Ancaman Krisis Identitas di Balik Fenomena Bowo dan Teknologi Tik Tok

MuslimahNews, EDITORIAL — Bowo. Nama itu tiba-tiba menjadi fenomenal. Ratusan ribu ABG terutama remaja putri pengguna aplikasi instagram seolah tersihir oleh pesona anak laki-laki berusia 13 tahun ini. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang kemudian menjadi fans fanatiknya.

Sebetulnya tak ada yang istimewa dari anak bernama asli Prabowo Mondardo ini. Tampilannya biasa-biasa. Dan tak ada satu prestasipun atau buah karya membanggakan yang telah dibuatnya.

Dia hanya tiba-tiba tenar, tersebab video aplikasi lypsinc lagu bernama Tik Tok yang dibuatnya banyak disukai para netizen alias peselancar di dunia maya. Jadilah dia selebgram baru, sebagaimana selebgram-selebgram lain yang pernah muncul sebelumnya.

Lantas apa yang membuatnya seolah istimewa?

Yang menjadikannya fenomenal adalah justru perilaku para fans fanatiknya, bukan semata sosok dirinya. Kerap di antara mereka mengekspresikan kecintaannya pada Sang Idola dengan cara yang tak masuk nalar, bahkan kontroversial.

Misalnya, ada beberapa fans yang entah serius atau tidak, menyerukan untuk membuat agama baru dan mendaulatnya sebagai tuhan. “Tidak ada tuhan selain Bowo,” begitu tulis salah seorang dari mereka. Ada juga seorang ABG yang tanpa sungkan-sungkan menulis rela pecah keperawanan asalkan yang melakukan adalah sang idola. Na’udzubillaah.

Tentu saja ekspresi-ekspresi semacam ini menuai pro dan kontra, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Tak sedikit pula kecaman yang disampaikan kepadanya.

Namun inilah yang justru menjadikan nama Bowo dan akunnya makin terkenal. Dan berbekal ketenarannya inilah, dia bisa beroleh banyak uang. Selain dengan mengendors beberapa produk fashion, dia juga kerap bekerjasama dengan EO melakukan acara meet and greet dengan menarik keuntungan dari tiket yang dijual dengan harga mahal.

Namun lagi-lagi bagi fans fanatiknya, harga mahal tak jadi soal. Demi bertemu dan selfie dengan Sang Idola, ada di antara mereka yang koar-koar siap menjual ginjal demi mendapati transport dan tiket berharga Rp80-100 ribu yang dipatoknya. Bahkan ada juga yang sampai berani mencuri Rp500 ribu uang ayahnya demi bisa mengikuti acara yang digelar.

Fenomena Bowo seperti ini tentu selayaknya membuat kita merasa miris. Bukan sekedar karena di sana ada soal penyalahgunaan teknologi, tapi karena fenomena ini menunjukkan bahwa krisis identitas sedang merusak generasi negeri Muslim terbesar ini.

Terlebih, bukan hanya seorang Bowo yang berhasil menuai kontroversi. Di dunia maya, banyak berseliweran video-video aksi para ABG yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Mulai dari video-video lebay remaja bercadar, video ABG yang mempermainkan ibadah salat, video tarian beberapa pasangan ABG yang berbau porno, hingga video ulah pelajar di hadapan jenazah yang semuanya cukup viral.

Ikhtiar pemblokiran aplikasi Tiktok oleh Kemeninfo beberapa hari lalu nampaknya juga tak mampu menyelesaikan persoalan krisis identitas yang sedang terjadi di kalangan remaja. Nyatanya, alih-alih didukung, ikhtiar ini malah menuai kritik dan perlawanan dari para pengguna Tik Tok yang kebebasan ekspresinya merasa terancam oleh kebijakan negara.

Bowo dan timnya, bahkan koar-koar siap menggelar aksi bela Tik Tok bersama 7 juta pelajar alay Indonesia. Mungkin pikirnya, dia bisa menyaingi Aksi bela Islam yang berhasil menggerakkan 7 juta umat Islam.

Jauh sebelumnya, Indonesia juga sempat digegerkan dengan munculnya selebgram kontroversial bernama Awkarin. Remaja yang dulunya digambarkan berhijab, tiba-tiba berubah menjadi ikon kebebasan remaja milenial. Kesehariannya diekspose sedemikian rupa dalam bentuk vlog. Termasuk kehidupan pribadi dan pergaulan dengan teman prianya yang nampak serba bebas merdeka. Sosok Karin saat itu, juga sempat menjadi idola sebagian remaja dan lagi-lagi dimanfaatkan oleh kepentingan bisnis melalui praktik endorsement yang kental dalam vlog yang dieksposnya.

Lantas, ada apa dengan generasi kita? Mau kemana mereka?

Nampaknya pertanyaan ini harus mulai serius kita baca dan kita coba temukan jawabannya. Mengingat bagaimanapun, potret remaja, sesungguhnya menggambarkan apa yang terjadi dengan masyarakat kita, sekaligus menggambarkan bagaimana potret masyarakat kita di masa yang akan datang.

Suka tak suka, rusaknya generasi hari ini memang merupakan cermin rusaknya masyarakat kita hari ini. Ekspresi kebebasan yang diagungkan oleh mereka adalah juga merupakan ekspresi kebebasan yang kini tengah diagungkan masyarakat kita.

Hal ini niscaya, mengingat kehidupan masyarakat hari ini sedang didominasi oleh paham sekulerulerisme yang menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Dari rahim sekulerisme ini, lahirlah paham-paham rusak dan merusak lainnya, termasuk paham kebebasan berperilaku dan berkeyakinan yang melahirkan krisis moral dan krisis identitas.

Paham kebebasan, membuat para penganutnya tak punya pegangan pasti. Penampilan bisa jadi islami, tapi pemikiran dan perilaku mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Atau yang lebih parah, mereka campakkan semua yang berbau agama, dan menjalani kehidupan semau mereka. Mereka kehilangan figur manusia sejati, dan beralih mendewakan diri sendiri atau orang-orang yang merepresentasikan visi hidup liarnya sendiri.

Celakanya, paham ini dipelihara bahkan tumbuh subur dalam habitat sistem demokrasi yang diterapkan dan dianggap sebagai sistem terbaik sekaligus berperadaban. Padahal sistem inilah yang meniscayakan negara lepas tangan dari urusan-urusan privat, termasuk urusan moral masyarakat.

Bahkan, kebijakan-kebijakan negara yang mengatur urusan keyakinan dan akhlak, akan terus dianggap tabu dan dipandang sebagai bentuk kekerasan. Tak boleh yang disebut dengan agama, termasuk nilai-nilai moral di antaranya, mengintervensi kebijakan-kebijakan publik yang diterapkan. Itulah kenapa pendidikan agama makin hari kian di anak tirikan, termasuk dalam sistem pendidikan yang sejatinya merupakan pilar peradaban.

Inilah jawaban mengapa masyarakat kita seolah tak punya benteng penyangga. Negara, begitu lemah supporting system-nya di hadapan semua kerusakan yang mengancam rakyatnya. Bahkan negara tanpa sadar telah melegitimasi penyimpangan yang terjadi melalui sistem sosial dan hukum mandul yang diterapkannya.

Di pihak lain, rakyat akhirnya berjalan sesuai kecenderungannya, bukan berdasarkan norma yang diakui bersama. Yang baik berusaha sendiri agar terus menjadi baik. Yang rusak, dengan bebas melakukan kerusakan bahkan memapar orang-orang baik dan merusak ikhtiar mereka untuk menjadi orang-orang yang baik.

Dampak dari ini semua adalah munculnya generasi yang bisa jadi pintar secara nalar, tapi minus dari peradaban mulia. Mereka pandai, tapi kriminal. Mereka cerdas, tapi bergelimang maksiat. Fungsi kontrol masyarakat pun, kian melemah. Amar ma’ruf nahi munkar justru dianggap ancaman bagi masyarakat.

Betapa nampak kerusakan akibat paham sekuler dan sistem hidup rusak bernama demokrasi. Ini dipastikan akan terus bertambah parah hingga umat ini kehilangan kekuatan dan kesempatan untuk menjadi umat terbaik di masa depan. Umat ini akan terus menjadi bangsa pembebek, bahkan menjadi obyek penjajahan sebagaimana sekarang.

Dengan demikian, sudah saatnya kita campakkan keduanya, dan kembali berpegang teguh pada tali agama Allah yang telah terbukti menyelamatkan. Bahkan tali inilah yang membuat umat ini kuat, dan tampil sebagai umat terbaik belasan abad lamanya. Saat itu, generasi muda Islam menjadi ikon kebaikan dalam segala urusan. Bahkan menjadi penopang tegaknya masyarakat Islam dengan institusi politiknya yang bernama Khilafah Islamiyah. Saatnya selamatkan generasi dengan syariat dan Khilafah.[]MNews

%d blogger menyukai ini: