Alasan Pragmatis Negara Sekuler Batalkan Pernikahan

MuslimahNews.com — “Jika karena alasan di bawah umur yang katanya merampas hak anak, itu alasan pragmatis yang tidak proporsional. Fakta peceraian, KDRT, kemiskinan, dan lainnya, terjadi pada pasangan yang menikah di bawah usia 18 tahun dan di atasnya,” ungkap Ustazah Ratu Erma menanggapi pembatalan pernikahan sejoli muda di Kalimantan Selatan yang viral, Kamis (25/7/2018).

Menurutnya, yang menjadi penyebab semua itu bukanlah usia, tetapi didominasi faktor sistem di luar keluarga, yakni kemiskinan struktural yang menyebabkan ketidakmampuan keluarga untuk mendapat layanan pendidikan, kesehatan, tidak meratanya akses lapangan pekerjaan, pergaulan laki-laki dan perempuan yang bebas.

Lebih lanjut, Ustazah menjelaskan faktor internal penyebab maraknya perceraian yang terjadi, “Kurangnya pengetahuan agama tentang penunaian hak dan kewajiban suami-istri. Semua itu yang memicu persoalan rumah tangga.
Jika kita melihat keseluruhan hukum Islam dan fakta penerapannya, maka kita akan melihat ketika Allah SWT membolehkan pernikahan di awal usia baligh, maka ada serangkaian hukum lain yang mendukungnya.”

“Sistem pendidikan Islam memadukan tugas keluarga, masyarakat dan negara dalam mempersiapkan anak-anak menjadi dewasa dengan kesiapan matang. Di rumah, nenek dan ibu akan menyiapkan cucu atau putrinya mampu melaksanakan tatalaksana rumah tangga, membersihkan rumah, menata rumah, memasak, mencuci, menjaga adik, dan sebagainya,” tukas Ustazah lalu menjelaskan bahwa anak laki-laki dibina oleh ayahnya untuk mempunyai keterampilan.

Sekolah, lanjut Ustazah Ratu, menyiapkan kurikulum tatakelola rumah tangga, dan berbagai keterampilan untuk mengasah profesi peserta didik, negara menyelenggarakan sistem ekonomi, yang menjamin kebutuhan setiap individu masyarakat, baik pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lain-lain untuk menyejahterakan rakyat.

“Semua ambil peran secara terintegritas, tidak seperti hari ini yang masing-masing berjalan sendiri, di mana semua beban hidup diserahkan pada individu, sementara negara sibuk mengurusi kepentingan bisnis konglomerasi. Karena itu, kehidupan keluarga menjadi bermasalah. Beda jauh dengan paradigma, hukum dan aturan Islam yang menyiapkan kemampuan keluarga menjalani peran pentingnya di masyarakat. Karenanya, tidak ada polemik nikah dini dalam khazanah Islam,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Ai Maryati Solihah menanggapi adanya kabar viral tersebut. “Tidak lazim KUA mengawinkan anak-anak pada usia yang masih sangat kanak-kanak,” tulis Ai Maryati sebagaimana dikutip Health Liputan6.com melalui pesan singkat pada Sabtu (14/7/2018).[] MNews

%d blogger menyukai ini: