Pariwisata dengan Menghidupkan Kesyirikan Tuai Bencana

MuslimahNews.com — Pengembangan pariwisata dengan menghidupkan budaya lokal yang mengandung ajaran animisme –dinamisme (kesyirikan) dengan alasan memiliki “daya jual” terbukti menuai bencana, hal itu diungkapkan Ustazah Iffah Ainur Rochmah kepada saat ditanyai MNews, Jumat (5/10/2018).

“Salah satu yang dianggap sangat menarik menjadi atraksi pariwisata adalah ‘budaya lokal’. Agar bisa menjadi kepentingan bersama semua bagian rakyat maka dibuatlah jargon ‘urip-urip budaya’ (menghidupkan budaya). Dalam sistem sekuler sebagaimana saat ini, sah saja bila syirik juga dikapitalisasi agar mendatangkan uang,” ungkap Ustazah Iffah.

Lalu Ustazah Iffah menjelaskan bahwa akhirnya didapati pemangku kepentingan pariwisata menghidupkan tradisi kuno sebelum masyarakat mengenal Islam demi menggaet minat wisatawan agar berkunjung. Dikeluarkan dana besar untuk memodali bangkitnya budaya lama yang jelas mengandung kekufuran dan syirik. Sementara pemangku kepentingan agama susah payah berjuang memurnikan akidah umat dari beragam penyakit iman, termasuk masih terkontaminasinya dari mitos-mitos lama yang bertentangan Islam.

Logika Sesat Isu Kebangkitan Ekonomi melalui Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15%, Rp 280 triliun untuk devisa negara, 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara, 275 juta perjalanan wisatawan nusantara dan menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019. Lebih jauh, sektor pariwisata diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh negeri ini. Maka saat ini digencarkan pengarusutamaan pariwisata oleh semua pihak pemangku kepentingan. Hitunga-hitungan pendapatan dari sektor ini sudah dilakukan sedemikian jauh maka sebagai konsekuensinya daya tarik obyek wisata juga harus digenjot sedemikian rupa.

Ustazah Iffah mengungkap bahwa hari ini publik terlanjur menelan mentah-mentah pandangan sesat yang mengharuskan kita memfokuskan diri pada sumber pendapatan yang baru, yaitu sektor pariwisata. Sektor ini ditetapkan sebagai primadona atau unggulan yang dianggap berkontribusi besar mengentaskan kemiskinan bangsa. “Jauhnya kesejahteraan dari negeri ini bukan karena kurangnya sumber pemasukan. Namun karena pilihan salah terhadap sistem ekonomi untuk mengatur pengelolaan sumber daya alam maupun sumber daya lain. Sistem ekonomi kapitalistik dan liberal yang menjadi rujukan mengelola sektor ekonomi menyebabkan makin buruknya kondisi ekonomi bangsa.”

Bencana alam yang melanda bangsa ini baik di Lombok maupun Palu, kata Ustazah Iffah, semestinya menjadi pelajaran terbaik bagi kita semua. Juga menjadi pijakan mengevaluasi penataan bangsa secara mendasar.

Ustazah lalu menyebutkan tiga hal yang nampak dari fenomena yang ada, “Pertama, betapa besarnya perhatian terhadap pariwisata, seolah menjadi nyawa perekonomian. Ini terbukti dari keputusan pemerintah yang mengabaikan penyelamatan dan pelayanan maksimal terhadap korban gempa Lombok. Alasan meminimalisir terganggunya sektor pariwisata secara lugas diutarakan oleh pejabat tertinggi Negara. Bukankah nyawa umat Muhammad siapapun dia- meskipun bukan wisatawan- jauh lebih berharga dibanding bumi dan seluruh kekayaannya.?”

Kedua, kata Ustazah Iffah, menghidupkan sektor pariwisata dengan menghidupkan budaya lokal banyak mengandung syirik jelas mengundang murka Allah. “Apakah memang bangsa ini akan terus menantang azab Allah dengan mengandalkan sektor ini sebagai unggulan? Bukankah Allah karuniakan melimpah sumber daya alam; mineral, energi dan plasma nutfah keaneka ragaman hayati untuk memenuhi seluruh kebutuhan kita? Tanpa harus menantang azab karena menyekutukan Allah.

“Ketiga, salah kaprah mengentaskan kemiskinan melalui sektor pariwisata yang banyak menabrak nilai agama harus segera dibongkar, dipahamkan pada publik apa akar masalah kemiskinan bangsa dan solusinya, juga bagaimana menempatkan keindahan alam dan karunia Allah di muka bumi demi membawa manusia pada kehidupan lebih baik,” tukasnya.[]

Sumber gambar: CNN Indonesia

%d blogger menyukai ini: