Utang Luar Negeri, Pintu Masuk Neoimperialisme

Oleh: Hana Ummu Dzakiy (Pemerhati Sosial

MuslimahNews, ANALISA — Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia nyaris menembus 5000 T. Angka ini dinilai masih aman. Bahkan Bank Dunia masih akan mengutangi 4,2T untuk logistik maritim. Luar biasa! Sampai di angka utang berapa umat masih mampu diam? Padahal dolar AS semakin menguat. Artinya pembayaran utang luar negeri semakin mencekik karena bayar utang dan bunganya pakai dolar AS.

Terbaru, pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa 500 desa akan mendapat tambahan dana pinjaman sebesar 200 juta hingga 1 Milyar. Sayangnya, dana tersebut bukan dari pemerintah pusat tapi dari Bank Dunia. Kebijakan yang ngeri-ngeri sedap. Bukan hanya level negara yang terjebak utang LN tapi desa-desa akan ikut terlilit utang. Sangat mungkin Indonesia akan terjual karena tergadai utang.

Dengan adanya dana pinjaman desa ini akan menjadi jalan bagi investor asing masuk desa dengan dalih pembangunan desa. Lalu pemerintah lepas tangan. Semakin jelas arahnya, negeri ini semakin dicengkeram kapitalis liberal bahkan sampai level desa. Jangan-jangan ke depannya, level keluarga pun jadi sasaran empuk agar utang ke Bank Dunia.

Asosiasi perangkat desa harus menolak kebijakan racun yang berbalut madu ini. Kebijakan ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Bagaimana kalau besar pasak daripada tiang karena harus mengembalikan pinjaman dan bunganya? Jerat bunga bank (riba) sudah menyesakkan ketika di dunia. Bagaimana juga dengan balasan di akhirat? Belum lagi kalau dana cair akan rentan dikorupsi. Dipangkas sana sini sehingga untuk pembangunan sisa sedikit sekali.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, pernah menyampaikan bahwa menilai sehatnya sektor keuangan bukan jaminan suatu negara aman dari ancaman krisis. Salah satu ancaman datang dari aspek utang.

Beliau juga mengingatkan, utang pernah menjadi penyebab krisis suatu negara yakni Yunani. Krisis Yunani terjadi pada 2011, atau tak lama berselang dari krisis ekonomi 2008. Utang menjadi penyebab krisis karena rasio utang terhadap PDB yunani sebesar 177 persen. Artinya utang sudah terlampau besar. Inilah yang mengakibatkan Yunani kesulitan melunasi utangnya.

Utang Indonesia sudah pada level ngeri-ngeri sedap. Baik utang LN, utang BUMN, apalagi akan ditambah utang dana 500 desa. Penguasa memang masih berkilah bahwa kondisi masih baik-baik saja. Tapi itu hanya pemanis mulut. Sebenarnya mereka juga mengkhawatirkan hal yang sama dengan kita.

Sesungguhnya Presiden Jokowi pernah menyampaikan bahwa tidak akan menambah utang karena uangnya sudah ada. Nyatanya, utang terus bertambah dan sangat welcome ketika ditawari Bank Dunia. Next, jangan salahkan rakyat kalau sulit mempercayai penguasa.

Tingkat utang LN pemerintah yang tinggi bisa menurunkan pengaruh politis negara dalam percaturan global. Dari sinilah asing bisa mendikte sebuah negara yang mempunyai beban hutang sangat tinggi melalui syarat-syarat yang mereka ajukan dalam memberikan utang.

Lalu, apa solusinya agar negara tidak semakin terlilit utang? Jelasnya, tidak dengan mencetak uang karena hanya akan menyebabkan inflasi. Tidak juga dengan semakin menaikkan jumlah pajak beserta varian yang harus dibebani. Layaknya anggaran rumah tangga, ibu-ibu pasti meminimalisir pos pengeluaran agar utang tidak membengkak. Selain itu juga berusaha menambah pemasukan yakni memaksimalkan mengolah potensi SDA yang tersedia. Jadi, harusnya SDA itu tidak dikontrakkan kepada asing. Syariat Islam pun sudah mengaturnya dengan sangat rinci. Tinggal menunggu penguasa kita agar mau berendah hati untuk mempelajari, meyakini, dan mengamalkan untuk kemaslahatan umat.

Akhirnya, memang harus disimpulkan bahwa utang adalah jalan halus untuk semakin melanggengkan agenda penjajahan. Oleh sebab itu Islam mengharamkan negara memberi jalan pada orang kafir menguasai kaum Muslim melalui utang. Belajar dari sejarah, runtuhnya kekhilafahan Turki Ustmani, salah satunya adalah karena jebakan utang Luar Negeri. Mempertahankan negara dengan utang adalah jalan salah alamat?! Masihkah kita anggap jalan aman yang selalu diandalkan?![]

%d blogger menyukai ini: