Beginilah Sikap Pemberani Pewaris Para Nabi

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad (Ketua Lingkar Studi Tsaqofah Islam)

MuslimahNews, KOMPOL — “Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa: ‘Islam Nusantara’ dalam konsep/pengertian definisi apapun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatera Barat). Bagi kami, nama ‘Islam’ telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apa pun,” demikian kesimpulan MUI Sumbar sebagaimana dokumen unggahan akun Facebook Ketua Umum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018, seperti dikutip detikcom, Rabu (25/7/2018).

Subhaanallah.. Beginilah semestinya sikap yang dimiliki oleh Ulama pewaris para Nabi. Berani dan tegas menyampaikan kebenaran sekalipun konsekuensinya bisa mendapatkan celaan, tekanan, bahkan mungkin ancaman keselamatan jiwa. Karakter ini merupakan implentasi 2 dari 7 nasihat Rasulullah Saw pada Abu Dzar:
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ.
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:…, aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah.

Pelabelan Islam dengan nama yang tidak dicontohkan Rasulullah Saw dan juga bisa mengerdilkan kesempurnaan ajaran Islam serta akan memalingkan umat dari pemahaman Islam yang shahih merupakan sebuah bentuk kemungkaran yang besar. Para ulama tidak mungkin membiarkannya tanpa perlawanan.

Ulama yang hakiki tidak mungkin berdiam diri menyaksikan kebenaran dan keagungan Islam dilecehkan. Sabda Rasulullah Saw berikut merupakan salah satu yang menjadi panduan para Ulama dalam menghadapi kemunkaran:

إن الله يسأل العبد يوم القيامة حتى يقول له‏:‏ ما منعك إذا رأيت المنكر فلم تغيره‏؟‏ فيقول‏:‏ خشيت الناس، فيقول الله تعالى‏:‏ ‏(‏أنا أحق أن تخشاني‏)‌‏.
Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada hambaNya di hari kiamat sehingga Dia berfirman: Apa yang menghalangi kamu apabila merlihat kemungkaran namun kamu tidak mencegahnya? Maka dia pun menjawab: Aku takut pada manusia. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak untuk engkau takuti.” (Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dari hadis Abu Said Al-Khudri r.a).

Lalu, apa yang harus kita lakukan terhadap sikap para Ulama pemberani ini? Membiarkannya mereka berjuang sendirian? Tidak peduli karena tidak siap konsekuensi? Ikut mencela untuk menyelamatkan diri? Atau ikut memberikan dukungan, memviralkan, bahkan menatanya untuk membentuk kekuatan perjuangan Islam?

Semuanya adalah pilihan yang bisa kita ambil secara independen. Namun sebagai umat Rasulullah Saw yang berharap digolongkan ke dalam kelompok yang akan mendapatkan kemenangan, maka jawabannya hanya satu “turut serta menyebarkan kebenaran dan menjadi pembela para pejuangnya”.

Rasulullah Saw bersabda:
:عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُون
َDari al-Mughirah ibn Syu’bah, dari Nabi ﷺ beliau bersabda: Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela (kebenaran) hingga ketetapan Allah datang kepada mereka dan mereka dalam keadaan menang.

Wallaahu A’lam[]

%d blogger menyukai ini: