Bowo Tik Tok dan Fans, Generasi Rapuh Korban Sistem Kapitalisme Sekuler

MuslimahNews.com — Fenomena Bowo yang viral via aplikasi Tik Tok membius kalangan remaja putri, ini sangat membuat miris hati. Itulah yang diungkapkan oleh Yusriana, Pemerhati Generasi, kepada MNews, Kamis (5/7/2018). “Ini bukti semakin menjamurnya generasi alay yang abai terhadap identitas dirinya. Lihatlah bagaimana para ABG yang mayoritas Muslimah rela melakukan aksi nekat di luar nalar. Di antaranya rela menjual ginjal demi bertemu Bowo. Bahkan ada yang lebih gila lagi dengan menyatakan ‘rela tidak masuk surga, asalkan perawanku pecah sama Bowo.’”

Menurutnya, Bowo hanyalah satu dari sekian banyak korban kemajuan teknologi yang kebablasan, sementara fansnya adalah korban rusaknya sistem sekular yang mengagungkan kebebasan. Dia katakan, “Sistem sekuler yang diterapkan saat inilah sumber dari berbagai kerusakan yang menimpa generasi. Karena agama dijauhkan dari berbagai sendi kehidupan, sehingga agama tidak menjadi benteng pemahaman dan perilaku remaja saat ini. Hasilnya, generasi zaman now pun sangat mudah terjerumus pada perilaku negatif termasuk gaya fanatik buta pada profil figur sang idola.”

“Faktor lain yang berkontribusi besar merusak generasi ini adalah penerapan sistem kapitalisme yang selalu berhasrat meraup keuntungan besar,” kata Yusriana. Dia lalu menjelaskan bahwa penggunaan media yang menguntungkan para kapitalis tidak selalu memperhatikan bagaimana dampak media itu bagi generasi.

“Penggunaan media tanpa batas terutama sosmed di kalangan remaja terus dieksplor untuk memenuhi hasrat para kapital. Terbukti saat aplikasi Tik Tok sejenak diblokir, namun karena desakan para kapitalis yang tak ingin merugi akhirnya aplikasi ini dibuka kembali aksesnya dengan catatan memperbaiki konten aplikasi,” tukas Yusriana.

Padahal, menurutnya, perbaikan konten tak menjamin remaja tidak melakukan hal sia-sia, bahkan berperilaku liberal tersebab maraknya aplikasi serupa.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa jika penguasa serius terhadap generasi ini, maka seharusnya ada kontrol yang ketat terhadap semua media yang diakses remaja. “Konten negatif bukan hanya ada di aplikasi Tik Tok. Bertebaran aplikasi lain di dunia maya yang lebih merusak remaja dan begitu mudahnya mereka akses selama ini. Berapa banyak lagi remaja yang akan terjerumus akibat liberalisasi agama dan budaya lewat media?”

Tentu kita ingin ini semua segera berakhir, kata Yusriana, maka sistem kapitalis-sekuler sudah selayaknya dicampakkan dan beralih kepada sistem Islam yang akan memberikan kemaslahatan bukan hanya pada para remaja bahkan bagi seluruh umat manusia.[]MNews

%d blogger menyukai ini: