Harapan Pertumbuhan Ekonomi Digital pada Perempuan

Oleh: Dr Arum Harjanti

MuslimahNews, ANALISIS — Pada gelaran WEF-World Economic Forum 2018 yang berlangsung di Vietnam, Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI yang bertugas sebagai Co-Chair World Economic Forum on ASEAN memberikan paparan mengenai tantangan di wilayah ASEAN. Asia dianggap sebagai kekuatan pertumbuhan dalam ekonomi global yang telah mengangkat jutaan orang dari kemiskinan dan menggandakan pangsa Asia dari ekonomi dunia. Namun kondisi perempuan di wilayah ini dinilai kurang beruntung.

Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia) melaporkan angkatan kerja perempuan Asia kurang dari 50 persen, dibandingkan dengan 80 persen pria. Perempuan dibayar 25 persen lebih rendah daripada rekan pria mereka. Apalagi, ILO – International Labour Organization (Organisasi Perburuhan Internasional) melaporkan posisi manajemen teratas, hanya ditempati satu perempuan di antara tiga posisi.

Dunia menganggap kesenjangan gender masih amat dalam. Begitu besar sehingga McKinsey –lembaga konsultan manajemen global- memperkirakan ekonomi global akan kehilangan sekitar US $ 4,5 triliun (S $ 6,2 triliun) dalam PDB tahunan pada tahun 2025 jika melalaikan posisi pekerjaan bagi perempuan. Oleh karena itu, Sri Mulyani mengimbau, sekarang waktu bagi Asia untuk berinvestasi pada perempuan dan anak perempuan (girls). (weforum.org)

Untuk mendobrak hambatan, partisipasi perempuan dan anak perempuan harus ditingkatkan agar mereka mampu mencapai posisi terbaik. Dan demi menjawab tantangan zaman –yang disebut era Revolusi Industri 4.0- harus ditingkatkan keterampilan mereka dalam sains, teknologi, perekayasaan dan matematika (Science, Technology, Engineering and Mathematics/STEM).

Yang tak kalah penting, adalah memastikan para pemudi memiliki role model dan mentor yang tepat untuk meretas jalan mereka dalam pemberdayaan dirinya. Mereka bukan hanya bercita-cita mendapatkan pekerjaan yang baik, namun harus menjadi orang yang menciptakan pekerjaan baru, menciptakan ide-ide baru, membangun start-up teknologi baru ke dalam bisnis besar, dan menjadi pemimpin masa depan perekonomian Asia di masa depan.

Pesan Sri Mulyani untuk pejabat publik, pemimpin bisnis, masyarakat sipil dan lembaga pendidikan amat jelas : In Asia, the future is female. Ya, dengan bombastis dikatakannya, masa depan Asia (tergantung) pada perempuan.

Perempuan Indonesia dan Percepatan Ekonomi Digital

Arus internasional untuk memberdayakan perempuan dalam teknologilah yang menjadi alasan PT Telkom mendorong seluruh perempuan melek ekonomi digital. Direktur Consumer Service PT Telekomunikasi Indonesia, Siti Choiriana saat acara Talk Show di sela Sidang Umum ke-35 International Council of Women (ICW) di Yogyakarta (13/9/18) mengatakan melek digital penting untuk meningkatkan peran mereka dalam menyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini 63 persen dari 5 juta pelaku ekonomi di Indonesia didominasi perempuan.

Namun demikian, dari seluruh pelaku usaha perempuan yang tersebar di seluruh daerah, masih banyak yang menggunakan cara-cara konvensional untuk menjual produknya. Telkom telah memberikan dukungan percepatan pertumbuhan ekonomi digital dengan memperluas persebaran akses internet hingga daerah pelosok. Hingga saat ini tidak kurang dari 99 persen wilayah Indonesia telah terjangkau akses internet.

Bahkan Untuk membantu pemberdayaan perempuan melalui ekonomi digital, Telkom bersama BUMN lainnya juga telah membentuk Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang tersebar 514 kabupaten. Ada pula program pembinaan startup Indigo Creative Nation di 18 kota.

Internasional Council of Women juga dihadiri Presiden Joko Widodo

Oleh sebab itu gelaran Sidang Umum ke-35 ICW serta Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia itu menjadi momentum penting untuk kembali menggencarkan pemberdayaan perempuan melalui ekonomi digital.
Semua pernyataan, rencana dan langkah-langkah untuk mewujudkan peran perempuan milenial di era digital ini kian menunjukkan upaya untuk patuh pada konvensi internasional yang digagas Barat. Yakni mempercepat terwujudnya Planet 50:50 [baca : Planet fifty fifty] dan tujuan ke-8 SDGs / Sustainable Development Goals pada tahun 2030 yaitu kesetaraan gender.

Pemberdayaan perempuan menjadi kata kunci untuk mewujudkan kesetaraan gender. Dan semua itu diaruskan Barat demi pertumbuhan ekonomi dunia. Perhitungan yang dilakukan oleh Mc Kinsey, yang mengibaratkan tanpa peningkatan pemberdayaan perempuan, dunia akan alami kerugian sebesar US $ 4,5 triliun dalam PDB tahunan pada tahun 2025, menunjukkan betapa seriusnya arti kesetaraan gender bagi mereka. Padahal, seperti biasanya, pengemban kapitalisme hanya berhitung secara materi semata.

Tak terpikirkan oleh mereka kerugian non materi yang akan terjadi pada keluarga bila Planet 50:50 terwujud, dimana perempuan menjadi pencari nafkah, sementara laki-laki menjadi bapak rumah tangga. Hal ini sesungguhnya adalah bentuk eksploitasi secara ekonomi untuk kepentingan para konglomerat, pemilik korporasi yang bergantung pada pertumbuhan ekonomi.

Perubahan ini pasti akan mengakibatkan rusaknya ketahanan keluarga karena merusak keseimbangan kodrat yang telah ditetapkan Allah SWT. Kerugian akibat rusaknya ketahanan keluarga jauh lebih besar dibandingkan nilai materi yang didapatkan. Karena perubahan keseimbangan kodrat dan fitrah yang diciptakan Allah justru akan menghancurkan peradaban manusia.[]

%d blogger menyukai ini: