Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Tumbal Kebangkrutan Ekonomi Kapitalis

Oleh: Arini

MuslimahNews, ANALISIS — Salah satu isu yang diangkat dalam rangkaian acara pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank di Bali beberapa waktu lalu adalah Empowering Women, pemberdayaan perempuan khususnya dalam bidang ekonomi.

Dalam seminar bertajuk Empowering Women in the Workplace, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Karena itu peran perempuan dalam sebuah pekerjaan harus ditingkatkan. “Yang pertama harus dipahami dari sebuah negara itu harus ditingkatkan partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan dan untuk keluarganya,” kata Sri Mulyani.

Pernyataan Sri Mulyani ini diamini oleh Managing Director IMF, Christine Lagarde yang menegaskan bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama untuk bekerja di luar rumah.[1]

Pernyataan dua tokoh utama dalam acara ini didukung oleh pembicara-pembicara perempuan lain dalam forum-forum yang digelar sebagai rangkaian acara pertemuan tahunan IMF-World Bank ini. Putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid mengatakan bahwa kelompok perempuan pada dasarnya memiliki peran yang besar dalam rangka pengentasan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Kelompok ini, lanjut Direktur Wahid Foundation ini, dapat dilibatkan secara penuh dalam melakukan aktivitas perekonomian di level yang paling bawah seperti yang telah dilakukan oleh lembaganya dalam membangun program Desa Damai yang banyak melibatkan kelompok perempuan di dalamnya.[2]

Sedangkan Anggota Komisi I Evita Nursanty dari Fraksi PDIP menyatakan menurut ILO, 865 juta perempuan memiliki potensi untuk memaksimalkan kontribusinya dalam pembangunan ekonomi. Lebih jauh lagi, partisipasi perempuan telah terbukti mampu memberdayakan keluarga dan lingkungannya.

Kebijakan yang dapat diambil dalam rangka meningkatkan pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi menurutnya antara lain dengan memberikan akses bagi perempuan terutama untuk layanan keuangan digital, memastikan perempuan mendapatkan hak-hak sosial maupun ekonomi, melawan segala bentuk diskriminasi atas perempuan, serta menyediakan data yang terpisah antara perempuan dengan laki-laki agar dapat tercipta kebijakan yang terarah.[3]

Diangkatnya topik women empowering dalam acara tahunan IMF dan World Bank ini, bukan tanpa skenario tersembunyi. Kita tahu bahwa IMF dan World Bank adalah dua lembaga keuangan yang menjadi perpanjangan tangan bagi system ekonomi kapitalis untuk mencengkeram sebagian besar negara di dunia. Maka topik-topik bahasan di pertemuan tersebut sarat dengan berbagai kepentingan dan agenda kapitalis dunia.

Bagi sistem kapitalis, industri adalah pilar utamanya. Sistem kapitalis akan senantiasa berupaya bagaimana agar industri ini bisa terus berlangsung dan berproduksi. Salah satu faktor produksi yang penting adalah tenaga kerja.

Bertumpu pada asas manfaat, kapitalisme memandang bahwa tenaga kerja perempuan lebih menguntungkan. Perempuan umumnya tidak memiliki bargaining position yang memadai sehingga mudah diperdaya dengan gaji yang lebih rendah, pengabaian hak pekerja, dan pembatasan kebebasan dalam berserikat.

Selain itu perempuan adalah pasar yang menggiurkan. Berdasarkan hasil riset tahunan The Asian ParentIndonesian Digital Mums Survey 2018, 99% ibu di Indonesia merupakan penentu belanja keperluan rumah tangga.[4]

Posisi perempuan sebagai penentu belanja ini tidak akan membawa keuntungan besar bila perempuan tidak diberikan kebebasan finansial dengan menjadikannya memiliki pendapatan sendiri.

Demikianlah perempuan digiring untuk menjadi pemutar roda industri kapitalis sekaligus target pasar melalui jargon women empowering. Hakekatnya, jargon tersebut tak lain adalah salah satu alat untuk melanggengkan hegemoni kapitalisme dunia.

Dalam hal ini, kapitalis menyadari bahwa skenarionya memperalat perempuan akan berbenturan dengan konsep Islam yang bertolak belakang. Maka kapitalis terlebih dahulu menggarap proyek memalingkan umat, terutama perempuan, dari konsep Islam. Dimunculkanlah opini-opini miring tentang aturan Islam terhadap perempuan. Bahwa aturan Islam mendiskriminasi perempuan, menempatkannya dalam posisi subordinasi laki-laki, mengekang kebebasan dan melanggar HAM. Ketika umat mulai gamang, lantas dimasukkan konsep kapitalis seperti kesetaraan dan keadilan gender, pemberdayaan perempuan, kemandirian ekonomi dan sebagainya.

Upaya kapitalisasi perempuan di negeri-negeri Muslim disambut gegap gempita oleh para penguasa yang notabene telah ter-shibghah dalam warna kapitalis. Tak terkecuali di Indonesia sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Di mana-mana kita dapati perempuan Muslim yang berbondong-bondong keluar mencari nafkah. Meninggalkan rumah-rumah yang kehilangan fungsinya sebagai tempat mendapatkan kasih sayang, pendidikan dan keteladanan.

Tak heran bila kemudian kerusakan generasi menjadi semakin massif. Tawuran, narkoba, kejahatan anak, kecanduan games online, seks bebas dan seterusnya. Yang paling memprihatinkan adalah booming penyimpangan orientasi seksual dengan terbukanya grup-grup gay di media sosial yang anggotanya mencapai ribuan di masing-masing kota. Miris.

Untuk membendung terjadinya kerusakan yang lebih besar, sudah waktunya kita meninggalkan konsep pemberdayaan perempuan ala kapitalis dan kembali pada Islam. Kembali pada konsep yang telah terbukti dalam ribuan tahun ketika diterapkan, mampu melahirkan tokoh-tokoh besar, baik ulama seperti Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah; umara seperti Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid, dan Muhammad Al Fatih, ilmuwan besar seperti Ibnu Haytham Bapak Optik, Al Khawarizmi Bapak aljabar, dan sebagainya.

Tidak salah bila kita katakan perempuan adalah ibu peradaban. Sejarah tidak banyak mencatat nama mereka, namun hasil perjuangan mereka harum semerbak dalam kenangan umat di sepanjang masa kegemilangan Islam sekitar 12 abad.

Posisi perempuan sebagai pembentuk peradaban, tidak lepas dari peran yang telah digariskan Allah bagi mereka dalam ajaran Islam. Mengembalikan perempuan dalam perannya ini, sama artinya menempuh jalan mengembalikan umat pada masa kejayaannya.

Islam telah memberikan aturan yang khusus kepada kaum perempuan untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumahtangga suaminya sekaligus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibn ’Umar:

Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…, seorang perempuan adalah pemimpin atas rumahtangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR Bukhari-Muslim)

Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa peran pokok perempuan adalah sebagai ibu dan manajer rumah (ummun wa rabbah al-bayt). Sebagai ibu, kaum perempuan memegang peran penting dan strategis dalam mencetak generasi penerus umat yang memiliki kualitas mumpuni.

Ia berperan dalam mendidik dan membina anak-anak mereka dengan akidah yang kuat yang akan melahirkan generasi yang tunduk pada syari’at dan siap untuk memperjuangkannya. Ia berperan membentuk anak-anak dengan jiwa kepemimpinan yang siap untuk memimpin umat menuju perubahan hakiki dan kebangkitan sejati. Ialah yang digelari ummu ajyal, ibu generasi, karena di tangannyalah kelestarian generasi ditentukan.

Sebagai manajer rumah, perempuan berperan mewujudkan suasana rumah yang memberikan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan bagi penghuninya. Dengan demikian, rumah menjadi surga kecil bagi suami dan anak-anaknya. Mereka merasa rumah adalah tempat pulang terbaik setelah selesai beraktivitas sehingga tidak perlu mencari tempat pelarian lain dari kelelahan dan kegundahan.

Di samping itu, sebagai bagian dari masyarakat, maka perempuan pun tidak bisa diabaikan begitu saja. Sungguh Islam telah memberikan ruang yang leluasa untuk berkiprah di dalam aktivitas yang terkait dengan perannya sebagai bagian dari anggota masyarakat, seperti kebolehan untuk terlibat dalam beberapa mu’amalah, melakukan aktivitas dakwah/amar ma’ruf nahi munkar serta memperhatikan urusan umat (beraktivitas politik) yang hukumnya memang wajib, dan lain-lain. Kewajiban ini tersirat dalam firman Allah SWT:

Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (laki-laki/perempuan) yang menyeru kepada al-khoir (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali-Imran[3]:104)

Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi Rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. At-Taubah[9]:71)

Jika dikaitkan dengan kondisi umat saat ini yang jauh dari gambaran ideal masyarakat Islam, maka peran perempuan menjadi lebih penting lagi terutama dalam proses mengubah masyarakat yang rusak sekarang ini menjadi masyarakat ideal yaitu masyarakat Islam melalui aktivitas dakwah.

Inilah arah pemberdayaan perempuan dalam pandangan Islam. Untuk memastikan pemberdayaan perempuan ini bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya, Islam membebaskan perempuan dari kewajiban mencari nafkah dan membebankan nafkahnya kepada suami atau para wali. Bila mereka tidak mampu atau tidak ada, Negara memiliki kewajiban mengambil alih nafkah perempuan.

Arah pemberdayaan perempuan seperti ini, tidak mungkin dilangsungkan dalam sistem kapitalis yang mengukur segalanya dari materi. Arah pemberdayaan ini hanya bisa direalisasikan ketika sistem Islam yang diterapkan, satu-satunya system yang berasal dari Sang Pencipta, Yang Mahatahu akan hamba-hambaNya dan apa yang terbaik bagi mereka.[]

Referensi:

1 https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4248861/pentingnya-peran-perempuan-di-ekonomi-kata-sri-mulyani-dan-bos-imf
2 https://www.nu.or.id/post/read/97067/yenny-wahid-paparkan-besarnya-peran-perempuan-di-pertemuan-imf-world-bank-di-bali
3 https://economy.okezone.com/read/2018/10/09/20/1961431/dpr-tekankan-peran-perempuan-dalam-pembangunan-ekonomi-di-pertemuan-imf-world-bank
4 http://lifestyle.bisnis.com/read/20180912/220/837534/99-ibu-di-indonesia-menjadi-penentu-belanja-rumah-tangga

Sumber gambar: Kompas

%d blogger menyukai ini: