Keluarga Muslim dan Bahaya Perpecahannya

Oleh: Zaina As-Samit

MuslimahNews, FOKUS — Keluarga Muslim dihantam oleh bahaya besar yang mengancam keberadaannya, menghancurkan pondasinya dan mengingatkan tentang kehancurannya serta terpisahnya anggotanya. Unit keluarga, yang didominasi oleh cinta, kedekatan dan harmoni, terlihat bersatu dari luar namun terpecah belah dari dalam, ditahan oleh tembok rumah dan meja makan; sebuah rumah di mana seseorang tinggal sebagai orang asing terhadap yang lain dan tidak berbagi tentang urusan dan masalah privatnya! Perpecahan telah menghantam anggota keluarga dan merobek mereka dan membuat mereka hidup secara individual, tersiksa karena akibat keterasingan, kesepian, kesedihan dan kehilangan.

Unit keluarga –institusi pertama dan utama yang membesarkan anak-anak dan membangun pada mereka konsep-konsep untuk diaplikasikan dalam hidupnya serta membentuk kepribadiannya- dipengaruhi oleh banyak faktor yang merusak entitasnya. Kemudian peran keluarga telah terkikis dan banyak masalah bermunculan; didominasi oleh dingin dan rusaknya ikatan cinta dan setiap anggota memiliki dunianya masing-masing. Anak-anak tidak memerhatikan orang tua mereka ataupun nasehatnya; keras kepala dan keegoisan mendominasi; mereka tidak menganggap mengabaikan orang tua mereka sebagai sebuah dosa atau kesalahan. Orang tua juga salah atas situasi anak-anak mereka karena mereka tidak melakukan tugas mereka dalam membesarkan anak-anaknya dengan serius.

Penyakit serius yang menjangkiti keluarga Muslim yang disebut “perpecahan keluarga” adalah masalah utama yang tak kalah penting dari masalah-masalah lain yang dialami ummah Islam. Apa yang menyebabkannya? Bagaimana mengobatinya?

Perpecahan keluarga adalah terputusnya ikatan keluarga serta lemah dan memudarnya cinta di antara individu-individu karena hubungan mereka menjadi kering; cinta bukanlah bagian darinya. Dan rumah berubah menjadi “pondok” tempat mereka berlindung dan makan. Celah yang besar tercipta antara anggota keluarga dan setiap mereka asing dengan yang lainnya. Ini sangat berbahaya karena terputusnya perpecahan keluarga merupakan disintegrasi masyarakat dan ummah Islam yang memberikan keluarga sebuah kepentingan besar seperti yang diajarkan agama, dan dijelaskan bahwa kesejahteraan dan kedamaian masyarakat berkaitan dengan unit keluarga.

Allah (swt) berfirman: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم موَدَّةً وَرَحْمَةً﴾
‘’Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.’’ (TQS Ar Rum : 21)

Rumah merupakan tempat bagi kedamaian dan kestabilan. Ia mengikat anggotanya dengan cinta dan kemurahan hati dan mereka dihubungkan dengan pengetahuan tentang aturan Islam; mereka berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan pahala. Ayah melindungi keluarganya dan ibu menaati suaminya dan membahagiakannya serta membesarkan anak-anaknya dan mengelilingi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Setiap dari mereka saling memahami hak masing-masing dan berusaha memenuhinya untuk mendapat rida Allah. Islam menetapkan konsep-konsep yang tinggi untuk menguatkan ikatan keluarga dan membuatnya unik. Islam mengidentifikasi tugas dan memberikan setiap anggota tugas yang melengkapi satu sama lain, sehingga bahtera (unit keluarga) berlayar tanpa gangguan angin dan badai, dipimpin oleh seorang kapten yang dibantu oleh para asisten. Masing-masing melakukan tugas yang diamanahkan untuk mendapatkan keamanan: rida Allah dan memasuki surga.

Hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan hubungan perdamaian, persatuan dan harmoni. Bukan hubungan perang yang berlaku konflik, persengketaan dan permusuhan. Setiap pihak mengetahui fungsinya dan saling melengkapi satu sama lain. Dalam aduannya kepada Rasulullah (Saw) mengenai suaminya, Khawla berkata, “Ya Rasulullah, jika aku mengabaikannya maka mereka akan tersesat dan jika aku menjaganya maka mereka akan kelaparan…

Kesadaran dan pemahaman mengenai tugas ini dijelaskan dengan gamblang oleh Khawla (semoga Allah meridainya). Dia sangat tahu bahwa tanggungjawabnya adalah untuk membesarkan anak-anaknya dan ayahnya untuk menafkahi mereka; mereka melengkapi satu sama lain dan membesarkan anak-anaknya dengan benar tanpa kekejaman atau pemanjaan yang berlebih, sehingga anak-anak tidak tumbuh menjadi pembenci atau kurang bersyukur atau lemah dan rapuh serta tak memiliki penghormatan atau peduli pada orang tuanya.

Rasulullah (Saw) bersabda: «كفى بالمرء إثماً أن يضيّع من يقوت» “Merupakan sebuah dosa besar (meskipun ia adalah dosa satu-satunya) laki-laki yang tidak menafkahi mereka di bawah tanggung jawabnya (istri, anak-anak, hamba sahaya, dll).”

Banyak orang tua yang kehilangan rumah dan anak-anaknya. Tidak ada perasaan yang tulus dan tidak ada rasih kasih sayang ataupun kelembutan! Tujuan utama orang tua menjadi hanya untuk menyiapkan makanan dan pakaian dan yang terbaru di dunia elektronik mulai dari komputer, tablet dan telepon selular. Mereka hadir untuk memberikan kebahagiaan pada anak-anak namun mangkir darinya: mereka tidak menunjukkan kasih sayang; tidak ada kelembutan dan tidak tertarik; mereka tidak memiliki waktu untuk berbicara, duduk dan mendengarkan mereka; semuanya terburu-buru dan berlomba dengan waktu untuk melakukan tugas-tugas tapi tidak untuk berpikir dan bekerja keras dalam menjaga keutuhan keluarga!

Banyak alasan yang telah membawa pada putus dan terpecahnya keluarga. Cekcok yang sedang terjadi dan berulang antara orang tua karena kompetisi dalam menjalankan urusan keluarga dan perubahan pada tugas alami yang sudah diciptakan Allah untuk mereka menyebabkan atmosfer yang tegang yang mengganggu dan ini menyebabkan keresahan serta penderitaan anak di dalam rumah, mengubah rumah menjadi sebuah tempat yang mengerikan dan menakutkan yang didominasi oleh kebencian dan keegoisan padahal ia merupakan “sumber kedamaian, keamanan, cinta dan kelembutan” serta hubungan telah berubah dan menjadi penuh dengan perbedaan yang terkadang berujung pada perceraian dan pisahnya orang tua.

Dr. Seth Meyers, seorang psikologis Amerika dan peneliti hubungan sosial memandang bahwa keluarga-keluarga yang mengalami keresahan dan kesulitan dalam membesarkan anak-anak seringkali kekurangan dukungan emosional dan sosial di masa kecil mereka, apakah mereka diabaikan oleh orang tuanya atau karena dibesarkan dalam atmosfer keluarga yang penuh dengan masalah dan temperamen, sementara beberapa orang tua menghadapi kesulitan dan tantangan yang luar biasa dalam membesarkan anak yang sulit. Ini adalah rahasia kebencian yang mereka hadapi. (Nahi As Sarraf: membesarkan anak… Perasaan terpendam tentang kebencian dan ketakuan tentang gagal)

Kami membunyikan bel peringatan pada angka perceraian di keluarga Muslim, yang bertambah dua kali lipat dan meningkatkan peringatkan akan kehancuran unit penting dalam masyarakat ini. Menurut website “Aswat Magharibiya”, kasus perceraian di wilayah Maghreb meningkat dalam 8 tahun terakhir dan statistik menunjukkan bahwa setiap jam 10 kasus perceraian terjadi, yakni 90 ribu kasus per tahun; di Tunisia, 41 kasus perceraian tercatat setiap hari, lebih dari 3 kasus per jam, menurut “Al Sabah News” dari Kementerian Peradilan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Pusat Mobilisasi dan Statistik Arab, enam kasus perceraian didaftarkan setiap jam di Aljazair, yang mendorong banyak pengamat dan aktivis di Aljazair untuk mengingatkan akan maraknya fenomena perceraian di negeri ini (euronews). Hal ini sama seperti di Mesir, yang berada pada urutan pertama angka perceraian di dunia, yakni 250 kasus per hari… pasangan berpisah beberapa jam setelah pernikahan… empat juta perempuan yang diceraikan dan sembilan juta anak-anak merupakan korban perpisahan ini (Al-Youm As-Sabi’: 05/05/2017)

Maroko ada di urutan kelima di dunia Arab terkait angka perceraian… lima kasus perceraian tercatat per jam. Dengan judul: “Perceraian di Libya, Angka yang Mengejutkan, dan Nomor yang Hilang,” kanal 218 mengatakan bahwa kelompok hak asasi menyatakan angka perceraian meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perkiraan tidak resmi mengatakan bahwa angka perceraian dalam beberapa tahun ini meningkat sebanyak 30%, yang dalam Bahasa angka berarti bahwa di tiap 100 pernikahan, 30 kasus beranjak menjadi “akhir yang bahagia”.

The N Post membenarkan bahwa Kuwait telah memimpin dalam peningkatan angka perceraian. Menurut sebuah data, 60% hubungan pernikahan berakhir pada perpisahan di awal tahun 2017. Hukum Kuwait memberikan perempuan Kuwait yang bercerai beberapa keuntungan, termasuk gaji bulanan, sebuah rumah, sebuah mobil dan seorang asisten. Hal ini menyebabkan beberapa perempuan segera ingin bercerai demi mendapatkan pelayanan tersebut (menurut Kementerian Peradilan Kuwait, berdasarkan pada laman Arab Times Online) Di 2016, angka ikatan pernikahan di Arab Saudi mencapai 157,000.

Namun dengan kontras, 46,000 kasus perceraian terjadi, yaitu 30% pasangan yang sudah menikah berujung pada perpisahan. Di Turki, Direktorat Jenderal Catatan Statistik Yudisial mengumumkan bahwa kasus perceraian dalam 10 tahun terakhir berjumlah 82%. Kasus perceraian di Istanbul adalah 62.3% dari semua kasus sipil yang diajukan di 2016 (Al Ain News). Pakistan juga tersiksa dari penyakit perpecahan dan pembunuhan terjadi di mana-mana. Komisi Hak Asasi mencatat 280 kasus pembunuhan dengan dalih kehormatan dari 2016 hingga Juni 2017.

Terkait alasannya maka ia disebabkan karena kemandirian material perempuan dan kecenderungan mereka kepada konsep kebebasan atas kekuasaan laki-laki dan kemungkinan menyerahkannya, terutama jika perempuan tidak bahagia dengan suaminya atau ketika terdapat kecacatan dalam hubungan sebelumnya yang berdampak pada masalah materi yang membakar tekanan psikologis pasangan yang menikah, yang berujung pada ketegangan hubungan emosional karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan material keluarga.

Bagian yang tinggi dan mengerikan ini bukanlah seluruhnya namun hanya contoh; banyak negara yang tersiksa dari fenomena yang terus menyebar di keluarga Muslim karena mereka jauh dari konsep Islam yang benar tentang pernikahan bahwa ia merupakan sebuah janji serius yang mengikat pasangan pernikahan dan cerai terjadi karena alasan-alasan yang paling sederhana… Masalah yang banyak dan besar hampir seluruhnya berujung pada perceraian dan hancurnya keluarga dan kemelaratan anak.

Sebagai akibat dari perpecahan dan pembubaran ini, anggota keluarga merasa kehilangan dan hidup dalam ketidakamanan; mereka lemah dan tidak mampu menyelesaikan masalah yang membuat mereka mencari jalan termudah dan terdekat, meskipun hal tersebut haram dan merugikan mereka.

Karena ia mengetahui pentingnya keluarga Muslim dalam membangun anak-anak dan memersiapkan mereka menjadi manusia di masa depan, Barat telah mencoba berbagai cara dan metode dalam menyebarkan bisanya untuk membongkar dan menghancurkannya. Mereka fokus pada perempuan yang bertanggungjawab membangun generasi dan berusaha mendistorsi serta merusak konsepnya yang benar dengan konsepnya yang rusak yang membuatnya mengabaikan peran terpenting yang dipilih Allah untuknya, yakni membesarkan dan mendidik anak-anak. “Ibu adalah sekolah, jika anda menyiapkannya, maka anda menyiapkan orang-orang yang berkarakter baik.” Barat telah menyiapkan alun-alun dan melaksanakan konferensi-konferensi serta seminar untuk menyebarkan ide-ide liberalnya yang merusak.

Catherine Forth, seorang Profesor Amerika mengatakan, “Konvensi dan perjanjian internasional terkait perempuan, keluarga dan populasi saat ini diformulasikan di agensi-agensi dan komite-komite yang didominasi oleh tiga kategori: feminisme ekstrim, anti-kelahiran dan partumbuhan populasi, homoseksual laki-laki dan perempuan. Komite perempuan di PBB diprakarsai oleh perempuan Skandinavia yang percaya pada pernikahan terbuka, menolak keluarga, menganggap pernikahan merupakan pembatasan serta percaya bahwa kebebasan individu haruslah absolut. Konsep kebebasan ini telah terefleksi di dalam piagam yang dikeluarkan oleh komite ini. Penandatanganan perjanjian CEDAW membuat mereka yang kontra dengan homoseksualitas –bahkan dengan karikatur (gambar)- menjadi sebuah pekerjaan yang menunjukkan pemiliknya pada pertanggungjawaban hukum bahwa ia “menyalahi hak asasi”.

Inilah yang diinginkan oleh Barat, yang hanya akan bahagia jika ummah Muslim mengikuti jalannya. Ia merencanakan siang dan malam untuk menghancurkan peradabannya dan menumbangkan ummah dari akar Islamnya. Kemenangan hanya milik Allah (SWT). Dia akan mengalahkan Barat dan menghentikan aksi serta rencana mereka. Dan Allah (swt) akan mengembalikan petunjuk ummah dan menginspirasinya dengan kembali pada aturan Allah dan untuk membangun masyarakat yang dipimpin oleh konsep yang tulus dalam mendidik anak-anak. Mereka akan menjadi orang yang dididik secara benar dengan keseimbangan dan akan membuat mereka menjadi bangsa terbaik yang dibawa untuk umat manusia.[] Ditulis untuk Kantor Media Hizb ut Tahrir, dalam rangkaian kampanye #SaveTheFamily

%d blogger menyukai ini: