Demokrasi, Politik PHP

MuslimahNews, EDITORIAL — Hingga 2019 nanti situasi politik di negeri ini nampaknya akan terus menghangat, bahkan bisa jadi sesekali memanas. Betapa tidak, berbagai kekuatan politik yang ada akan berusaha sekuat tenaga untuk merebut hati rakyat, agar di pilpres nanti sosok yang dijagokan memenangi pertandingan.

Pilkada yang hasilnya baru saja diumumkan tentunya menjadi pelajaran, dengan partai mana koalisi akan dilakukan, serta jagoan mana yang akan diusung. Dalam hal ini, tak tertutup peluang untuk merapat pada kubu yang sebelumnya menjadi lawan. Yang penting bisa menang.

Pada kondisi ini, kita akan melihat betapa batas-batas tegas perbedaan ideologi antar parpol tak lagi nampak. Termasuk pada parpol-parpol yang menyebut diri sebagai parpol Islam.

Mereka, baik parpol Islam maupun sekularis, kiri, tengah maupun kanan, seolah lebur dalam satu warna dan satu agenda perjuangan. Yakni perjuangan meraih ‘kepentingan’ yang dibungkus dengan merek dagang yang sama, “maslahat bangsa dan negara”.

Tentu saja bagi sebagian kalangan, terutama tokoh-tokoh dan aktivis Islam, hal ini akhirnya nampak seperti simalakama. Di satu pihak, mereka sadar bahwa sekularisme adalah biang kerusakan, sementara Islam adalah satu-satunya pilihan yang harus diperjuangkan. Namun di pihak lain, mereka menghadapi kenyataan bahwa sistem demokrasi meniscayakan demikian.

Fakta TGB (Tuan Guru Bajang) seharusnya cukup menjadi pelajaran. Bahwa politisi yang menjadikan demokrasi sebagai jalan perjuangan, memang tak bisa diharapkan siap berpegang teguh pada ideologi Islam, apalagi siap memperjuangkan penegakkannya. Kalaupun ada yang menyatakan siap berpegang teguh dan siap memperjuangkan Islam, maka bisa dipastikan, demokrasi tak akan pernah memberinya jalan untuk menang.

Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa demokrasi memang tak kompatibel dengan ideologi Islam. Demokrasi bahkan sejatinya akan berupaya memarginalkan peran agama Islam dari kancah kehidupan. Karena jika Islam diberi kesempatan memainkan peran politiknya secara penuh, maka sekulerisme dan prinsip-prinsip kebebasan yang menjadi nyawa demokrasi akan mati dengan sendirinya. Padahal atas semua kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat, hanya islamlah yang bisa diharapkan menjadi obat, sekaligus menjadi satu-satunya yang bisa mengembalikan umat ini pada jati dirinya yang asli, sebagai khairu ummah. Umat terbaik!

Alaa kulli haalin, di luar kasus TGB, masih banyak fakta yang menunjukkan tentang hakikat politik demokrasi yang sedemikian. Dalam sistem politik ini nampak jelas bahwa visi yang abadi hanyalah kepentingan melanggengkan sekularisme, bukan yang lain. Tak ada musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Demikianlah mantra suci demokrasi.

Itulah kenapa setiap kali musim kontestasi, kita melihat manusia-manusia yang tak jelas di mana dia berdiri. Agama dan simbol-simbolnya, lantas hanya menjadi alat legitimasi, atau bahkan menjadi alat manipulasi demi sekedar meraih kursi.

Hari ini di sini, besok di sana. Hari ini gabung dengan ini, besok menjadi lawan atau sebaliknya. Semua bermanuver demi kemenangan meraih kekuasaan. Namun kekuasaan yang bukan dipakai demi kemuliaan Islam atau umat islam, tapi demi kepentingan individu dan kelompoknya sendiri.

Sayangnya, umat masih belum menyadari bahwa ketika perjuangan menegakkan Islam hanya bertumpu pada orang, sementara jalannya lewat sistem rusak demokrasi, maka yang akan muncul adalah kekecewaan-kekecewaan. Dan faktanya telah banyak kasus yang seharusnya jadi pelajaran.

Begitupun, di antara mereka belum banyak yang menyadari bahwa tatkala mereka menginginkan perubahan ke arah Islam tapi target perjuangannya hanya mengganti orang, maka yang terjadi hanyalah perubahan parsial yang melanggengkan sistem rusak. Ini justru menjadi akar persoalan. Karena ajaran Islam malah menjadi solusi tambal sulam bagi sistem sekuler yang seharusnya segera ditumbangkan.

Oleh karenanya, jika para tokoh dan umat Islam betul-betul menginginkan Islam tampil kembali dalam kancah kehidupan, maka tak cukup hanya menyeru pada perubahan/pergantian orang. Tapi wajib bagi mereka menyeru pada target perubahan sistem dari sistem sekuler menuju tegaknya sistem Islam.

Untuk itu dibutuhkan pilar pengokoh perjuangan berupa keberadaan umat dan para tokoh yang sadar akan urgensi dan kewajiban penegakkan sistem Islam, hingga mereka siap memperjuangkannya secara bersama-sama. Di sinilah urgensi dakwah pemikiran yang fokus memahamkan umat dengan ideologi Islam, yakni Islam yang bukan hanya ritual, tapi Islam yang menjadi solusi atas seluruh problem kehidupan.

Perjuangan seperti ini tak akan mengenal musim sebagaimana politik demokrasi yang hanya mengenal musim politik 5 tahunan. Mencerdaskan umat dengan Islam justru menjadi PR harian para pejuang yang berkehendak mengembalikan umat pada kemuliaannya.

Dan inilah hakikat perjuangan politik Islam sesungguhnya sebagaimana yang dicontohkan baginda Rasulullah Saw. Beda jauh dengan politik kotor demokrasi, yang justru menjadikan Islam hanya sebagai permainan dan basa basi![]MNews

%d blogger menyukai ini: