Gas Nonsubsidi Dipasok 1 Juli, Pengamat: Zalim!

MuslimahNews.com — Gas elpiji 3 kilogram nonsubsidi akan serbu pasar nasional, hal ini dipastikan oleh Plt Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, “(Elpiji non-subsidi jadi dijual) per 1 Juli 2018. (Teknisnya) ya dijual aja tapi ini tidak disubsidi,” ujarnya saat ditemui Detik dalam acara halalbihalal di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (22/6/2018).

Nicke katakan, elpiji ini nantinya akan dijual bebas kepada masyarakat. Artinya baik masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun yang mampu bisa membelinya.

Pengamat ekonomi, Nida Saadah SE Ak MEI kepada MNews (30/6/2018) menjelaskan, “Kreatifitas policy maker di negeri ini dalam mengatur penjualan energi memang luar biasa. Banyak ragam cara sudah dilakukan dalam mendistribusikan energi yang berangsur-angsur membuat masyarakat menerima (baca:pasrah) bahwa energi bukan barang yang murah. Termasuk dengan langkah terbaru, menjual gas elpiji 3 kg dengan istilah harga jual nonsubsidi. Yang tentu saja lebih mahal daripada tabung melon 3 kg.”

Menurutnya, migas bukanlah aset milik negara, bukan pula aset milik korporasi. Migas termasuk LPG di dalamnya, adalah sumber daya alam milik umat. Lalu dia katakan, “Syariat Islam yang diturunkan dari Allah SWT Sang Pencipta bahan baku energi, justru menetapkan bahwa barang tambang adalah jenis barang milik umum atau milkiyyah ‘aammah.”

Masyarakat berhak untuk menikmatinya, kata Nida, karena mereka adalah pemilik sejatinya. Menghalangi masyarakat dalam menikmati barang miliknya adalah kezaliman yang besar, yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Nida lalu menanggapi dalih subsidi salah sasaran dan lainnya sebagai pertimbangan kebijakan gas nonsubsidi ini, “Kenapa tidak diselesaikan dari akar masalah energinya? Tentang ketersediaan energi, kenapa justru masyarakat luas dipaksa berpindah ke elpiji tanpa mempertimbangkan kapasitas kilang minyak di Indonesia? Sehingga harus mengirim minyak mentah ke Singapura untuk diolah menjadi LPG.”

Lebih lanjut dia mempertanyakan kenapa pemerintah tak mengembangkan inftrastruktur untuk energi? Kenapa tidak mengembangkan energi alternatif baru atau terbarukan. Sementara ada LNG yang produksinya setara dengan 700 ribu barel minyak/hari.

“Dibutuhkan mindset baru dalam mengelola energi di negeri ini. Dibutuhkan negara yang berpandangan bahwa hubungan mereka dengan rakyat adalah melayani, bukan berbisnis. Dibutuhkan negara yang menolak skenario asing, menindak spekulan, membuat tata kota dan perilaku yang tidak boros energi. Negara yang aktif mengembangkan riset energi alternatif. Dan Negara Khilafah Islam yang tegak diatas manhaj kenabian, adalah jawaban dari semua itu,” tukas Nida Saadah.[]

%d blogger menyukai ini: