusan hajat hidup publik Apapun alasan tidak dibenarkan negara hanya sebagai regulator. Ditegaskan Rasulullah Saw, artinya “..Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggungjawab terhadap rakyatnya” (HR Ahmad, Bukhari); “Imam adalah perisai orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya” (HR Muslim).

Kedua, pembiayaan mutlak. Pembiayaan kemaslahatan publik wajib berlangsung di atas konsep anggaran mutlak, ada atau tidak ada kekayaan negara yang diperuntukan bagi pembiayaan kemaslahatan publik wajib diadakan negara, berapapun jumlahnya. Seperti pembiayaan untuk pengadaan dan pembangunan rumah sakit, sekolah, pendidikan tinggi, lembaga riset, industri berat, industri penghasil harta milik umum dan yang penting bagi hajat hidup masyarakat. Tak sekadar ada tetapi berfungsi sebagaimana mestinya dan jumlahnyapun harus memadai.

Model pembiayaan ini niscaya ketika negara memiliki kemampuan finansial memadai, yaitu manakala kekayaan negara dikelola secara Islami. Salah satunya berasalah dari harta milik umum yang tersedia berlimpah di negeri ini.

Bersamaan dengan itu, pemanfaatan kemajuan sain dan teknologi yang berlangsung di atas lanskap kehidupan Islam, di tengah berlimpahnnya berbagai sumber daya alam tidak saja mempercepat sirnanya penderitaan dan hadirnya kesejahteraan bagi seluruh alam, bahkan juga memfasilitasi setiap orang berada dalam keataan pada Allah SWT.

Sungguh Allah SWT telah mengingatkan yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,…” (TQS Al A’raf: 96).

Pada tataran ini, dapat dipahami betapa pentingnya kembalinya kehidupan Islam, Khilafah Islam, bahkan merupakan kebutuhan yang mendesak. Lebih dari pada itu, Khilafah adalah ajaran Islam yang diwajibkan Allah SWT kepada kita semua. Allahu A’lam.[]

%d blogger menyukai ini: