Menumpuk Utang Luar Negeri: Menancapkan Hegemoni Asing

Oleh: Nabila Asy- Syafi’i

MuslimahNews.com — Terkait dengan utang Negara Indonesia, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2018 tercatat sebesar USD356,9 miliar atau setara Rp4.996 triliun (dengan asumsi nilai tukar Rupiah Rp14.000 per USD). Dengan demikian, rasio utang Indonesia tercatat kisaran 34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). (Kompas)

Namun menurut Gubernur BI Perry Warjiyo pertumbuhan utang ini masih dalam batas aman, yakni di bawah 60% dari PDB. Oleh sebab itu, menurutnya tak bisa hanya melihat dari sisi nominal utang. “Rasio terhadap PDB masih cukup aman baik yang (utang luar negeri) pemerintah maupun swasta. Jadi jangan lihat nominalnya tapi ukurannya (terhadap PDB). Satu dolar sekarang kan beda dari satu dolar yang 10 tahun lalu, harus lihat dari ukuran PDB,” ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (22/6/2018). (Kompas)

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut total utang Indonesia yang mencapai Rp4.180 triliun hingga akhir April 2018 masih berada di bawah batas aman. Dengan asumsi Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini sebesar Rp14 ribu triliun, batas aman utang Indonesia sesuai Undang-Undang (UU) mencapai Rp8.400 triliun. (CNN Indonesia)

Benarkah utang yang nominalnya sudah sangat banyak, bahkan menghitung nol dibelakangnya saja sudah kerepotan masih dianggap aman? Terlebih utang tersebut berdasarkan riba? Bagaimana seharusnya kita bersikap terkait dengan utang? Tulisan ini akan membahas dari tinjauan hukum syariat Islam.

Utang yang Membelenggu

Tentang utang, Baginda Rasulullah Muhammad Saw senantiasa berdoa dan memohon perlindungan pada Allah SWT dari jeratan utang:

الّلهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرّجَالِ
Artinya : “ Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesusahan dan kedukaan, aku berlindung kepadaMu dari lemah dan malas, dan aku berlindung kepadaMu dari takut (miskin) dan kikir, aku berlindung kepadaMu dari banyaknya utang dan paksaan orang-orang.

Dalam doa tersebut Rasulullah mengawali dengan kalimat الّلهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ (Ya Allah aku berlindung kepadaMu), menunjukkan bahwa kita meminta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang tidak baik, yang membahayakan, termasuk di dalamnya berlindung dari banyaknya utang.

Meski utang yang bukan riba bukan hal yang dilarang, namun utang bukanlah hal yang baik. Orang yang berhutang adalah miskin, fakir meski kelihatan kaya dan beduit. Dengan berutang maka orang tersebut akan merasa terbelenggu, tidak bebas leluasa, merasa malu bertemu dengan orang yang mengutanginya, hidupnyapun jauh dari ketenangan. Terlebih jika utang yang diambil adalah utang riba, bukan saja tidak tenang di dunia, namun juga telah menjerumuskannya pada dosa besar yang akan menuai azab berat di akhirat kelak.

Islam Mengharamkan Utang Riba

Islam telah mengharamkan riba. Bahkan menggolongkannya sebagai salah satu dosa besar. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran:

وأحل الله البيع وحرم الربا
Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al-Baqarah: 275).

Rasulullah Saw bersabda:
الربا ثلثة وسبعون بابا وأيسرها مثل أن يكح الرجل أمه

Riba itu mempunyai 73 macam dosa. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri…” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim, dari Ibnu Mas’ud)

Utang luar negeri, jelas membawa bahaya bagi negara peminjam. Karena utang dijadikan sarana untuk mendominasi, mengeksploitasi dan menguasai kaum Muslim.

Kaidah syara’ menetapkan :
الوسيلة إلى الحرام محرمة
Segala perantaraan yang membawa kepada yang haram, maka ia diharamkan

Allah SWT berfirman:
ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا
Dan sekali-kali Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum mu`minin.” (Qs. An-Nisaa: 141)

Dengan demikian mengambil utang riba harusnya tidak dilakukan, baik oleh pribadi terlebih oleh Negara, karena termasuk aktivitas dosa besar yang diancam oleh Allah dengan azab neraka. Di samping berdampak negatif dan membahayakan.

Bahaya Utang Luar Negeri

Sebagai pejabat negara, tidak sepatutnya menyatakan bahwa utang Indonesia meski secara nominal sekitar Rp4000 T, namun masih dalam kategori aman, karena menurut Undang-undang jika di atas Rp8400 T baru dikatakan tidak aman. Padahal utang seberapapun besarnya tetaplah utang yang harus dikembalikan.

Namun dalam sebuah tatanan negara demokrasi kapitalis, negara berutang kepada negara lain adalah keniscayaan, tak terkecuali di negeri ini. Paradigma salah tentang utang telah menjeruskan negara dalam cengkeraman utang luar negeri yang entah sampai kapan bisa keluar.

Utang luar negeri dianggap sebagi pendapatan negara dan dimasukkan ke dalam pos pendapatan Negara. Kucuran utang dianggap sebagai bentuk kepercayaan luar negeri terhadap pemerintah, sehingga semakin banyak utang semakin tinggi kepercayaan terhadap negeri ini.

Padahal utang luar negeri sangat berbahaya bagi negara yang berutang. Setidaknya ada 5 bahaya besar bagi negara yang mendapat kucuran utang sebagaimana diungkapkan oleh Abdurrahman Al Maliki dalam kitabnya “Politik Ekonomi Islam“:

Pembiayaan proyek-proyek milik Negara dari ULN (Utang Luar Negeri) membahayakan eksistensi negara itu sendiri, karena ULN sebagai sarana untuk menjajah suatu negara. Masyarakat tidak semakin makmur, namun sebaliknya semakin menderita dan merana. Seperti kita pahami bahwa Mesir dijajah Inggris melalui jalur utang. Begitu pula Tunisia dicengkeram Perancis melalui jalan utang.

Tentu sebelum utang diberikan, negara-negara donor akan berusaha untuk mengetahui kapasitas dan kapabilitas sebuah negara yang berutang dengan cara mengirimkan pakar-pakar ekonominya agar bisa memata-matai rahasia kekuatan/kelemahan ekonomi negara tersebut dengan dalih bantuan konsultan teknis atau konsultan ekonomi.

Saat ini di Indonesia, sejumlah pakar dan tim pengawas dari IMF telah ditempatkan pada hampir semua lembaga pemerintah yang terkait dengan isi perjanjian Letter of Intent (LoI). Ini jelas berbahaya, karena rahasia kekuatan dan kelemahan ekonomi Indonesia akan menjadi terkuak dan sekaligus dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan berbagai persyaratan (conditionalities) pemberian pinjaman yang sangat mencekik leher.

Rakyatpun menjadi melarat karena terjadi pemotongan berbagai subsidi. Seperti subsidi bahan pangan, pupuk, dan BBM yang pada akhirnya hanya menguntungkan pihak negara-negara donor, sementara Indonesia hanya dapat gigit jari dan menelan kepahitan ekonomi.

Pemberian utang adalah sebuah proses agar negara peminjam tetap miskin, tergantung dan terjerat utang yang makin bertumpuk-tumpuk dari waktu ke waktu.

Utang luar negeri yang diberikan adalah senjata politik negara-negara kapitalis kafir Barat kepada negara-negara lain, yang kebanyakan negeri-negeri Muslim, untuk memaksakan kebijakan politik, ekonomi, terhadap kaum Muslimin.

Tujuan mereka memberi utang bukanlah untuk membantu negara lain, melainkan untuk kemaslahatan, keuntungan, dan eksistensi mereka sendiri. Mereka menjadikan negara-negara pengutang sebagai alat sekaligus ajang untuk mencapai kepentingan mereka.

Dokumen-dokumen resmi AS telah mengungkapkan bahwa tujuan bantuan luar negeri AS adalah untuk mengamankan kepentingan AS dan mengamankan kepentingan “Dunia Bebas” (negara-negara kapitalis). Jadi, tujuan pemberian bantuan luar negeri tersebut sebenarnya bukan untuk membantu negara-negara yang terbelakang, melainkan untuk menjaga keamanan Amerika dan negara-negara kapitalis lainnya.

Utang luar negeri sebenarnya sangat melemahkan dan membahayakan sektor keuangan (moneter) negara pengutang. Utang jangka pendek, berbahaya karena akan dapat memukul mata uang domestik dan akhirnya akan dapat memicu kekacauan ekonomi dan keresahan sosial. Untuk utang jangka panjang, juga berbahaya karena makin lama jumlahnya semakin mencengkeram, yang akhirnya akan dapat melemahkan anggaran belanja negara dan membuatnya makin kesulitan dan terpuruk atas hutang-hutangnya. Di situlah negara-negara donor makin memaksakan kehendak dan kebijakannya yang sangat merugikan kepada negara.

Penutup

Harus ada upaya untuk menyadarkan umat bahwa utang bukanlah sumber pendapatan, justru jeratannya telah merampas keamanan, mengancam kedaulatan sebagai bangsa, serta bisa menjadi pintu masuk penjajahan asing. Terlebih utang riba, selain sumber kesulitan dan kesengsaraan hidup juga akan mengundang datangnya azab Allah SWT.[]

%d blogger menyukai ini: