Islamofobia Menyebar ke Korsel, Pengungsi Jadi Sasaran

MuslimahNews.com — Virus Islamofobia bukan hanya terjadi di dunia Barat. Di Korea Selatan (Korsel), virus itu telah menyebabkan sentimen anti-pengungsi di kalangan warga Korsel. Hal itu khususnya sentimen untuk pengungsi yang berasal dari negara Timur Tengah.

Dilansir Aljazirah, Selasa (14/8) salah seorang warga Korsel, Ko Minja mengaku tidak menginginkan kehadiran para pencari suaka di pulau Jeju. Meskipun dia mengaku belum bertemu dengan salah satu dari 550 pencari suaka Yaman yang tiba di Pulau Jeju awal tahun ini. Pemilik restoran berusia 59 tahun itu juga belum mengunjungi salah satu daerah yang ditempati pengungsi.

“Bangsa Yaman menakutkan. Mereka akan memperkosa perempuan kami, mengambil pekerjaan kami, dan mengambil alih negara. Saya takut pergi ke daerah tempat tinggal mereka,” katanya.

Hampir 2,2 juta migran berbasis di Korsel. Pada April, orang-orang dari Yaman datang ke Jeju karena negara mereka dilanda perang. Kedatangan mereka memicu protes di pulau itu, serta ibu kota, Seoul. “Orang-orang ini terkenal karena perilaku sembrono mereka dan itu menyebabkan ketakutan di antara warga Jeju, “kata Minja.

Pandangan Minja dan warga Korsel lainnya terhadap pengungsi itu berasal dari apa yang ia dengar dari orang lain atau informasi dari internet. Hal itu juga berasal dari kurangnya pengetahuan mereka tentang dunia luar. Sehingga, mereka melawan kehadiran orang-orang Yaman tersebut.

Tingkat penerimaan pengungsi Korsel mencapai sekitar empat persen. Dari 1994 hingga Juni 2018, Korsel menerima 42.009 aplikasi pengungsi. Dari 20.974 aplikasi yang telah selesai, hanya 849 yang diberikan status pengungsi. Sebanyak 1.550 diberi status kemanusiaan, izin sementara yang memungkinkan individu untuk bekerja setelah enam bulan. Tetapi, izin itu dinilai perlu diperbarui.

Jeju memiliki populasi sekitar 600 ribu. Survei baru-baru ini dengan 500 penduduk mengungkapkan 90 persen warga Jeju merasa tidak aman untuk pergi ke luar sejak kedatangan orang Yaman.

Banyaknya berita bohong dan propaganda anti-Islam secara online juga telah memacu para pengunjuk rasa di Korsel. Menurut seorang pengacara hak asasi manusia, Il Lee, sentimen anti-pengungsi bukanlah hal baru di Korea. Ada juga kekhawatiran bahwa penyebaran informasi palsu berlangsung tanpa disadari. Selain itu, kurangnya keterlibatan pemerintah dalam hal ini telah gagal menenangkan situasi.

“Ada fenomena kuat di Korea bahwa orang-orang menyalahkan orang asing untuk segala sesuatu yang salah,” ujarnya.

“Jika ada tingkat pekerjaan yang rendah, mereka mengatakan para migran telah mengambil pekerjaan kami. Ketika menyangkut keselamatan wanita, mereka mengatakan hal-hal akan memburuk karena lebih banyak pengungsi,” kata Lee menambahkan.

Menurutnya, saat pencari suaka Yaman tiba, ada sentimen anti-Islam yang kuat terjadi di Korsel. Situasi itu menjelaskan masalah pengungsi dan orang-orang yang menentangnya. Situasinya semakin mengerikan karena tidak banyak warga Korea yang memiliki pengalaman hidup dengan Muslim. Bahkan di antara mereka tidak pernah bertemu satu muslim pun selama kehidupannya.

Pada Sabtu (11/8), sekitar 100 aktivis anti-pengungsi mengadakan protes keempat di luar Stasiun Seoul. Mereka menuntut pemerintah mendeportasi semua “pengungsi palsu” dari Jeju dan tidak menerima pencari suaka lainnya.

Orang Yaman disebut “pengungsi palsu” karena, menurut penduduk setempat, penampilan mereka tidak mencerminkan sebagai pengungsi. Orang Korea memiliki pandangan bahwa pengungsi adalah orang miskin tanpa uang atau pakaian.

“Jika Anda melihat gambar dari berbagai artikel, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Saya menganggap ini aneh,” ujarnya.

Dia mengatakan para pengungsi tersebut seperti turis. “Sulit untuk memahami bahwa mereka adalah orang-orang yang putus asa untuk bertahan hidup tapi memiliki iPhone dan iPad. Mereka terlihat seperti turis,” kata seorang pengunjuk rasa berusia 38 tahun di Seoul.

Ia menginginkan agar pemerintah tidak menerima pengungsi sama sekali, terutama yang berasal dari negara-negara Muslim. “Budaya dan agama mereka sangat berbeda dari kami. Saya tidak ingin melihat agama yang buruk di negara kami di mana anak-anak kami akan tumbuh dan itu akan membahayakan mereka,” ujarnya.

Direktur Korea Diaconia, Jumin Hong, mengatakan para pengunjuk rasa itu tidak mengetahui sama sekali tentang Islam. Itulah mengapa masalah itu menjadi begitu besar. “Berita palsu tentang Islam ini sangat provokatif. Mereka mengatakan Muslim adalah teroris, pelecehan seksual dan melecehkan orang dan semua ini dibagikan secara terbuka di media sosial,” katanya.

Sebagian besar politisi di Korsel belum membicarakan masalah tersebut. Sementara itu, beberapa badan sipil dan organisasi bantuan yang bekerja untuk Yaman telah diancam. Pada Juni, Yaman ditarik dari daftar negara-negara yang diizinkan bebas visa untuk kedatangan di Pulau Jeju.

Lebih dari 700 ribu warga Korsel mengajukan petisi online yang mendesak pemerintah untuk menghentikan kebijakan bebas visa untuk Yaman. Mereka juga meminta pemerintah mengirim “pengungsi palsu” kembali ke negara asalnya.

Sebagai tanggapan, pemerintah mengumumkan rencana untuk memperketat UU Pengungsi negara itu. Para kritikus menilai langkah pemerintah tersebut sebagai bentuk dukungan untuk tuntutan para demonstran.

Kepala partai yang berkuasa di Korsel, Choo Mi-ae, mengakui kurangnya pemahaman dan ruang untuk perbaikan. “Publik Korea tidak memiliki banyak kesempatan untuk menghadapi keragaman budaya,” ujarnya.

Meski demikian, dia mengatakan Korsel memiliki prosedur yang harus dilalui pengungusi. “Anda tidak boleh menyebut seluruh negara sebagai anti-pengungsi berdasarkan tindakan beberapa orang dan petisi online. Negara ini banyak membantu keluar secara finansial di luar negeri dan salah satu dari mantan pemimpin PBB adalah orang Korsel,” kata Choo.

Dalam aksi protes di Seoul, slogan-slogan anti-Islam semakin keras disuarakan. Mereka yang mendukung para pengungsi mengamati aksi para demonstran. Para penyelenggara aksi menunjukkan video-video perang yang melanda Timur Tengah. Demonstran memperingatkan penduduk setempat tentang apa yang terjadi di Korea jika pemerintah memberi mereka status pengungsi.

Namun, terlepas dari ancaman dan sentimen, mayoritas dari mereka yang membantu Yaman di Jeju adalah orang Korea. Di Seoul, banyak yang menyatakan harapan bahwa pemerintah akan mengambil sikap yang lebih kuat terhadap masalah ini. “Saya minta maaf untuk semua ini. Saya minta maaf atas apa yang Anda lihat. Ini bukan Korea yang saya tahu,” kata seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang berjalan menjauh dari protes.[]rol

%d blogger menyukai ini: