Deteksi Ulama Suu’ dan Ulama Pewaris Nabi

MuslimahNews, EDITORIAL — Terlibatnya ulama di kancah perpolitikan sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru dalam Islam. Selama belasan abad, sosok ulama nampak selalu hadir mendampingi para umara dalam menjalankan visi kepemimpinan mereka agar berjalan sesuai tuntunan Islam.

Di sepanjang masa itu, bahkan tak sedikit figur pemimpin yang melekat dalam dirinya karakter ulama dan karakter umara sekaligus. Figur-figur seperti ini, antara lain tercermin dalam sosok para Khalifah Rasyidin hingga Khalifah-khalifah setelahnya. Sehingga amanah kepemimpinan pada sepanjang masa itu berjalan di bawah cahaya Islam, dan kehidupan pun dipenuhi dengan kisah-kisah tentang kejayaan, kemakmuran yang disertai dengan keberkahan.

Sebagai sebuah ideologi samawi, Islam memang tak mengenal pemisahan antara aspek spiritualitas dengan aspek siyasah alias politik. Juga tak mengenal istilah rijaluddin (ahli agama) yang terpisah dari istilah rijaalud dawlah (negarawan). Dikarenakan Islam tak pernah memisahkan antara urusan agama dengan negara (fashluddin ‘anid-dawlah).

Islam sejatinya adalah agama spiritual sekaligus agama politik. Dan kepemimpinan Islam sejatinya juga adalah kepemimpinan spiritual dan politik. Mengapa? Karena Islam bersama seluruh prinsip-prinsip akidah dan syariatnya, datang sebagai pemecah atas seluruh persoalan mendasar manusia yang Allah ciptakan sebagai hamba sekaligus pengelola alam semesta dari masa ke masa.

Itulah mengapa, Islam tak hanya bicara tentang konsep keimanan dan ibadah yang merupakan aturan terkait hubungan manusia dengan Rabbnya saja. Islam juga berbicara soal hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti yang tercakup dalam hukum-hukum mengenai akhlak, minuman dan pakaian. Pun Islam mengatur aspek-aspek berkenaan dengan hubungan dirinya dengan sesama manusia lainnya, seperti terkait urusan muamalah (meliputi hukum-hukum terkait urusan ekonomi, sosial, budaya, politik – termasuk pemerintahan dan polugri-, hankam, dll), serta masalah hukum dan sanksi hukum alias uqubat.

Islam dengan dimensi yang komprehensif dan universal inilah yang telah ditegakkan Rasulullah Saw dalam bentuk institusi negara di Madinah. Dan kemudian dilanjutkan oleh para sahabat beserta generasi terbaiknya dalam bentuk negara Khilafah yang eksis selama belasan abad sebagai negara adidaya.

Dan senyatanya, negara ini telah berhasil menyatukan dan menaungi umat Islam di seluruh penjuru dunia, serta secara konsisten menerapkan Islam dalam seluruh aspeknya. Hingga umat Islam muncul sebagai umat terbaik pelopor peradaban gemilang. Menginspirasi kebangkitan bangsa-bangsa lain yang saat itu justru sedang berkubang dalam lumpur kegelapan.

Dengan demikian nampak bahwa penerapan Islam ideologis merupakan rahasia kejayaan umat Islam dan tersebarnya kerahmatan bagi seluruh alam. Sementara saat itu, ulama dan umara, yang didukung penuh oleh umat, berperan sebagai penjaga Islam yang terpercaya (haarisan aaminan lil Islaam), sehingga aturan Islam tetap tegak sebagaimana seharusnya.

Mereka semua paham bahwa tegaknya hukum-hukum Islam merupakan perkara hidup dan mati. Sehingga mereka senantiasa bahu membahu menolong agama Allah dan institusi penegaknya dari segala makar musuh yang menginginkan keburukan. Bahkan mereka rela mengorbankan nyawa demi membela kehormatan agama dan menjaga marwah negaranya melalui aktivitas dakwah dan jihad yang mereka lakukan dengan penuh kebanggaan. Mereka memegang teguh prinsip Al Islamu ya’lu, wa laa yu’la ‘alayh. Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Namun sejalan dengan melemahnya pemahaman umat akan Islam dan gencarnya makar musuh menggempur pertahanan umat melalui serangan pemikiran, budaya, politik, dan militer, disertai pengkhianatan para antek musuh, maka melemah pulalah benteng pertahanan umat dan ikatan para ulama dengan umaranya, serta ikatan mereka dengan ideologinya. Bahkan peran ulama sebagai penjaga Islam kian lama kian tersingkirkan.

Di masa-masa ini, Islam sedikit demi sedikit dijauhkan dari sisi politisnya. Sebagian aturannyapun mulai ditinggalkan, dan para ulama banyak yang terjebak, asyik masuk dalam polemik perkara furu’iyah dan mulai abai dalam memerhatikan urusan politik kenegaraan akibat terpapar virus berupa ide pemisahan agama dari negara.

Sementara di luar itu, loyalitas umara dan politisi mulai berpaling kepada peradaban Barat yang mulai eksis dengan ideologi kapitalisnya. Mereka lebih nyaman hidup dengan sistem warisan filosof barat sebagaimana demokrasi dan sistem lainnya, dibandingkan dengan sistem yang datang dari Allah SWT.

Upaya pemisahan Islam dari karakter politisnya, serta terpisahnya ikatan ulama dari umara dalam penjagaan Islam inilah yang kemudian disebut dengan gerakan sekularisasi dan liberalisasi. Gerakan ini memang telah diadopsi sebagai strategi utama kekuatan kafir Barat dalam menghadapi kedigdayaan Islam selama berabad-abad. Dan mereka mendapatkan momentum terbaiknya untuk menebar racun pemikiran itu saat Khilafah Turki Utsmani sebagai representasi Khilafah terakhir milik umat Islam dunia terjebak dalam skenario musuh imperialis. Yakni terlibat dalam perang dunia yang sudah disetting untuk kalah dan wilayahnya siap dibagi-bagi sebagai ghanimah.

Kekalahan telak inilah yang mengunci Turki Utsmani dan kaum Muslim dari peluang bangkit kembali. Bahkan sejak saat itu, kaum munafiqin dan antek musuh di bawah komando Mustafa Kemal Attaturk bertambah leluasa menyebarluaskan bid’ah pemikiran sekularisme dan liberalisme yang sangat berbahaya tadi hingga merasuk di kalangan para pejabat, sebagian rakyat dan sebagian ulamanya yang sudah putus asa dengan keadaan akibat kekalahan telak dalam perang fisik yang dikobarkan Barat.

Kondisi inilah yang mempercepat runtuhnya institusi politik Khilafah di tahun 1924, sekaligus mempercepat lepasnya ikatan umat dengan ideologi yang justru menjadi rahasia kekuatannya. Mereka kemudian hidup di bawah panji-panji nasionalisme, dengan sistem hidup sekuler demokrasi kapitalisme yang jauh dari Islam.

Para penguasanya pun tak sungkan memosisikan diri sebagai komprador asing yang mengabdikan kekuasaannya demi melanggengkan hegemoni kekufuran dan neoimperialisme. Sementara sebagian ulama memilih posisi aman dengan berdiri bersama para penguasa komprador. Menjadikan ilmunya sebagai legitimator kebijakan-kebijakan sekuler.

Inilah ulama-ulama su’u yang bahayanya diingatkan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali : “Hati-hatilah terhadap tipudaya ulama su’u. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk daripada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum Mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasul saw ditanya tentang sejahat-jahat makhluk, Beliau menjawab, “Ya Allah berilah ampunan.” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali, lalu bersabda, “Mereka adalah ulama sû’u.

Wajar jika setelahnya, umat Islam mengalami sejarah kelam, jatuh sebagai entitas yang terpecah belah, terhina bahkan dikangkangi oleh sistem kehidupan yang rusak dan merusak. Tak ada satu aspek kehidupanpun yang selamat dari kerusakan. Sumber daya alam mereka dirampok. Moralitas terkikis. Hingga krisis demi krisis, fitnah demi fitnah dan bencana demi bencana terus melanda negeri-negeri kaum Muslimin di seluruh dunia. Dan merekapun makin terjauhkan dari predikat sebaik-baik umat.

Apa yang terjadi hari ini setidaknya membuktikan kebenaran sabda baginda Rasulullah Saw. Akan ada suatu masa dimana umat Islam bak buih di lautan, terombang ambing mengikuti kemana arah angin bertiup. Sekaligus menjadi hidangan yang diperebutkan bangsa-bangsa imperialis yang rakus dan memendam kesumat perang salib tak berkesudahan.

Lantas adakah harapan kebaikan bagi umat Islam di masa depan? Adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasul Saw bahwa umat ini akan kembali mulia dengan kembalinya Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Dan janji itu kini nampak tanda-tanda kedatangannya dengan kian derasnya gelombang kesadaran umat untuk kembali terikat dengan Islam dalam posisinya sebagai sebuah ideologi, dan menerapkan aturan-aturannya dalam seluruh aspek kehidupan.

Terlebih di tengah-tengah mereka, telah kembali tampil para ulama yang memilih istiqamah dan berpegang teguh memegang Sunnah. Meski konsekuensinya, mereka harus siap dipersekusi bahkan dikriminalisasi sebagai musuh negara dan rezim berkuasa.

Mereka inilah mutiara-mutiara dan simpul-simpul umat yang siap menjadi penjaga Islam terpercaya. Dimana loyalitas mereka hanya mereka dedikasikan untuk mencari keridhaan Allah semata. Sementara rasa takut hanya tertuju pada kebesaran Allah SWT.

Mereka tak mudah terjebak oleh hingar bingar kehidupan dunia yang hina dan fana, termasuk oleh tawaran sistem demokrasi yang penuh jebakan untuk berkompromi dengan kebatilan. Mereka inilah para pewaris Nabi, yang siap memimpin umat berjuang agar syariat ini kembali tegak dalam naungan Khilafah yang dijanjikan.[]SNA

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: