Fashion Carnaval di Kota Santri

Oleh : Wardah Abeedah

“Suasana di kota santri, asyik senangkan hati..
Suasana di kota santri, asyik senangkan hati…

Tiap pagi dan sore hari,
Muda mudi berbusana rapi.
Menyandang kitab suci,
Hilir mudik silih berganti.
Pulang pergi mengaji.”

MuslimahNews.com — Mendengar lagu lama ini, akan memunculkan visualisasi ademnya kota santri. Masjid yang makmur (ramai dengan aktivitas ibadah), muda-mudi berpakaian syar’i, rajin mengkaji Islam. Alquran terbiasa dibaca bahkan meski di tempat umum. Pesantren dengan ulama dan santrinya mampu membina masyarakat agar paham dan taat pada din yang sempurna ini.

Kota santri, julukan itu pernah disandang Jember tercinta. Beberapa tahun lalu sebelum perhelatan karnaval -yang konon berskala dunia- menjadi ikon baru kota ini. Betapa tidak, jumlah pesantren di Jember sangat banyak. Menurut data Kementerian Agama, pada 2013 saja terdapat 367 pesantren yang terdaftar dengan jumlah santri mencapai hampir 40 ribu orang. Data tersebut minus sekitar ratusan pesantren Salaf yang tak mendaftarkan diri ke kemenag. Madrasah Diniyah berjumlah 2000 lebih dengan total santri lebih dari 103 ribu. Jika kita berjalan ke pelosok kabupaten Jember, akan banyak ditemui plang-plang di depan jalan kecil atau gang yang menandakan adanya pesantren di sana.

Para ulama juga masih dijadikan panutan di Jember. Tak sedikit dari mereka yang duduk di jajaran birokrasi. Di kota ini, juga terdapat beberapa kampus Islam yang di antaranya dikelola langsung oleh pihak pesantren, seperti As-Sunniyah kencong.

Selepas mengenyam berbagai tsaqafah Islam di pondok, kader pesantren biasanya akan menjadi dai di daerahnya. Jika tak mendirikan pesantren, minimal mereka mendirikan madrasah, TPQ (Taman Pendidikan Alquran) atau majlis taklim. Bila dalam setahun, pesantren mewisuda ribuan santri, berapa besar potensi sumber daya manusia penyebar Islam di Jember?

Potensi Kota Santri

Sejatinya potensi besar ini menjadi aset bagi bangsa, umat dan agama. Potensi SDM penolong agama Allah untuk menegakkan Islam di bumi nusantara. Sebagaimana peran pesantren di masa pra kemerdekaan dahulu. Dipimpin ulama, perjuangan mereka berfokus pada dua hal; pertama, mengusir kafir penjajah dari nusantara, tanah milik kaum Muslimin. Yang merupakan tanah usyriyah yang tunduk pada Khilafah Utsmani.

Dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII&XVIII (2005), Azyumardi Azra mengungkap sejumlah contoh perjuangan para ulama dalam melawan penjajah. Sebutlah contoh Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M). Ulama terkenal ini bukan hanya mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah.

Tahun 1683, setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Maqassari memimpin sekitar 4000 pasukan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Pada tahun 1825 hingga 1830, Pangeran Diponegoro memimpin Perang Diponegoro yang disertai para para ulama-santri dari berbagai penjuru Jawa. Bahkan pasca ditangkapnya Diponegoro, lebih dari 130 pertempuran dilakukan kalangan pesantren untuk mengusir penjajah Belanda.

8 Desember 1944, para santri berjuang untuk mengusir penjajah kafir Belanda dan mempertahankan kemerdekaan dengan bergabung bersama Laskar Hizbullah. Dalam rapat pleno Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada Januari 1945, diputuskan pimpinan pusat dari Barisan Hizbullah adalah KH Zainul Arifin.

Kedua, kembali menegakkan syariat Islam pasca runtuhnya Khilafah Utsmani dan dijajahnya bumi nusantara oleh Belanda.

Perjuangan yang dilakukan ulama dan pesantren bukan sekadar mengusir penjajah Belanda dari bumi nusantara. Lebih dari itu, harta dan jiwa yang mereka korbankan adalah demi terbentuknya Negara Islam di nusantara.

Disampaikan oleh Soepomo dalam pidatonya pada 31 Mei 1945: “Memang di sini terdapat dua paham, ialah paham dari anggota-anggota ahli agama yang menganjurkan Indonesia didirikan sebagai negara Islam; dan anjuran lain sebagai telah dianjurkan oleh Mohammad Hatta ialah negara persatuan nasional yang memisahkan urusan negara dengan urusan Islam. Dengan perkataan lain: bukan negara Islam.” (Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, I/115 karya Yamin)

Jauh sebelum kemerdekan Indonesia dirumuskan, ulama dan kaum pesantren mengangkat senjata adalah untuk menegakkan Negara Islam. Beberapa kesultanan di nusantara seperti Aceh, Demak, dan daerah lainnya telah tunduk kepada kekhilafahan Turki Utsmani, atau yang sering dikenal dengan Ottoman.

Namun pasca keruntuhan Utsmani dan menjelang kemerdekaan Indonesia, bermunculan tokoh dari kaum nasionalis sekuler dan komunis tak sepakat. Sehingga dibentuklah Panitia Sembilan sebagai kompromi dari perbedaan pendapat antara kubu Islam yang diwakili ulama, dan kubu nasionasil sekuler, sebagaimana petikan pidato dr Soepomo di atas.

Panitia Sembilan yang terdiri dari Ir Soekarno (ketua), Drs Mohammad Hatta (wakil ketua), Mr Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo , Mr Prof Mohammad Yamin SH, KH Abdul Wahid Hasjim, Abdoel Kahar Moezakir, Raden Abikusno Tjokrosoejoso, Haji Agus Salim, dan Mr Alexander Andries Maramis (anggota) kemudian merumuskan Piagam Jakarta.

Rumusannya menyebutkan ‘kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’.

Dalam perjalanannya, Soekarno dan Hatta meminta kepada tokoh-tokoh Islam untuk diizinkan mengubah rumusan Piagam Jakarta menjadi rumusan Pancasila. Hingga akhirnya, dihilangkan tujuh kata di atas, dan dihapus pula pasal yang menyebutkan tentang syarat Presiden yang sebelumnya mengharuskan orang Islam.

Kembalikan Ikon Jember sebagai Kota Santri

Kembali berbicara potensi Jember sebagai kota santri, sejatinya kalangan pesantren meneladani dan meneruskan perjuangan pendahulu kita. Banyaknya SDM pesantren baik dari kalangan ulama dan santri diarahkan untuk berjuang menerapkan Islam di Bumi Pertiwi. Karena saat ini umat Islam di Indonesia tidak diperangi secara fisik, maka tugas ‘Kaum Sarungan’ bukanlah berjihad dengan senjata. Namun mendakwahkan Islam.

Tsaqafah Islam yang dipelajari di pesantren, menjadi senjata ampuh sebagai solusi berbagai problem bangsa. Juga berjuang untuk menerapkan hudud, imamah dan berbagai syariat Islam, agar diterapkan secara formal oleh Negara.

Sebagaimana dahulu, para ulama telah berjuang untuk menerapkannya. Sehingga dengan tegaknya hukum Allah di nusantara, akan menjadikan Indonesia diliputi keberkahan, sebagaimana firman Allah:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-a’raf 96).

Sayangnya sejak beberapa tahun lalu, ikon Jember berubah menjadi Kota Karnaval Dunia. Wajah Jember yang dulu relijius berubah drastis. Terutama di bulan Agustus yang dinobatkan sebagai Bulan Berkunjung ke Jember.

Perhelatan Jember Fashion Carnaval justru menjadi ajang kemaksiatan. Jalanan tidaklah penuh dengan muda-mudi yang berbusana Muslim dan menyandang kitab suci. Namun dipenuhi ajang buka-bukaan aurat sembari ber-tabarruj (berhias yang diharamkan).

Event yang digelar sejak menjelang siang hingga menjelang petang ini juga menjadikan sebagian besar peserta karnaval, panitia hingga penonton terpaksa meninggalkan salat. Ikhtilath atau campur baur dengan nonmahram yang diharamkan tak bisa dihindarkan.

Efek jangka panjang bagi masyarakat Jember lebih parah lagi. Opini yang dibentuk berupa kebanggaan terhadap ajang berbau maksiat tentu menggerus akidah umat Islam, mayoritas penduduk Jember. Opini bahwa pariwisata akan menggenjot sektor ekonomi dengan menafikan sistem ekonomi Islam juga merupakan pendapat tak Islami. Cita-cita untuk menjadikan Jember sebagai kota fashion dengan adanya ajang JFC semakin menjauhkan wajah Jember sebagai kota santri.

Garis besar dari semua bahaya ini adalah liberalisasi pemikiran dan budaya. Budaya Islami yang dulunya lekat di tengah masyarakat berubah kebarat-baratan. Bahkan sudah jadi rahasia umum, budaya suka sesama jenis dan laki-laki feminin semakin merebak sejak ajang JFC. Pemikiran masyarakat yang dulunya masih keukeuh berpegang pada halal-haram tergerus. Berganti menganut paham liberal atau kebebasan, enggan diatur syariat. Peran Allah sebagai pembuat hukum dikerdilkan. Sedangkan budaya kebarat-baratan dan budaya daerah diagungkan.

Hal ini tentu akan mendatangkan murka Allah, zyat Pencipta manusia dan bumi seisinya. Saat ini bisa kita rasakan bagaimana berkurangnya keberkahan di kota kita tercinta. Kemiskinan yang masih tinggi, hingga kerusakan moral remaja yang semakin menjadi.

Jangan sampai kita mengulangi kesalahan kaum terdahulu yang binasa oleh azab Allah. Seperti kaum Nabi Luth yang doyan homoseks. Mereka diguncang gempa bumi dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Hingga akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

Atau seperti kaum Tubba’ yang enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).

Mari, kembalikan Jember sebagai kota santri yang Islami dan mencetak SDM pejuang Islam agar terwujud keberkahan di kota kecil ini dan menyebar ke seluruh pelosok negeri. Wallahu a’lam bis shawab.[]

%d blogger menyukai ini: