Pernikahan: Kurangi ‘Provokasi’ Perbanyak Edukasi

MuslimahNews, PERNIKAHAN — “Pak, saya mau tanya, ini ada ustaz yang menikah tapi kok baru beberapa bulan sudah bercerai? Bagaimana ini?” itu salah satu pertanyaan yang datang dari peserta akhwat #YukNgaji Kajian Pranikah akhir Desember tahun lalu. Saya sudah menduga akan ada pertanyaan semacam itu. Berita perceraian seorang ustaz muda yang kondang dengan istrinya jadi konsumsi berita gosip di akhir tahun kemarin. Keduanya sama-sama masih muda, luar biasa, tapi kemudian pernikahan mereka kandas hanya seumur jagung.

Saya tak akan cerita soal perceraian mereka ya, karena bagaimanapun juga itu adalah musibah. Mereka berdua juga tentu tak pernah berharap hal itu akan terjadi. Perceraian itu menyakitkan, apalagi bila kemudian menjadi konsumsi publik. Subhanallah!

Peristiwa tersebut semoga menjadi ibrah bagi kaum muda yang akan menikah, agar tidak tergesa-gesa, persiapkan diri sebaik mungkin, dan selalu jadi pribadi pembelajar. Bahwa pernikahan pasangan yang menikah harus belajar menghadapi persoalan kehidupan. Belajar mengelola emosi, dan terutama belajar hukum syara’ tentang pernikahan.

Bagi saya, yang sering diminta bantuan mengisi kajian-kajian pernikahan, hal ini adalah warning agar berhat-hati dalam menyampaikan tema pernikahan, terutama untuk kaum muda. Keliru berbicara, kajian pernikahan justru menjadi ajang ‘provokasi’ bukan edukasi. Ada beda antara keduanya, bagian yang pertama itu ‘manasi’ orang untuk segera menikah, kalau yang kedua mengedukasi orang agar cerdas dalam menikah dan menikah dengan cerdas. Untuk itu ada beberapa hal yang harus menurut saya harus kita lakukan bersama saat mengedukasi anak-anak muda dalam soal pernikahan:

1. Buat Cerdas

Amat penting bagi para penulis, trainer, motivator atau siapa saja untuk mencerdaskan anak-anak muda dalam soal pernikahan agar mereka dapat menikah dengan cara yang cerdas. Maksud cerdas di sini adalah paham seluk beluk pernikahan, hukum syara‘ seputar pernikahan, dan bisa mengelola konflik bersama pasangan.

Kalau hanya sekadar bicara romantisme menikah, tidak perlu jadi motivator, trainer apalagi jadi ustaz, penulis roman picisan juga bisa. Malah anak sekolah juga sudah pinter ngomong soal romantis. Tugas para pembicara jauh lebih berbobot; selain mendorong kaum muda untuk menikah tapi juga harus membuat mereka pandai menata rumah tangga.

2. Bukan hanya Romantisme

Jangan hanya cerita soal romantisme Rasulullah pada istri-istri Beliau, tapi sampaikan juga bahwa di antara mereka juga pernah terjadi persoalan sampai Allah menurunkan beberapa ayat seperti QS. At-Tahrim: 1 atau al-Ahzab: 28. Atau bagaimana Ummul Mukminin Aisyah ra. terkena fitnah keji dari kaum munafik sehingga sempat membuat limbung rumah tangga Nabi.

Tidak keliru sih kalau penulis, pembicara, motivator, atau ustaz sekalipun memilih tema romantisme rumah tangga Nabi ketimbang praharanya. Mungkin maksud mereka ingin membuat kaum muda yang tengah galau untuk menikah agar tidak takut dan bergegas menikah. Namun bila porsi itu dibesarkan, kita khawatir anak-anak muda ini menjadi kelewat mellow dan tak sanggup menata konflik pernikahan.

Begitu ketemu masalah yang muncul emosi dan depresi. Pernah nggak mereka diceritakan pasangan yang beberapa hari nggak makan karena nggak punya uang? Atau suami yang harus tidur di teras rumah karena sang istri ngambek? Atau istri yang nangis tiap malam karena suaminya nggak ngerti-ngerti perasaannya? Sesekali share atau cerita yang model begini agar kawula muda juga paham kalau pernikahan itu bukan hanya cool tapi cold alias bikin dingin hati.

3. Batasi Kisah Pribadi

Kebiasaan dan kesenangan beberapa pembicara, motivator, penulis juga ustaz sekalipun, menceritakan pengalaman pribadi kepada jamaah kawula muda. Maksudnya jelas, untuk menjadi pelajaran.

Salahkah ini? Nggak lah. Boleh saja. Pengalaman seseorang itu kadangkala bisa menjadi inspirasi kebaikan. Namun perlu diingat kasus setiap orang tidaklah sama dan resultan yang dihasilkan juga sering tak sama. Mungkin ada ikhwan yang begitu melamar akhwat langsung diterima dan jebret langsung dinikahkan oleh bapak tuh akhwat, bahkan dikasih modal dan dikasih rumah.

Tapi kan nggak semua ikhwan mengalami seperti itu. Ada yang ditolak berkali-kali, ada juga yang diterima tapi dengan syarat bermacam-macam. Sampai nyaris desperate melobi calon mertua.

Terus perlu diingat, pengalaman pribadi bukan dalil syara. Itu asli hanya pengalaman pribadi. Dalil syara‘ ya cuma empat; kitabullah, sunah, ijma‘ sahabat dan qiyas. Ini yang harus terus digali oleh para penulis, trainer, motivator dan ustaz untuk diambil hikmah dan hukumnya.

Kalau mau ditambah, tambahlah kisah orang-orang saleh dalam Alquran; ada kisah Nabi Luth dan Nabi Nuh, ada keluarga Imran, keluarga Ibrahim, dari para sahabat dan ulama salafus saleh yang insya Allah memang teruji kesalehan mereka.

4. Pernikahan itu Proses

Pahamkan pada jamaah dan siapa saja, khususnya kawula muda, bahwa pernikahan itu berproses seiring jalannya waktu dan keadaan. Tahun pertama, kedua, dst., selalu membutuhkan ilmu-ilmu baru. Begitupula saat punya anak akan berbeda dengan masih berdua, dst.

Jadi, pernikahan itu bukanlah resultan alias hasil, tapi sekali lagi, proses dan proses. Bila ingin proses itu berjalan baik maka harus dibarengi dengan ilmu dan kesabaran.

5. Ajarkan Pribadi Islam

Sabar, syukur, maaf memaafkan, qanaah, dll., adalah hal yang harus menjadi habit pasangan dalam pernikahan. Dengan begitu setiap persoalan dapat disikapi dengan akhlakul karimah.

Terakhir tapi amat penting, buat jamaah terikat dengan hukum syara’ karena di sanalah kebahagiaan dan persoalan dapat teratasi. Hukum tentang nusyuz, nafkah, berbakti pada orang tua, pengasuhan anak, dll.,

Sudah saatnya bahasan soal nikah nggak melulu romantisme seperti yang sering dibahas anak-anak muda hari ini. Kurangi obrolan bikin para jomblo makin baper dan kian kebelet untuk segera married. Misalnya; truk aja punya gandengan, masak kamu nggak! Gimana nggak makin pusing tuh kepala.

Membangun positif thinking tentang pernikahan itu harus dan bagus, tapi membuat para jomblo lalai dari sedia payung sebelum hujan, itu namanya gegabah. Saatnya para penulis, trainer, motivator dan para ustaz mencerdaskan kawula muda soal pernikahan, agar mereka cerdas saat bicara pernikahan dan menikah secara cerdas.[] Iwanjanuar.com

%d blogger menyukai ini: