‘Teror’ Pariwisata Syirik Pengundang Bencana

MuslimahNews, EDITORIAL — Ramai di medsos polemik soal apakah bencana yang datang bertubi di negeri ini ada hubungannya dengan perhelatan adat berbau syirik yang akhir-akhir ini terus digelar pemerintah demi menggenjot sektor pariwisata atau tidak. Sebagian berkeyakinan bahwa semua bencana ini terjadi semata fenomena alam, tak ada hubungannya dengan peringatan, ujian, apalagi kemurkaan Allah SWT. Sementara sebagian lainnya berkeyakinan bahwa semua bencana ini merupakan ujian bagi orang yang mukmin, sekaligus peringatan bagi orang-orang yang lalai dan mendustakan ayat-ayatNya.

Tak bisa dipungkiri, Indonesia memang termasuk dalam wilayah yang sangat rawan bencana. Letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan puting beliung berpotensi kerap terjadi di wilayah ini. Bahkan data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Kondisi ini terkait dengan posisi wilayah dan keadaan alam Indonesia sendiri yang memang sangat riskan. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Di bagian selatan dan timur Indonesia juga terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) atau disebut juga ring of fire yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Di samping itu, wilayah Indonesia juga terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrem. Yang jika digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, maka kondisi iklim seperti ini selain akan menghasilkan kondisi tanah yang subur juga dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Apalagi, kondisi ini diperparah dengan kerusakan lingkungan hidup akibat meningkatnya aktivitas manusia yang tidak diiringi kesadaran untuk menjaga alam sehingga memicu naiknya intensitas bencana yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia dengan kadar keparahan yang juga kian meningkat.

Namun, di atas semua fakta bahwa Indonesia memiliki berbagai faktor risiko bencana tadi, seorang mukmin dituntut untuk meyakini bahwa tak ada satu fenomena alampun yang terjadi dengan sendirinya atau luput dari kehendak dan kekuasaan Allah SWT Dzat Yang Maha Menggenggam Segala Urusan. Bahkan dalam keyakinan Islam, segala bentuk bencana adalah bagian dari qadhâ’ Allah SWT, sebagaimana firmanNya:

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Tidak akan pernah menimpa kami melainkan apa yang memang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah Pelindung kami.” Karena itu hanya kepada Allahlah kaum Mukmin harus bertawakal (TQS at-Taubah [9]: 51).

Namun di samping itu, seorang mukmin juga dituntut untuk meyakini, bahwa setiap bencana yang menimpa adalah merupakan salah satu bentuk ujian, peringatan atau teguran atas kelalaian dan kedurhakaan manusia kepada Allah SWT. Dan Allah SWT mendatangkan bencana tersebut untuk mengingatkan dan mengembalikan kesadaran spiritualitas manusia akan azab Allah SWT. Allah SWT berfirman:

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ . أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian. Lalu dengan itu tiba-tiba bumi berguncang? Ataukah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil Lalu kelak kalian akan tahu bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (TQS al-Mulk [67]: 16-17).

Oleh karenanya, apa yang disampaikan atau diyakini sebagian kalangan bahwa segala bentuk bencana yang terjadi di dunia ini hanya terkait dengan fenomena alam dan tak ada hubungannya dengan amal perbuatan manusia merupakan keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Bahkan perlu diwaspadai opini ini sengaja dihembuskan oleh kalangan atheis atau penganut ideologi sosialis komunis yang tak meyakini keberadaan Allah SWT dan menuhankan materialisme dan mereka hendak meracuni pemikiran umat dengan aqidah mereka yang sesat dan rusak.

Sejatinya, setiap Muslim menjadikan setiap bencana yang menimpa, kecil maupun besar, sebagai momentum untuk melakukan muhasabah terkait perilakunya selama ini. Karena Allah SWT mengingatkan bahwa banyak musibah terjadi di antaranya selalu melibatkan peran dan keterlibatan manusia. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Musibah apa saja yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa kalian) (TQS asy-Syura [42]: 30).

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka itu, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Keterlibatan manusia dalam mendatangkan musibah ini bisa dalam bentuk pelanggaran terhadap sunnatullah terkait alam atau tindakan lain yang pada akhirnya bermuara pada ketidaktaatan terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Dosa-dosa manusia inilah yang memancing munculnya fasad atau kerusakan di muka bumi, termasuk di dalamnya bencana-bencana yang menimpa dengan kadar yang makin hari makin luar biasa.

Realitasnya, tak bisa kita pungkiri bahwa kehidupan umat Islam hari ini, termasuk di Indonesia memang sudah sangat jauh dari tuntunan Allah SWT. Mereka muslim, tapi keislamannya tak nampak dalam peri hidup mereka.

Mereka seolah menjadi umat yang mengalami personalitas ganda, tak punya kepribadian khas. Islam secara keyakinan, tapi berbagai aturan Islam yang hakikatnya merupakan aturan Allah SWT justru diabaikan. Sehingga berbagai penyimpangan sudah menjadi hal biasa, bahkan dilegalkan oleh negara.

Jangan heran jika transaksi-transaksi ribawi yang Allah haramkan justru dijadikan sebagai pilar utama sistem ekonomi di Indonesia dan dunia, sehingga kezaliman dan ketidakadilan menjadi hal yang biasa. Permisivisme dan liberalisme pun menjadi asas sistem pergaulan di tengah masyarakat sehingga perzinahan dengan segala bentuk turunan dan akibatnya, serta berbagai bentuk kemaksiatan lainnya juga terus merajalela.

Begitupun dalam sistem politik dan sistem-sistem lainnya, sekularisme telah menjadi landasan utama. Hingga kerusakan kian merebak dan nilai-nilai ruhiyah pun tercerabut dalam berbagai kebijakan penguasa, dan tercerabut pula dari kehidupan umat secara keseluruhan.

Dengan penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme, para penguasa dengan penuh kesadaran memilih aturan buatan manusia sebagai pijakan dalam mengatur kehidupan. Bahkan kedurhakaannya makin parah ketika mereka melegalkan kesyirikan sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihidup-hidupkan.

Alih-alih menggunakan kekuasaan untuk mendakwahi umat agar berada di dalam akidah yang lurus dan benar, penguasa hari ini justru menjerumuskan umat pada akidah yang batil hanya demi meraup keuntungan materi yang tak seberapa dibanding dampak bencana akidah. Pesta-pesta penuh kesyirikan yang melibatkan umat Muslim bahkan dibina, difasilitasi dijual dengan dalih pariwisata dan jadi sumber pasokan keuangan negara.

Padahal, tak ada dosa yang lebih besar daripada dosa syirik. Dan tak ada dosa yang tak terampunkan selain syirik.

Fakta inilah yang seharusnya menjadi acuan bagi umat dalam menilai kelayakan sistem sekuler demokrasi kapitalisme dalam mengatur kehidupan mereka. Sekaligus menilai kelayakan para penguasa hari ini dalam memimpin mereka.

Sangat jelas, bahwa sistem yang diterapkan hari ini berikut para penguasanya telah membawa umat pada kemudharatan yang luar biasa. Hingga Allah SWT terus mendatangkan bencana demi bencana agar umat segera sadar bahwa mereka sudah jauh dari jalan kebenaran Islam.

Berbagai musibah seharusnya cukup menjadi tadzkirah untuk segera kembali kepada Allah SWT. Yakni dengan bersegera melakukan ketaatan dengan sebenar-benar ketaatan, dengan cara menegakkan aturan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Ketaatan seperti inilah yang dijamin akan mendatangkan kehidupan penuh berkah di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.[]SNA

%d blogger menyukai ini: