Perempuan hanya Aman dalam Naungan Islam

Oleh: dr Arum Harjanti

MuslimahNews, FOKUS — Awal bulan Juli lalu, Thomson Reuters Foundation mengumumkan hasil survei tentang negara yang membahayakan perempuan. Survei yang dilakukan.terhadap 554 pakar antara 26 Maret sampai 4 Mei 2018 itu menempatkan India pada peringkat pertama. Data pemerintah India memang menunjukkan setiap jam dilaporkan terdapat empat kasus pemerkosaan. Para pakar yang menjadi responden menyatakan, India berbahaya dalam sektor perdagangan manusia, perbudakan seks, hingga pembunuhan anak.

Kenyataan ini berbeda ketika survei serupa dilakukan pada 2011. Saat itu, India berada di peringkat keempat. Dalam surveinya, Thomson Reuters menganalisis enam isu: akses pelayanan kesehatan, diskriminasi gender, pelecehan seksual/non-seksual, tradisi seksis, maupun perdagangan manusia.

Pada survei yang sama, Amerika Serikat masuk dalam jajaran 10 negara dunia yang paling berbahaya untuk kaum wanita. Survei tersebut menempatkan AS sebagai satu-satunya negara demokrasi Barat yang berbahaya bagi perempuan karena mereka yang tinggal di sana dinilai sangat berisiko menghadapi pelecehan, pemaksaan, dan kekerasan seksual.

Wakil Presiden Eksekutif National Network to End Domestic Violence Cindy Southworth yang menjadi salah satu responden mengatakan tak mengherankan bila AS masuk dalam kategori negara yang berbahaya bagi wanita. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2016, lebih dari 1 dari 4 wanita di Washington DC, Amerika Serikat, telah mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual pada transportasi umum.

Kekerasan Masih Mengancam Perempuan

Kekerasan terhadap perempuan (KtP) rupanya masih menjadi persoalan global. Data WHO pada tahun 2010 menunjukkan, bahwa satu dari tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan. Bahkan di negara maju, 25 persen perempuan mengalami kekerasan, atau satu dari empat orang perempuan. Sementara di negara Asia dan Afrika, kekerasan terjadi pada 37 persen perempuan.

Dan hingga abad milenial ini, ternyata KtP makin mengerikan, sehingga Penghapusan KtP menjadi salah satu tujuan yang akan diwujudkan pada tahun 2030 dalam Sustainable Development Goal’s (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Bahkan Penghapusan KtP merupakan hal yang sangat penting untuk tercapainya tujuan ke 5, yaitu terwujudnya kesetaraan gender dan pemberdayaan semua perempuan.

KtP bahkan dianggap berpengaruh terhadap semua tujuan, karena pencegahan KtP akan berkontribusi terhadap tercapainya paling tidak enam tujuan dari 17 tujuan yang sudah ditetapkan, yaitu tujuan pertama, ke tiga, ke empat, ke enam. ke sebelas, dan ke enam belas.

UN Women memperkirakan 35 persen wanita di seluruh dunia telah mengalami kekerasan baik secara fisik dan / atau seksual pasangan intim atau kekerasan seksual oleh non-mitra pada suatu saat dalam kehidupan mereka. Beberapa penelitian nasional bahkan menunjukkan bahwa 70 persen wanita mengalami kekerasan fisik dan / atau seksual dari pasangan intim dalam seumur hidup mereka.
Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2014 oleh European Union Agency for Fundamental Rights di 28 negara anggota Uni Eropa, menemukan sekitar 8% perempuan pernah mengalaminya kekerasan fisik dan / atau seksual dalam 12 bulan terakhir sebelum wawancara survei, dan satu dari tiga perempuan telah mengalami beberapa bentuk fisik dan / atau seksual sejak usia 15 tahun. Satu dari 10 perempuan di Eropa telah mengalami beberapa bentuk kekerasan seksual sejak usia 15 tahun, dan satu dari 20 perempuan telah diperkosa sejak usia 15 tahun.

Di Perancis, ada 123 wanita yang dibunuh oleh pasangan mereka atau mantan rekan mereka pada tahun 2016. Di Inggris, jumlah pelanggaran terhadap perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan dan kekerasan seksual, naik hampir 10 persen pada tahun 2015-2016.

Kekerasan juga terjadi di negara Arab. Mesir menempati peringkat pertama sebagai negara Arab paling buruk bagi kehidupan perempuan dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation kepada 22 negara Arab pada tahun 2013. Tingkat pelecehan seksual dan kekerasan meningkat di Mesir, Khususnya setelah pemberontakan Musim Semi Arab (Arab Spring). Selain itu, hukum sangat diskriminatif dan ada lonjakan perdagangan perempuan di negeri itu.

Menurut survei tersebut posisi kedua negara terburuk adalah Irak, selanjutnya Arab Saudi, Suriah dan Yaman. Dan meski pada survei Thomson Reuters Foundation tahun ini Mesir tidak termasuk dalam 10 negara paling berbahaya untuk perempuan, namun dalam survei tahun 2017, Kairo menjadi kota paling tidak aman bagi perempuan
Di Indonesia KtP ternyata juga masih marak. Pencanangan Three Ends oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2016 adalah buktinya. Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan tahun 2018 mencatat jumlah kasus KtP yang dilaporkan pada Tahun 2017, meningkat sebesar 74 % dari tahun 2016.

Saat memberi sambutan di acara kampanye “Three ENDS” Puspa 2017 di Surabaya, Menteri PPPA Yohana Yembise menyatakan sekitar 24 juta perempuan di Indonesia mengalami kekerasan. Hasil pendataan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) yang dilakukan oleh BPS bekerja sama dengan Kementerian PPPA pada September 2016 menunjukkan satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual selama hidupnya, yang dilakukan oleh pasangan maupun selain pasangan, dan 1 dari 10 perempuan mengalaminya dalam 12 bulan terakhir. Dan dalam survei yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation pada tahun 2017 tentang kota yang berbahaya bagi perempuan, Jakarta menempati urutan ke sembilan.

Sudah banyak upaya untuk menghapuskan KtP, baik secara global maupun nasional. Diawali dengan CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) pada tahun 1979 dan the Beijing Platform for Action (BPfA) pada tahun 1985, yang kemudian diratifikasi oleh negara-negara anggota PBB. Namun rupanya semua tidak mampu mencegah apalagi memberantas terjadinya KtP. Kekerasan masih saja terjadi, termasuk di negara maju seperti Amerika, Inggris dan Perancis. Perempuan di berbagai negara Arab, yang mayoritas muslim, seperti Mesir, Saudi Arabia, Irak dan sebagainya, ternyata juga banyak mengalami kekerasan. Indonesia ternyata juga mengalami hal yang sama.

Melihat fakta KtP masa milenial ini, jelas ada kerusakan yang parah dalam masyarakat, yang nampak dari hilangnya kepedulian, rasa kemanusiaan dan penghormatan kepada sesama manusia, bahkan perlindungan kepada anak di bawah umur. Perempuan dan anak seolah tidak ada harganya, dan diperlakukan sekehendak hati seolah benda mati, bahkan dianggap sebagai komoditas yang diperjual belikan.

Kesenangan materi makin mendominasi pikiran mereka, dunia menjadi tempat untuk memenuhi semua keinginan, akhirnya menghalalkan semua cara, dan melanggar aturan yang ada. Inilah pemahaman kehidupan yang meniadakan keimanan kepada hari akhir dan menafikan adanya pertanggungjawaban kepada Tuhan di akhirat kelak. Sikap ini melahirkan aturan yang bersumber dari akal manusia, sebagai penentu segalanya dan mengabaikan aturan Sang Pencipta. Inilah sistem kapitalisme yang rusak dan merusak kehidupan manusia.

Bahwa KtP juga terjadi di negara-negara maju, negara yang dianggap sudah mencapai kesetaraan gender, mematahkan asumsi bahwa terwujudnya kesetaraan gender menghilangkan KtP. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender tidak menghapus KtP, bahkan makin menguatkan sesatnya pemikiran kesetaraan gender, yang lahir dari kapitalisme.

Sementara itu, fakta tingginya KtP di negeri Muslim seperti Saudi Arabia, Mesir dan Indonesia, makin menguatkan bahwa kapitalisme lah biang keladinya, karena sejatinya negeri-negeri Muslim itu juga menerapkan sistem kapitalis dalam mengatur urusan negerinya. Sistem kapitalislah yang mengharuskan sebuah negara harus menerapkan demokrasi. Sementara demokrasi mengharuskan aturan berasal dari suara mayoritas rakyat, dan menolak penerapan aturan Tuhan dalam kehidupan dunia.

Tingginya KtP ini menunjukkan lemahnya aturan yang lahir dari akal manusia. Buktinya, beragam konvensi, kesepakatan dan aturan tentang penghapusan tindak kekerasan, baik skala internasional, regional maupun nasional tidak mampu memberantas tuntas KtP dari masa ke masa, bahkan makin menyuburkannya, dengan jumlah dan bentuk kekerasan yang makin memilukan.

Oleh karena itu tuduhan Islam sebagai sumber kekerasan khususnya terhadap perempuan adalah tuduhan yang tidak berdasar. Dengan demikian jelaslah, tingginya KtP di berbagai penjuru dunia adalah buah penerapan kapitalisme.

Islam Melindungi Perempuan

Islam sungguh memuliakan perempuan. Perempuan sama seperti laki-laki di hadapan Allah, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13, yang artinya “Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa”. Kesadaran akan adanya pertanggungjawaban di akhirat menjadi pengikat bagi setiap Muslim untuk selalu taat pada aturan-Nya.

Islam memiliki seperangkat aturan yang akan melindungi perempuan. Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada perempuan, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729). Islam juga melarang perempuan berdua duaan dengan laki-laki tanpa ada mahram-nya, mewajibkan perempuan menempuh perjalanan 24 jam atau lebih bersama mahram, dan sebagainya.

Islam juga mewajibkan melindungi jiwa manusia, bahkan sejak dalam kandungan. Alquran mengibaratkan pembunuhan manusia tanpa alasan yang benar ibarat membunuh manusia seluruhnya. Islam juga menerapkan hukum qishash untuk pelaku pembunuhan, atau mengganti dengan diyat sebanyak 100 ekor unta jika keluarga yang dibunuh memafkan pembunuhnya.

Islam pun mewajibkan negara untuk melindungi rakyatnya, termasuk perempuan. Hal ini tercermin dalam tindakan Rasulullah SAW ketika ada seorang muslimah yang diganggu oleh laki-laki Yahudi Bani Qainuqa sehingga tersingkap auratnya. Rasulullah mengirim pasukan kaum muslim mengepung perkampungan Bani Qainuqa hingga menyerah, Rasulullah SAW mengusir mereka keluar dari Madinah. Kewajiban negara melindungi perempuan juga tercermin pada masa khalifah Mu’tashim Billah, khalifah ke delapan kekhalifahan Abbasiyah. Khalifah mengirim pasukan yang sangat besar untuk membela seorang Muslimah yang dianiaya oleh tentara Romawi di wilayah Amuriyah.

Demikianlah Islam menjamin keamanan perempuan. Penerapan aturan Islam secara kaffah, baik oleh individu maupun negara akan memberikan rasa aman bagi perempuan. Dan tak akan ada cerita deretan perempuan yang menjadi korban kekerasan saat Islam menegara dalam institusi Khilafah rasyidah, karena takwa menjadi sendi utama kehidupan bermasyarakat. Penguasa, pengusaha, aparat, dan seluruh rakyat –muslim dan non muslim- dikendalikan sistem yang menaruh hormat atas perempuan, karena merekalah ibu generasi. Wallahu a’lam.[]

%d blogger menyukai ini: