Gempa dan Pesta Olahraga dalam Angka

Oleh: Nindira Aryudhani (Relawan Opini dan Media)

MuslimahNews, ANALISIS — Euforia Jakarta menyambut Asian Games 2018 sungguh membahana. Momentum opening ceremony gelaran pesta olahraga se-Asia beberapa hari lalu memang sangat berkesan. Tak ayal, publik pun penasaran ingin mengulik kisahnya di balik layar. Termasuk budget-nya.

Ketua Deputi II Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee, Francis Wanandi mengatakan bahwa budget untuk Opening dan Closing Ceremony Asian Games hanya US$47 juta atau sekitar Rp 681,5 miliar (Kurs: Rp 14.500,-). Dana ini diklaim sudah dirampingkan dari budget awal yang sebetulnya senilai US$52 juta. Francis juga mengatakan bahwa nominal tersebut merupakan jumlah total untuk sekaligus membayar pajak. Jadi untuk jumlah bersihnya tentu lebih ramping lagi, yakni hanya sekitar US$32 juta.

Senada, Ketua Badan Ekonomi Kredit (Bekraf) Triawan Munaf menjelaskan bahwa meski dana Opening dan Closing Ceremony Asian Games 2018 ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan dana Opening dan Closing Olimpiade Musim Dingin 2014 Sochi dan Olimpiade Musim Panas London 2012. Saat itu, pada Olimpiade Sochi menghabiskan dana sebesar US$500 juta, dan Olimpiade London sebesar US$300 juta.

Memang maklum, untuk sebuah euforia, dana sekian ratus milyar rupiah itu pasti sedikit. Ibarat kata, orang kaya sudah biasa pula mengeluarkan uang banyak. Begitu pula mantan orang kaya. Ketika dirinya jadi orang miskin, akan membutuhkan masa adaptasi hingga ia bisa berlaku hemat uang. Maka kemudian juga wajar jika di awal kemiskinannya, ia mengatakan nominal pengeluarannya yang banyak itu bukan pemborosan. Namun bagi yang papa, apalagi korban bencana, dana sejumlah itu sesungguhnya sangat besar.

Terkait hal ini, kita tak bisa menutup mata terhadap saudara-saudara korban gempa Lombok. Gempa bumi yang bertubi-tubi tak jua menjadikannya sebagai bencana nasional. Kendati pulau terdekat Lombok, seperti Bali, juga sudah terdampak getaran gempanya. Namun sedihnya, para punggawa negara justru berkilah. Jika gempa Lombok dinaikkan statusnya menjadi bencana nasional, maka para wisatawan mancanegara ditengarai akan lari.

Terlebih dengan momentum Asian Games di ibukota, citra positif di kancah internasional menjadi dalih bagi pemerintah agar tetap dijaga. Padahal di Lombok sana, para korban kian hari kian butuh uluran tangan berikut mental recovery. Entah ada pada urutan prioritas ke berapa nasib para korban ini bagi penguasa. Ini bisa dilihat dari jumlah nominal bantuan pemerintah, yaitu baru Rp 38 miliar, yang tak sebanding dengan jumlah 548 jiwa korban tewas akibat gempa. Nominal tersebut hanya sebagian kecil dibandingkan dana opening dan closing ceremony Asian Games tadi. Dana tersebut juga tak kalah timpang dibandingkan bantuan pemerintah untuk pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia pada Oktober 2018 sebesar Rp 810 miliar. Hal ini jelas tak adil.

Angka-angka ini telah membuktikan dengan jelas akan arah prioritas pemerintah. Lantas, ke mana gaung Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang selama ini mati-matian dibela hingga mengumandangkan Islamfobia?

Sungguh, ideologi kapitalisme yang individualistis sudah terlampau akut menjangkiti para penguasa. Untuk sekadar memikirkan nasib rakyat korban bencana pun sudah tak ada ruang. Prioritas selaku pelaksana kebijakan sama sekali tak berfungsi. Betapa hal ini sedemikian kontrasnya dengan sabda Rasulullah ﷺ diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abdullah ibn Umar, yaitu:
.
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالإمام الاعظم الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته

Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Maka seorang pemimpin agung yang menjadi pemelihara atas rakyatnya, dia adalah penanggung jawab bagi rakyatnya.”

Juga sabda beliau ﷺ berikut ini:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

Padahal hadits di atas sejatinya berupa pujian yang dituturkan oleh Rasulullah ﷺ terhadap sosok penguasa yang dibaiat kaum Muslimin untuk menegakkan hukum-hukum Allah, melindungi harta, kehormatan dan darah kaum Muslimin. Namun dalam peristiwa gempa Lombok tadi menjadi nyata bahwa sosok pemimpin yang dipuji oleh beliau ﷺ, tidak akan pernah terwujud dalam sistem kehidupan yang egois layaknya kapitalisme-sekuler-liberal ini.

Jadi andaikan seorang pemimpin telah terpilih dalam sistem demokrasi, maka dirinya akan mengemban motif kapitalistik sebagai warna pemerintahannya. Ia sendiri akan menjadi agen bagi para pemilik kepentingan, khususnya ekonomi, karena sistem demokrasi kapitalisme memang sangat menonjolkan aspek ekonomi.

Wajar jika nantinya mereka justru berperan demi makin memuluskan proyek-proyek neoliberalisasi. Alih-alih terpikir nasib korban gempa Lombok. Yang ada, penguasa lebih menghamba pemilik dana, hingga langkah ini sekaligus turut melanggengkan jurus-jurus neoimperialisme modern. Dan ini adalah pola yang permanen dalam sistem demokrasi kapitalisme. Masihkah kita hendak berpihak pada sistem yang absurd ini?

Sungguh, umat hanya butuh Khilafah. Tak layak mundur meski sejengkal. Tak hendak kabur meski istilah ‘Khilafah’ dan para pengembannya dikriminalisasi. Yang patut kita yakini adalah bahwa kebangkitan Islam dalam naungan Khilafah adalah janji Allah dan bisyarah Rasul-Nya. Wallahu a’lam.[]

%d blogger menyukai ini: