Spekulasi Angka Kemiskinan Menampakkan Kelemahan Sistem Ekonomi Kapitalisme

MuslimahNews.com — “Dalam tatanan ekonomi konvensional berbasis demokrasi-sekuler, memang tidak mudah bagi mereka merumuskan situasi riil masyarakat seperti apa. Negara berbentuk demokrasi tidak memiliki perangkat politik yang mampu memantau tingkat kesejahteraan masyarakatnya sampai ke level per individu,” ungkap Nida Sa’adah SE Ak MEI, saat ditanya MNews mengenai temuan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat Indonesia mengalami titik terendah dalam hal persentase kemiskinan sejak tahun 1999, yakni sebesar 9,82 persen pada Maret 2018. Dengan itu, jumlah penduduk miskin atau yang pengeluaran per kapita tiap bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 25,95 juta orang.

Nida menyayangkan spekulasi yang muncul terkait data kemiskinan sekaligus mengkritisi sistem yang ada, “Untuk melakukan hal itu (Red. Memonitor tingkat kesejahteraan), bahkan bisa dikatakan mustahil bagi negara Demokrasi. Biasanya mereka akan bekerja berdasarkan sampel, itupun dengan parameter kesejahteraan yang berubah-ubah. Ada penetapan miskin/tidak sejahtera dengan ukuran $2/hari, atau $1/hari, dan seterusnya,” kata Dosen dan peneliti ekonomi syariah ini, Kamis (1/11/2018).

Maka tak heran, kata Nida, jika penilaian apakah masyarakat hari ini berkurang kemiskinannnya ataukah tidak, bisa menjadi perdebatan yang tidak kunjung selesai. Tak heran juga jika penilaian lembaga pemeringkatan untuk menghitung tingkat kemiskinan, bisa berbeda-beda hasilnya.[]

%d blogger menyukai ini: