Agar Hijrah tak Sekadar Jadi Sejarah

MuslimahNews, EDITORIAL — Peringatan momentum hijrah yang ke 1440 di Indonesia nampaknya terbilang cukup istimewa. Betapa tidak? Peringatan yang seringkali dikait-kaitkan dengan isu perubahan ini terjadi bertepatan dengan suasana panas jelang Pemilu 2019.

Bagi sebagian kalangan, pesta demokrasi memang selalu diharapkan bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Namun tak sedikit pula yang justru merasa pesimis, mengingat pemilu ke pemilu, ternyata tak pernah membuat umat dan negara ini kondisinya bertambah baik.

Bahkan tak bisa dipungkiri jika keadaan umat ini kian hari malah kian bertambah parah. Kemajuan di bidang infrastruktur dan berbagai pembangunan fisik yang terus digenjot nampak nyata tak membuat kehidupan mayoritas masyarakat bertambah sejahtera, apatah lagi mendatangkan keberkahan.

Di berbagai bidang kehidupan, bangsa yang mayoritas Muslim ini justru hidup dalam keadaan terpuruk. Krisis demi krisis bencana demi bencana terus terjadi, seolah tak mau beranjak dari kehidupan bangsa ini.

Kita lihat sektor ekonomi terus digonjang ganjing dengan berbagai ancaman krisis. Kemiskinan kian meluas. Moralitas kian bebas tak ada batas. Politik pun kian nampak naif dan hipokrit. Agama kian kehilangan wibawa. Sementara hukum dan sistem hukum juga kian mandul. Dan dalam konstelasi politik internasional, umat ini nampak kian tak berdaya, bahkan terus didikte kepentingan asing. Hingga sempurnalah keadaannya sebagai negara pengekor bagi negara-negara adidaya. Benar-benar tak berdaya!

Wajarlah jika di luar kelompok yang tetap bersemangat mempertahankan status quo, muncul suara-suara yang menuntut perubahan. Bahkan suara itu kian hari kian lantang terdengar hingga sampai pada posisi saling berhadap-hadapan.

Hanya saja, sebagaimana yang terjadi di masa-masa sebelumnya, perubahan yang mereka tuntut masih fokus pada pergantian orang. Mereka berpikir akar semua krisis berpulang pada soal personalitas. Sehingga pergantian person dikira akan otomatis menghasilkan perubahan.

Padahal jika dicermati lebih dalam, semua problem yang terjadi hanyalah cabang dari satu akar persoalan. Yakni diterapkannya sistem sekuler yang menafikan peran Tuhan, yakni Allah SWT, dalam pengaturan kehidupan.

Sistem inilah yang kemudian melahirkan berbagai aturan yang jauh dari fitrah penciptaan manusia, alam dan kehidupan. Karena aturan tersebut lahir dari akal pikir manusia yang lemah dan terbatas. Yang tidak bisa menjangkau hakikat segala persoalan dan tak mampu memberi solusi komprehensif sebagaimana dibutuhkan.

Sehingga alih-alih membawa kebaikan, sistem ini bahkan telah nyata-nyata menjauhkan umat dari kemuliaan. Predikat khairu ummah yang Allah sematkan bagi umat Islam, bahkan hanya tinggal sejarah. Itupun sekuat tenaga ditutup-tutupi kaum kuffar agar umat ini tak punya nyali untuk meraih kembali kebangkitan.

Adanya peringatan momentum hijrah seharusnya menjadi modal bagi kaum Muslim untuk menemukan jati dirinya kembali sebagai sebaik-baik umat. Karena peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah di awal Muharram yang oleh Khalifah Umar Bin Khaththab dijadikan acuan penanggalan 1 Hijriyah, sesungguhnya mengandung spirit perubahan masyarakat dari kejahiliyahan menuju terwujudnya sistem Islam.

Peristiwa hijrahlah yang menyatukan umat secara riil dalam satu akidah dan satu kepemimpinan. Peristiwa ini pula yang menandai tegaknya sebuah sistem politik yang mampu memobilisasi semua kekuatan umat, mengurus urusan kemaslahatan mereka dengan hukum-hukum syara, dan menjaga kewibawaan ummat di atas segala bangsa. Bahkan sistem inilah yang berjasa menyampaikan keindahan dinul Islam sekaligus menebar kebaikan hingga sampai ke seluruh pelosok dunia, termasuk ke negeri kita, Nusantara.

Sayangnya spirit hijrah seperti ini nyaris hilang sekalipun momentumnya terus diperingati berulang-ulang. Ini dikarenakan peristiwa hijrah hanya dipandang sebagai peristiwa sejarah masa lalu yang tak ada hubungannya dengan masa depan. Bahkan hijrah telah direduksi maknanya hanya sekedar urusan perubahan individual.

Oleh karenanya menjadi tugas kita untuk meluruskan kembali makna hijrah bagi umat Islam. Bahwa hijrah bukan sekedar berpindah keadaan, apalagi sekedar urusan individual. Tapi hijrah adalah momentum bagi umat Islam menuju kebangkitan hakiki, dengan jalan berjuang mewujudkan tegaknya syariah Allah di bawah naungan satu kepemimpinan. Dialah Khilafah Islam ‘Ala Minhajin Nubuwah yang dijanjikan.[]SNA

%d blogger menyukai ini: