Meneropong Logika “Future is Female”

MuslimahNews.com — Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Umum ke-35 Dewan Perempuan Dunia (the 35th General Assembly of International Council of Women), di Yogyakarta 13-18 September 2018 yang bertema “Transforming Society Through Women Empowerment” (Mentransformasi Masyarakat melalui Pemberdayaan Perempuan).

Indonesia berkeyakinan bahwa penggerak pertumbuhan ekonomi yang sangat potensial, adalah perempuan dan remaja putri. Berbasis perhitungan McKinsey, ekonomi global akan kehilangan US$4.5 trillion (S$6.2 trillion) dalam GDP tahunan di 2025.

Menanggapi hal itu, Ustazah Hj Nida Saadah SE MEI Ak, kepada MNews, Jumat (21/9/2018), mengungkap pandangan berbeda, “Ini adalah cara pandang khas peradaban penjajah Barat ketika melihat sosok manusia. Manusia hanya mampu mereka lihat sebagai makhluk yang menghasilkan produk dan memanfaatkan produk. Mereka tidak mampu melihat sisi kontribusi perempuan dalam menanamkan nilai-nilai dan membentuk kepribadian yang baik pada generasi.”

Peradaban barat, kata Ustazah, secara bombastis mengeluarkan hitungan-hitungan angka yang ujung-ujungnya menyalahkan negeri-negeri Muslim atas kemiskinan yang masih membelenggu mereka karena membiarkan para perempuannya menganggur. Padahal, penjajahan barat lah yang menciptakan kemiskinan massal dan akut di negeri-negeri Muslim, termasuk di Indonesia. Karena mereka merampok habis-habisan kekayaan alam di negeri-negeri Muslim dan menjadikan negeri-negeri itu sebagai pangsa pasar.

“Parahnya, perempuan disalahkan karena kemiskinan yang terus terjadi, dengan ‘framing’ mereka tidak mau atau kurang aktif dalam bekerja. Ini jauh lebih mengenaskan daripada pola penjajahan zaman dulu. Jika dulu yang dipaksa ‘kerja rodi’ adalah laki-laki, maka ibaratnya sekarang perempuanpun disuruh kerja rodi,” tukas dosen dan peneliti ekonomi syariah ini.

Dan fatalnya, kata Ustazah Nida, perempuan bahkan merasa wajib melakukannya, karena mereka dibuat merasa bersalah jika tidak aktif bekerja.

Menurutnya, sudah saatnya ini dihentikan. Harus dibangun kesadaran baru dalam masyarakat bahwa yang harusnya dihentikan adalah penjajahan peradaban barat terhadap negeri-negeri Muslim. “Kembalikan kekayaan alam negeri Muslim kepada pemiliknya, masyarakat Islam. Stop penguasaan pasar negeri Muslim oleh peradaban barat.”

Ustazah Nida juga menyeru agar para ibu dikembalikan kepada fitrahnya. “Waktunya yang sangat berharga bersama anak-anaknya tidak bisa digantikan dengan jumlah uang berapapun. Generasi adalah aset peradaban. Dan yang bisa melakukan itu semua adalah peradaban Islam, dalam kepemimpinan Khilafah, dengan kesempurnaan penerapan aturan syariah Islam.”[]

%d blogger menyukai ini: